RSS
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

RESENSI FILM GARUDA DI DADAKU




Jenis film: drama
Genre: anak-anak
Produksi: SBO Film Dam Mizan Production
Produser: Shanty Harmayn
Sutradara: Ifa Isfansyah
Penulis: Salman Aristo
Pemain: Emir Mahira (Bayu)
               Aldo Tansani (Heri)
               Marsha Aruan (Zahra)
               Ikranagara (Kakek Usman)
               Maudy Koesnaedi (Wahyuni)
               Ary Sihasale (Pak Johan)
               Ramzi (Bang Duloh)
Durasi: 1 jam 36 menit
Rilis: 18 Juni 2009 

GARUDA DI DADAKU:
BOLA MANIS BAYU 

Film Garuda di Dadaku karya sutradara muda Ifa Isfansyah ini bertema sepak bola. Film ini diharapkan menjadi salah satu media untuk menghibur masyarakat terutama anak-anak pada saat liburan sekolah. "Ini adalah salah satu bentuk mengekspresikan sebuah realitas yang ada di lapangan ke layar film. Film ini kami harapkan sukses seperti film-film lainnya," kata Produser Eksekutif Mizan Production, Putut Widjanarko. 


Latar Belakang Film
Film ini merupakan hasil kerja sama antara Mizan Production, Unilever dalam hal ini Lifebuoy Shampoo, serta SBO Production. Lokasi pengambilan gambar sendiri dilakukan di beberapa tempat di Jakarta. 


Adegan Awal
Adegan awal, mengiringi judul dan credit title, menggambarkan Bayu (Emir Mahira) dengan lincah menggiring bola di gang sempit rumahnya menuju ke lapangan bulu tangkis di lingkungan gang tersebut. Kamera bergerak sama lincahnya dengan dribble bola Bayu. Lagu pengiring rancak. Penonton diajak masuk ke dunia Bayu yang dekat dengan keseharian masyarakat, sekaligus diajak menonton keistimewaan bocah satu ini. 


Sinopsis
Bayu, yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar, memiliki satu mimpi dalam hidupnya, yaitu menjadi pemain sepak bola hebat. Setiap hari dengan penuh semangat, ia menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya sambil men-dribble bola untuk sampai ke lapangan bulu tangkis dan berlatih sendiri di sana.  

Bayu hidup bersama ibu dan kakeknya. Bapak bayu adalah penggila bola yang telah meninggal dunia karena kecelakaan. Bapak bayu adalah penggemar bola yang sering bermain bola hingga suatu hari mengalami cedera di kaki sehingga tidak bisa melanjutkan kembali hobi lamanya dan berakhir dengan menjadi sopir taksi. Bapak bayu meninggal saat sedang bertugas sebagai sopir taksi. Rasa kehilangan kakek Bayu menjadikan bola (yang membuat bapak Bayu cedera hingga berakhir menjadi sopir taksi dan mengalami kecelakaan) sebagai alasan kematian anaknya. Trauma akan hal tersebut menyebabkan kakek bayu tidak menyukai siapa pun dalam keluarganya untuk bergelut dengan sepakbola, terutama Bayu.  

Itulah alasan sebenarnya kakek Bayu, Pak Usman, menentang impian Bayu. Ia pun berdalih bahwa menjadi pemain sepak bola identik dengan hidup miskin dan tidak punya masa depan. Bahkan, ia tidak akan mengakui Bayu sebagai cucu jika Bayu nekad menjadi pemain bola. Sebagai cucu yang baik, ia pun taat kepada sang kakek dengan mengikuti berbagai les yang dipersiapkan kakek. Akan tetapi, darah sang ayah pecinta bola turut mengalir dalam dirinya sehingga ia sering mencuri waktu untuk berlatih dan bermain bola bersama teman-temannya. 

Bayu memiliki teman dekat yang senantiasa mendukungnya. Heri, sahabat Bayu penggila bola, sangat yakin akan kemampuan dan bakat Bayu.  Dialah motivator dan ”pelatih” cerdas yang meyakinkan Bayu agar mau ikut seleksi untuk masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya akan mewakili Indonesia berlaga di arena internasional. 

Di tengah upaya kakek Usman mendidik Bayu menjadi orang sukses lewat beragam kursus, Bayu justru bertemu dengan Johan (Ari Sihasale), pelatih sekolah sepakbola Arsenal di Jakarta. Pertemuan ini menjadi langkah awal bagi perjalanan panjang Baju untuk masuk menjadi tim sepak bola nasional yang memakai seragam berlambang garuda di bagian dada.

Dibantu teman baru bernama Zahra yang misterius, Bayu dan Heri harus mencari berbagai alasan agar Bayu dapat terus berlatih sepak bola. Akan tetapi, hambatan demi hambatan terus menghadang mimpi Bayu. Bahkan, persahabatan tiga anak itu terancam putus. 


Keunggulan
Film ini bercerita tentang olahraga bola yang memang digandrungi oleh segala usia, semua kasta, berbagai warna kulit, dan berbagai negara sehingga menjadikan film ini meraih animo tinggi dari masyarakat. Bola yang masih dikritik beberapa pihak sebagai hal yang membosankan dan kurang bermanfaat karena hanya menghabiskan waktu tidur malam saja ternyata bisa memberikan makna dari sisi lain yang berbeda.

Film Garuda di Dadaku menyimpan hikmah yang berharga, di antaranya mengajarkan kita untuk terus mengejar impian dan menjaganya meski aral melintang. Jika kita yakin dan mampu, teruslah jaga keyakinan itu. Sesungguhnya kesuksesan juga bisa diraih melalui mimpi yang berawal dari hobi.

Film ini menggambarkan realita kehidupan seorang anak dalam mencapai impiannya meskipun mimpi itu sederhana. Garuda di Dadaku memberi suguhan yang lengkap dengan berbagai factor, yaitu berkualitas, menyentuh, menghibur, sekaligus menginspirasi. 

Garuda Di Dadaku menyajikan sebuah cerita yang sederhana namun berisi. Mengisahkan pertarungan dua kepentingan antara dua generasi. Olahraga sepakbola menjadi cantolan untuk mengaitkan tema besar tersebut. Film ini diramu dengan begitu apik, didukung permainan yang gemilang, plot cerita yang matang, cinematografi, dan editing yang terjaga. Hasilnya? Garuda Di Dadaku tak ubahnya sebuah masakan yang racikan bumbunya terasa pas. Ada haru, kadang juga tawa. Pada bagian ini, apresiasi, lagi-lagi layak diberikan kepada Ramzi, yang kali ini berperan sebagai Bang Duloh. 

Akting aktor cilik pendatang baru Emir yang memang memiliki kemampuan memainkan si kulit bundar membuat Garuda di Dadaku menjadi lebih nyata. Ditambah dukungan dari aktor-aktris kelas wahid, seperti Ikranagara dan Maudy, yang membuat kualitas film ini patut mendapat acungan dua jempol. 

Suntikan kekuatan juga datang dari soundtrack film yang begitu penuh warna dihadirkan pasangan suami istri penata musik, Aksan Sjuman dan Titi Sjuman. Music Score yang mereka hadirkan membawa penontonnya pada suasana batin yang riuh. Hal ini makin terasa dihadirkan lewat lagu Garuda Di Dadaku yang notasinya mengambil lagu daerah asal Papua, Apuse, yang diaransemen dan dibawakan grup rock Netral. Ia berhasil membangun suasana yang terasa bergelora mengiringi semangat Bayu dalam menggapai mimpinya. 


Inti cerita
Inti cerita film ini tak hanya memuat unsur perjuangan seorang anak untuk menggapai mimpinya, nilai-nilai persahabatan juga ditanamkan lewat hubungan Bayu dengan Heri. Meskipun mempunyai hambatan berupa cacat fisik, Heri mampu berperan sebagai sahabat sekaligus manajer Bayu. 


Teknis penyajian
Ifa Isfansyah, sang sutradara, dengan cantik mencicil informasi soal tokoh-tokoh dalam film yang mulai diputar 18 Juni 2009 itu. Semua datang satu demi satu, tanpa narasi yang mendeskripsikan ini-itu, dari nama para tokoh, peran-peran mereka, keberpihakan, hingga detail-detail yang memperkaya karakternya.

Wahyuni, misalnya, cukup berucap, "Nyari downline sekarang susah. Orang tidak percaya MLM seperti dulu." Penonton pun jadi tahu apa yang (sempat) ia lakukan untuk menyokong hidup.

Ifa juga tak menyia-nyiakan "celah" yang masih bisa diisi. Ada adegan saat Wahyuni, misalnya, berkata di telepon, "Besok, jam 15.57." Ini sebuah sindiran terhadap "budaya" jam karet. Ada pula adegan bola yang ditendang Bayu mendarat di poster calon legislator, tepat di wajah, serta adegan melintas di tepi busway yang porak-poranda.

Sebagai film anak-anak, Garuda di Dadaku mencoba membangkitkan semangat cinta Indonesia melalui sepak bola. Penonton akan mudah tergiring ke suasana patriotik ketika menyaksikan adegan Bayu yang mengenakan seragam tim nasional berdiri di tengah lapangan berumput hijau. Dari situ penonton akan menyadari betapa bangganya menyandang garuda di dada. Sebenarnya rasa nasionalisme telah terasa sejak awal film dimulai dengan diperdengarkannya theme song film ini.  


Adegan dramatis
Tak lupa, sindiran terhadap pemangku pemerintahan juga terselip dalam film ini. Ambil contoh, adegan yang menceritakan kesulitan Bayu dan rekannya mencari lapangan sepakbola untuk berlatih sehingga mereka berlatih di pekuburan. 


Penghargaan yang pernah diraih
Film Garuda di Dadaku menjadi film pembuka pada Film Festival Anak-anak dan Remaja Hamburg, Michel Kinder und Jungen Filmfest, yang untuk pertama kalinya dilaksanakan di bioskop terbesar, Cinema XX Damtor, di kota Hamburg. Film ini mendapat sambutan dan apresiasi dari penyelenggara festival, pemerhati film, artis setempat, dan penonton.

Film ini mendapat penghargaan khusus sebagai film anak-anak terbaik pada Festifal Film Indonesia (FFI) 2009. Selain itu, lagu Garuda di Dadaku (dinyanyikan Netral) yang populer lewat soundtrack film ini mendapat penghargaan dalam MTV Indonesia Award 2009 sebagai the best original soundtrack, Rabu malam, 25 November 2009.

RESENSI FILM LASKAR PELANGI


LASKAR PELANGI
Sepuluh Anak Pemberi Inspirasi


Jenis Film: Drama
Produser: Mira Lesmana
Produksi: Miles Films & Mizan Production
Sutradara: Riri Riza
Pemain: 
           Cut Mini 
           Ikranagara
           Tora Sudiro
           Slamet Rahardjo
           Mathias Muchus
           Rieke Diah Pitaloka
Penulis skenario:
                       Salman Aristo
                       Riri Riza
                       Mira Lesmana


Kisah tentang tantangan kalangan pinggiran dan perjuangan hidup menggapai mimpi, serta keindahan persahabatan dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia itulah yang diungkap sutradara Riri Riza melalui film Laskar Pelangi (2009).  

Film yang diproduseri oleh Mira Lesmana ini berhasil menyedot penonton tak kurang dari 4,6 juta orang di Tanah Air. Fenomena ini menunjukkan kepada kita bahwa apresiasi sastra dan film generasi muda kita, khususnya, dan bangsa Indonesia, umumnya, menuju progres yang lebih baik. Karena semua orang juga tahu bahwa novel Laskar Pelangi dan filmnya diserbu oleh semua golongan umur. Sungguh tidak salah jika novel dan film Laskar Pelangi dijuluki fenomenal karena mampu memberi spirit berjuta manusia di negeri ini. 


Latar Belakang Film
Film Laskar Pelangi diangkat dari novel fenomenal karya Andrea Hirata dengan judul yang sama. Novel ini awalnya didedikasikan untuk guru tercinta, kemudian meledak menjadi best seller dan kini hadir di layar lebar. Novel Laskar Pelangi (2005) adalah bagian pertama dari tetralogi novel Andrea Hirata berdasarkan pengalaman hidupnya. Walau sebuah autobiografi, penggunaan nama-nama fiksional menandakan bagian-bagian dari cerita ini adalah fiksi. Film ini merupakan produksi ke-9 Miles Films dan Mizan Production. Seperti di novelnya, cerita Laskar Pelangi berlatar belakang kehidupan di Pulau Belitong pada pertengahan tahun 1970-an.   


Adegan awal
Film yang berdurasi 125 menit ini dibuka dengan adegan Ikal dewasa (Lukman Sardi) menumpang bus untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Gantong, Pulau Belitung. Sambil menerawang ke luar jendela bus, suara lamunan Ikal membimbing penonton memahami latar belakang sejarah sosial pulau yang pernah kayak arena timah itu. Seusai adegan pembuka itu, lamunan Ikal pun kembali pada hari pertama berangkat ke sekolah. Ia harus menggunakan sepatu perempuan karena orang tuanya tak mampu membelikan sepatu sekolah.

Film pun menampilkan gambar kilas balik Belitung era 1974 saat PN Timah masih aktif beroperasi, para karyawan berseragam biru lalu lalang dengan sepeda, dan orang tua mengantar anak-anak mereka ke sekolah. 


Sinopsis
Hari pertama pembukaan kelas baru di SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta sembilan orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Hal itu karena jika mereka tidak berhasil mengumpulkan sepuluh murid, sekolah akan ditutup.

Hari itu, Harun (Jeffry Yanuar), seorang murid istimewa, datang ditemani ibunya. Ia berlari melewati padang rumput menuju ke sekolah yang bangunannya hampir roboh itu untuk menjadi penyelamat masa depan kesembilan murid yang sudah gelisah. Kesepuluh murid yang kemudian diberi nama ”Laskar Pelangi” oleh Bu Muslimah menjalin kisah yang tak terlupakan.

Lima tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke-10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing-masing berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.

Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Pak Harfan meninggal dunia. Musibah itu sempat membuat Bu Mus putus asa dan berhenti mengajar. Namun, menyaksikan murid-muridnya yang begitu tegar dan tetap bersemangat untuk belajar sendiri, Bu Mus pun kembali ke sekolah.

Kisah sepuluh sahabat ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik itu putus sekolah dengan sangat mengharukan. Lalu, dilanjutkan dengan kejadian dua belas tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar Pulau Belitong kembali ke kampungnya. 


Inti Cerita
Inti film Laskar Pelangi adalah harapan untuk anak Indonesia yang paling terpuruk. Kalau anak yang sekolah di SD bobrok di pedalaman bisa sekolah di Paris, tentu saja siapa pun bisa menggapai impian mereka. Selain mengangkat pentingnya pendidikan, film ini juga mengisahkan persahabatan di antara sepuluh murid SD Muhammadiyah, Belitong yang memiliki keunikan masing-masing. 


Keunggulan
Menonton Laskar Pelangi bisa membuat kita tertawa sekaligus menangis. Apalagi akting para pendatang baru yang memerankan Laskar Pelangi tak mengecewakan, mereka sangat natural. Hal itu bisa jadi karena mereka sebelumnya sudah menjalani latihan akting selama tiga bulan.

Dari sisi teknis, film ini digarap dengan rapi. Sinematografer Yadi Sugandhi menampilkan gambar-gambar indah dan terkonsep dengan baik. Dari sisi gagasan, film ini menggarap berbagai permasalahan nyata di masyarakat dengan cara yang ringan dan cukup bisa dinikmati. Menariknya, film ini tidak ditulis dengan bahasa baku selayaknya film indonesia biasa, namun masih disuntik peribahasa Indonesia baku untuk accesibility. 

Setting yang dibuat oleh Eros Eflin selaku penata artistik untuk film Laskar Pelangi cukup menggambarkan nuansa tahun 70-an. Ditambah dengan syuting yang dilakukan di Belitong sehingga benar-benar tertangkap suasana lokalnya. Secara keseluruhan film Laskar Pelangi patut mendapat acungan jempol. 


Teknis Penyajian
Film ini menggambarkan semangat anak-anak kampung miskin itu belajar dalam segala keterbatasan. Mereka bersekolah tanpa alas kaki, baju tanpa kancing, atap sekolah yang bocor jika hujan, dan papan tulis yang berlubang hingga terpaksa ditambal dengan poster. 

Di bagian awal, film ini terlihat memusatkan perhatian pada sosok Ikal. Ikal adalah anak pegawai rendahan PN Timah yang tak mampu sekolah di SD Timah, lalu mendaftar ke SD Muhammadiyah. Kemudian, bermunculan tokoh lain. Ada Lintang, anak super genius didikan alam, yang rumahnya berjarak 40 km dari sekolah dan dilaluinya dengan bersepeda setiap hari tanpa mengeluh. Bahkan ketika suatu hari rantai sepedanya putus, dia rela berjalan kaki menuntun sepedanya ke sekolah. Sementara seorang Mahar, calon seniman dengan gaya yang flamboyan dan radio butut di lehernya adalah sosok yang membuat semua kekakuan jadi cair. Lalu ada Bu Muslimah, perempuan muda yang teguh bercita-cita sebagai guru dan Pak Harfan, Kepala SD Muhammadiyah, yang setia mempertahankan sekolah yang hampir ambruk. 

Sedikit romansa terdapat adegan si tokoh utama (Ikal) jatuh cinta ketika melihat tangan perempuan Chinese, A Ling, yang terang benderang. Demi bertemu dengan A Ling, Ikal berupaya segala cara termasuk mencuri kapur milik sekolah agar ia ditugaskan membeli kapur. Juga betapa hancur dunianya ketika A Ling pindah ke Jakarta dengan background benda-benda di toko berjatuhan.

Dalam film garapan Riri Riza ini ada satu penambahan tokoh yang tidak ada dalam novel. Tokoh tersebut adalah Pak Mahmud yang diperankan Tora Sudiro. Menurut Riri penambahan karakter itu untuk memperkuat penyampaian pesan fim ini. 


Adegan Dramatis
Adegan dramatis dalam film ini antara lain: pertama, awal-awal saat Pak Harfan melihat arloji di balik tangan ketika sedang menunggu satu anak lagi; kedua, sedihnya Bu Mus ketika Pak Harfan meninggal; ketiga, Lintang mengayuh sepeda onthelnya yang ketinggian melewati padang rumput saat matahari terbit, kemudian perjalanannya dihadang buaya, padahal hari itu ia harus ikut lomba cerdas cermat. Sementara, di tempat lain semua orang sudah panik menunggu dia yang tak kunjung tiba; keempat, ketika Lintang pulang ke rumah dengan piagam juaranya, mendapati ayahnya tak ada. Kemudian, ia menunggu ayahnya dengan berdiri di pinggir pantai sambil memandang laut, namun ayahnya tidak akan pernah pulang lagi; kelima, ketika Lintang mengirim surat kepada Bu Mus yang memberitahukan bahwa ayahnya sudah meninggal dan dia terpaksa berhenti sekolah. Lintang pun datang ke sekolah untuk berpamitan dengan Bu Mus dan teman-temannya, kemudian Ikal mengerjarnya dengan mata berkaca-kaca sambil berteriak, ”Lintaaaaaaaaang!”.
 


 
Penghargaan yang Diraih
Mengapa film yang diadaptasi dari novel fenomenal karya Andrea Hirata ini menjadi film box office kebanggaan Indonesia? Pertama, film ini masuk dalam Berlin International Film Festival 2009. kedua, film ini masuk dalam official selection Hong Kong International Film Festival 2009. ketiga, film ini ternyata masuk dalam best film & best editor nomination Asia Film Awards 2009. 

Dalam ajang Festival Film Bandung (FFB) 2009 ke-22 yang berlangsung di Hotel Horison, Bandung, film ini berhasil membawa pulang 6 dari 11 penghargaan. Enam penghargaan tersebut adalah kategori sutradara terpuji atas nama Riri Riza, penata musik terpuji yaitu Aksan dan Titi Sjuman, penata artistik terpuji Eros Elfin, pemeran utama wanita terpuji Cut Mini, pemeran pembantu pria terpuji Ikranagara, dan tentu saja film terpuji. 

Penghargaan tak henti-hentinya diraih film Laskar Pelangi. Setelah dinobatkan sebagai film terpuji, film ini juga menjadi best film di Indonesian Movie Awards (IMA) 2009 yang berlangsung pada tanggal 16 Mei 2009 sampai tanggal 17 Mei 2009 di stasiun televisi RCTI. Pada acara ini, Laskar Pelangi mendapat 4 penghargaan, ditambah satu penghargaan untuk soundtrack favorit, Nidji dengan lagunya yaitu Laskar Pelangi. Penghargaan pertama diraih oleh Zulfani sebagai pendatang baru pria terfavorit. Penghargaan kedua diraih oleh Ikranagara sebagai pemain film pria terbaik. Penghargaan ketiga berhasil diraih oleh Cut Mini sebagai pemain film wanita terbaik. Yang paling membanggakan adalah mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik mengalahkan film Ayat-Ayat Cinta, Perempuan berkalung Sorban, 3 doa 3 cinta, Fiksi,dan film Gara-gara Bola. 

Menjelang akhir tahun 2009, film laris Laskar Pelangi (The Rainbow Troops) membuat catatan indah. Film ini memenangi kategori the best picture alias film terbaik pada Asia Pacific Film Festival (APFF) ke-53, 16-20 Desember lalu, di Kaoshiung, Taiwan. Film yang baru saja merilis sekuelnya, Sang Pemimpi, tersebut menuai prestasi serupa dengan Daun di Atas Bantal 12 tahun lalu. Tambahan pula, Cut Mini mendapatkan predikat ”aktris terbaik” pada Festival Film Independen Internasional di Brussel, Belgia, tahun 2009.

RESENSI BUKU ILMU PENGETAHUAN POPULER

Belajar dari Ben Franklin

Identitas Buku
Judul buku    : Siapakah Ben Franklin?
Penulis          : Dennis Brindell Fradin
Penerjemah  : Ellen Sirait
Penerbit         : PT Grasindo, Jakarta
Cetakan         : April, 2006
Tebal              : v+105 halaman
Bahasa          : Indonesia

Pendahuluan
Ben Franklin atau Benjamin Franklin merupakan salah satu tokoh dari seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah di dunia. Franklin dikenal sebagai salah seorang ”bapak pendiri” (founding father) dari negara Amerika Serikat. Dia dianggap sebagai tokoh yang berperanan penting dalam berdirinya Negara Amerika Serikat karena salah satu perancang dari deklarasi kemerdekaan Amerika dan ikut menandatangani deklarasi tersebut.
Ben Franklin adalah pengarang, politikus, ilmuwan, diplomat, dan penemu yang penemuannya membuka pengertian yang lebih dalam pada bidang kelistrikan. Dia menemukan penangkal petir, kacamata, odometer (pengukur jarak tempuh pada kendaraan), dan peralatan musik. Dia telah meninggalkan banyak karya di dalam hidupnya. Dengan kata lain, Franklin adalah orang dengan banyak jenis pekerjaan dan keahlian.
Buku biografi ini mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat sosok Ben Franklin. Dalam buku ini penulis menguraikan perjalanan hidup Ben Franklin, mulai dari kanak-kanak hingga dewasa. Semuanya dibahas tuntas dalam delapan bab. Di awal buku penulis menyebutkan prestasi dan karya yang telah dicapai Franklin, di antaranya sebagai berikut.
1.    Franklin adalah seorang negarawan (pemimpin revolusi Amerika Serikat).
2.    Franklin adalah ilmuwan yang menemukan sifat alami kilat.
3.    Franklin adalah penemu penangkal petir dan kacamata plus-minus.
4.    Franklin adalah pengarang.
5.    Franklin telah melakukan banyak hal dalam hidupnya, yaitu mendirikan rumah sakit pertama AS, memulai perpustakaan AS pertama, dan membantu terbentuknya Layanan Pos Amerikat.
Berikut ini gambaran umum masing-masing bab:
Bab I (menceritakan percobaan penangkal petir)
Bab II (menceritakan Ben ketika masih kecil dan keadaan keluarganya)
Bab III (menceritakan pengalaman Ben ketika magang di percetakan kakaknya)
Bab IV (menceritakan pengalaman Ben dalam membuat percetakan)
Bab V ((menceritakan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan Ben kepada manusia)
Bab VI (menceritakan keterlibatan Ben dalam revolusi Amerika Serikat)
Bab VII (menceritakan usaha Ben dalam mendirikan Negara Amerika Serikat)
Bab VIII (menceritakan pengalaman hidup Ben pada akhir masa hidupnya)

Isi
Buku yang berisi delapan bab ini tersusun secara terstruktur sehingga memudahkan pembaca untuk memahami perjalanan hidup Ben Franklin. Meskipun termasuk buku terjemahan, bahasa yang digunakan mudah dipahami dan enak dibaca. Dengan tata bahasa yang mengalir dan populer, penulis mampu menjelaskan berbagai hal dengan jelas.
Buku ini berbeda dengan buku biografi lain karena disertai gambar-gambar menarik sehingga bisa membantu imajinasi pembaca. Selain itu, setiap bab buku ini dilengkapi penjelasan lebih rinci tentang hal yang sedang dibahas, misalnya cara membuat lilin, asal mula pembuatan baterai, dan asal mula bandera. Jadi, wawasan pembaca akan bertambah karena pembaca tidak hanya mengetahui riwayat hidup Franklin, tetapi juga mendapat informasi tambahan tentang hal lain.
Sayang sekali buku ini tidak dilengkapi biografi penulis sehingga pembaca tidak bisa mengetahui identitas penulis secara lengkap. Selain itu, penulis juga tidak memaparkan alasan penulisan buku biografi ini. Jadi, pembaca sulit mengetahui latar belakang pembuatan buku ini.

Penutup
Terlepas dari kekurangan yang ada, buku ini layak Anda baca karena isinya sangat menarik dan informatif. Selain itu, dengan membaca buku ini Anda akan termotivasi untuk menjadikan diri Anda sebagai orang yang berguna bagi orang lain, baik masyarakat maupun negara, seperti halnya Ben Franklin yang selama hidupnya telah memberikan sumbangan yang besar bagi orang lain. Marilah kita belajar dari Ben Franklin tentang kegigihan, kerja keras, perjuangan, dan pengorbanan untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara kita sendiri.
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy