“Jangan pernah membenci Mamak kau, Eliana. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya hanya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya pada kalian.”
“…. pernahkah kau memperhatikan, bukankah Mamak kau yang terakhir bergabung di meja makan? Bukankah Mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai atau sayur? Bukankah Mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah Mamak kau yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah Mamak yang terakhir kali beranjak istirahat? Setelah kalian semua istirahat? Bukankah Mamak kau selalu yang terakhir dalam tiap urusan?”
“Dan Mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang pertama bangun. Dia yang pertama membereskan rumah. Dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel. Dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja….”
(Eliana: 390, Tere-Liye)
Hiks… sedih baca dialog ini… Langsung banjir air mata. Tiba-tiba teringat ibuku. Teringat juga sabda Rasulullah yang mulia bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Oh, ibuuuuuuuuuuuuuuuuu…
Ibuku sayang, kau telah banyak berkorban demi anak-anakmu. Dengarlah, wahai ibu, kami akan berusaha menjadi anak yang bisa kau banggakan. Kami akan berupaya semampu dan sebisa kami. Tentu, itu akan terwujud dengan iringan doamu.
Ibu sayang, hanya kebahagiaanmu yang kami nantikan. Sungguh, senyummu adalah pelipur duka lara kami. Maafkan kami, anak-anakmu yang belum bisa membalas jasamu. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu. Semoga Dia selalu melindungi dan menjagamu untuk kami. Amin.









0 komentar:
Posting Komentar