RSS
Tampilkan postingan dengan label curhatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhatku. Tampilkan semua postingan

kutitipkan pada-Mu


Semalam aku tidak bisa tidur. Hanya bisa memejamkan mata satu jam. Akhirnya, hari ini aku sakit. Kepala rasanya berat seolah ada beban yang menindih batok kepalaku. Mataku amat bengkak, sungguh mengerikan melihatnya. Tubuh lemas tak berdaya hingga tak bisa berdiri tegak, berjalan sempoyongan, dan duduk pun tak kuat. 

Sejak tadi hanya sanggup berbaring, namun sulit terpejam. Pikiranku mengembara kemana-mana, melayang tak tentu arah, hingga secara tak sadar dirimu singgah dalam benakku. Cepat-cepat kuusir jauh, namun tak mudah. Aku terperangkap oleh bayanganmu. Jika saja boleh, aku ingin memintamu datang menemuiku secepatnya. Jika saja boleh, aku ingin memintamu agar menemaniku. Jika saja boleh, aku ingin memintamu agar menjagaku. Jika saja boleh, aku ingin memintamu menghiburku agar aku melupakan rasa sakit ini. 

Tapi, aku tak punya alasan untuk memintamu begitu. Aku tak berhak memintamu seperti itu. Saat ini kau bukanlah orang yang bisa sebebasnya berada di sisiku. Masih ada batas pemisah di antara kita. Lalu, aku pun membuang jauh-jauh keinginan konyol itu. Perlahan keinginan itu memudar seiring berjalannya hari. Namun, tiba-tiba kau menghubungiku dan aku tak bisa menyembunyikan keadaanku darimu. Katamu, kau bisa merasakan kesakitanku. Oh Tuhan, benarkah kami memiliki ikatan batin?

Selanjutnya beberapa kali kau menghubungiku, menasihatiku ini itu, memintaku meminum obat ini itu, mengecek keadaanku setiap waktu. Ada nada cemas dalam kalimat-kalimatmu. Ada nada khawatir dalam suaramu. Tuhan, kau sungguh mengetahui hatiku, perhatiannya sedikit banyak meringankan deritaku. Tuhan, kuharap Engkau memaafkan kami jika interaksi ini agak berlebihan.

Tuhan, aku hanyalah hamba yang lemah tak berdaya. Berikan kekuatan dan ketabahan agar aku sanggup menerima segala ujian-Mu. Tuhan, kutitipkan rasa ini pada-Mu. Kutitipkan semua perasaanku untuknya pada-Mu. Tuhan, jagalah hatiku dan hatinya dengan penjagaan-Mu yang sempurna. 

Terima kasih Tuhan, terima kasih telah menghadirkan dia dalam hidupku. Terima kasih telah mempertemukan kami di jalan-Mu. Semoga kami segera Kau persatukan dengan ikatan suci yang diridhai-Mu biar kami bisa saling menyayangi tanpa batas, biar kami bisa saling menguatkan agar tetap istiqomah di jalan-Mu. Allahumma amin.

Pada-Mu Aku Mengadu





Cukup banyak hal yang berseliweran dalam benakku.
Cukup banyak kejadian yang mengganggu pikiranku.
Rasa was-was tengah menyelimuti hatiku.
Rasa gundah tengah menjalari hatiku.

Oh, Allah... hamba yang lemah ini memohon pada-Mu.
Duhai, Kekasih... hamba yang payah ini meminta pada-Mu.
Bantulah aku berpikir jernih.
Tolong bimbing aku untuk memutuskan.

Wujudkan niatku Yaa Rabbana...
Luruskan niat yang terbetik dalam hatiku.

Beri aku keberanian untuk melangkah.
Beri aku kekuatan untuk bertarung.
Beri aku kesabaran untuk melaluinya.
Berilah petunjuk-Mu.

Buang segala kecemasan yang melumuri hati.
Lenyapkan segala ketakutan yang menguasai diri.
Jauhkan segala kekalutan yang membungkus hati.
Pudarkan segala prasangka-prasangka yang negatif.
Munculkan energi positif dalam diriku.

Yaa Ilaahi Robbi...
Kuminta izin-Mu atas semua rencanaku.
Lancarkan upaya yang kujalani ini.
Mudahkan langkah yang kutempuh ini.
Semoga aku menuai berkah dari-Mu.
Kabulkan pintaku, Ya Allah...
Amin...

Berilah Petunjuk-Mu


Bismillah.... 
Dengan menyebut nama-Mu aku memulai. 
Karena-Mu pula aku melangkah. 
Demi memenuhi seruan-Mu kutepiskan semua ragu. 
Aku mengharap rahmat-Mu dalam urusan ini. 
Namun, sungguh aku tidak tahu apa-apa. 
Pengetahuanku amat terbatas. 
Hal yang kukira baik di mataku, belum tentu baik di mata-Mu. 
Hal yang kusangka baik untuk hidupku, belum tentu baik menurut-Mu. 
Maka, aku mohon arahan-Mu.


Yaa Alim... Tuhan Yang Maha Mengetahui... 
Engkau mengetahui perkara yang tersembunyi atau tidak tersembunyi, 
yang nampak atau yang gaib... 
Aku mohon Engkau memperlihatkan hal baik atau hal buruk 
dengan pengetahuan-Mu yang Mahaluas. 
Aku mohon Engkau membimbingku dalam mengambil keputusan 
agar aku tidak terbawa hawa nafsu.

Yaa Rasyid... Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk... 
Berilah petunjukmu pada kami. 
Berilah jalan keluar untuk masalah yang kami hadapi. 
Mudahkanlah upaya kami dalam mengharap berkah-Mu, yaa Ilaahi... 
Iringilah langkah kami dengan ridha-Mu. 
Genggam hati kami agar tidak menjauh dari cahaya-Mu.

Duhai, Allah... tenangkanlah hatiku yang bergemuruh. 
Jadikanlah aku mampu bersabar melaluinya.
Semoga ada akhir yang baik dari urusan ini.
Jika pun kenyataan nanti tak sesuai dengan harapan kami,
peliharalah kami dari kekecewaan.
Jadikan kami ridha dengan semua ketentuan-Mu.
Amin yaa rabbal alamin...

Diserang Flu (Lagi)


"Hatchiiiiiiii....." 
"Hatchiiiiiii......" 
"Hatchiiiiiii......"
"Alhamdulillahirabbil alamin."
Sudah 4 hari ini aku diserang flu. Hidung tersumbat, mampet. Kepala pening dan berat. Badan meriang, panas dingin. Bener-bener tak mengenakkan. Tiduran salah. Berdiri salah. Nggak enak ngapa-ngapain deh. Hiks... Kalo diingat-ingat, padahal aku nggak kena hujan sebelumnya. Pekan kemarin hujan-hujanan mulu, tapi baik-baik aja. Entahlah, kondisi fisikku mungkin kini lagi nge-drop.

Meski begitu, aku masih bisa menunaikan shaum. Berharap flu ini cepat pergi. Berharap kondisiku makin membaik biar aku bisa memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan yang mulia ini. Ya Allah, sembuhkan rasa sakit ini dengan kesembuhan yang tiada sakit setelahnya. Amin.

Guru Teladan


Hari ini aku dinobatkan sebagai guru teladan Bintang Pelajar tahun ajaran 2010/2011. Jujur aku kaget. Tak mengira akan meraih prestasi mengagumkan ini. Aku terhenyak di kursi saat namaku disebutkan. Rasa deg-degan dan gemetar menjalari tubuhku. "Perasaan semalam nggak mimpi apa-apa deh," pikirku dalam hati. 

Orang-orang menyalami dan mengucapkan selamet padaku. Dari situ barulah aku sadar bahwa aku merasa bahagia. Bangga rasanya mendengar namaku disebut. Ah, rasanya seperti mengulang saat-saat sekolah dulu ketika pembagian rapor di kelas. Deg-degan, gemeteran, dan hati melonjak girang . Tentu saja kamu pun akan bahagia bukan saat namamu disebut sebagai juara kelas? :D

Di tengah kebahagiaan kecil itu sebenarnya aku gelisah. Hatiku diliputi sejuta tanda tanya *haha lebay :D*. Aku mengeja kata "guru teladan" dalam hati. Berkali-kali kuucapkan dalam diam. Teladan. Teladan. Teladan. Sebelumnya tentu saja aku sering mendengarnya. Namun, kini aku bingung mengartikannya. Maka, kucari dalam kamus. Ow, teladan adalah sesuatu yg patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dsb.).

"Benarkah aku guru teladan?" itu salah satu pertanyaan yang menyeruak dalam hati. Lalu, rentetan pertanyaan lain keluar. "Kenapa aku mendapat predikat ini?" "Benarkah aku berhak meraihnya?" "Apa nggak Salah?" "Apa kriteria yang dipakai?" "Pantaskah aku menerimanya?" "Siapa yang mengajukan namaku?" "Siapa yang memilihku?" 

Sederat pertanyaan lain menyerbu, tumpang tindih dalam hati. Hah, kepalaku pusing sendiri memikirkannya. Namun, aku tak kunjung juga menemukan jawabannya hingga sekarang. Hanya dugaan dan perkiraan menurut sudut pandangku saja yang muncul. Kalau sudah begini, aku hanya bisa mengadukan kegundahan ini pada-Nya.

Bagaimanapun terima kasih atas hal ini ya Allah. Terima kasih telah memberiku kebahagiaan. Terima kasih telah membuatku bahagia hari ini. 

Aku tahu, ini bukan akhir dari perjuanganku. Saat aku digelari "guru teladan", sejatinya aku belum layak menyandangnya. Aku harus membuktikannya pada hari-hari mendatang. Aku harus berjuang keras untuk mewujudkannya dalam diriku. Malahan, bisa jadi ini sebagai teguran halus dari-Mu agar aku menjadi lebih baik lagi, agar aku sungguh-sungguh menjadi guru yang baik pada masa mendatang.

Kini semua mata tertuju padaku. Aku yakin meski mereka tak mengucapkannya, sebenarnya mereka pun menuntut bukti. Maka, hari esok dan seterusnya semua polah lakuku akan menjadi sorotan. Semua gerak gerikku akan dinilai. Aku tahu, ini tak akan mudah ya Allah. Tentu akan berat sekali. Ah, jujur gelar ini sungguh menyiksa! :D 

Aku mohon penjagaan-Mu. Semoga aku betul-betul menjadi guru yang baik, guru yang layak dicontoh, guru yang layak ditiru. Bukan, bukan supaya aku pantas membanggakan diri jika berhasil meraihnya. Sungguh aku tak layak untuk sombong. Aku harus menjadi guru teladan karena memang seorang guru sudah selayaknya harus menjadi teladan, terutama teladan bagi siswa-siswa.

cerita saat hujan


Hujan selalu mendatangkan kedamaian dan ketenangan. Kadangkala hujan juga menyuguhkan kejadian tak terduga alias kejutan. Seperti yang kualami dua hari lalu, hujan telah memberikan cerita indah untuk dikenang. Sore itu sekitar pukul 4 aku dan temanku pulang dari tempat kerja. Sebelum pulang, kami mampir lebih dulu ke pasar untuk membeli sepatu. Tak mudah menemukan sepatu yang cocok dan nyaman di kaki hingga kami terpaksa berkeliling dari satu kios ke kios lain. Setelah lelah berjalan, kami menemukan sepatu yang dicari.

Keluar dari pasar kami berjalan menuju angkot. Beruntung tak lama kemudian angkot yang kami tunggu melintas. Dalam perjalanan pulang kami memutuskan akan membeli bakso Larewo yang terletak di Pamoyanan, Bogor Selatan. 

Saat itu cuaca masih cerah. Cocok untuk jalan-jalan sore. Namun, saat tiba di Sukasari, cuaca mulai mendung. Satu dua tetes air hujan mulai berjatuhan. Makin mendekati Pamoyanan, hujan makin bertambah besar. Kami turun dari angkot disambut guyuran hujan yang cukup deras. "Waduh, mana aku nggak bawa payung... gimana ini?" ucapku agak bingung. Untungnya, temanku membawa payung. Akhirnya aku ikut berlindung di bawah payungnya. Kami pun menyeberang. Saat melangkah ke kios bakso Larewo, kami melihat kiosnya sudah tutup. "Yaaaaah...," keluh kami kecewa. "Kita makan lo mie aja di Cipaku?" ajak temanku. "Oke deh...," jawabku tanpa banyak berpikir. Dari dulu aku juga memang penasaran ingin mencicipi lo mie yang selalu ia ceritakan.

Jarak antara kios bakso Larewo dengan kios lo mie Cipaku cukup jauh. Karena tidak ada tempat berteduh, kami langsung mengambil langkah menuju tempat jualan lo mie. Kami berjalan beriringan di bawah guyuran hujan. Payung yang kecil itu tak mampu melindungi seluruh tubuh kami sehingga sebagian baju kami basah. Jalan yang kami lalui agak sempit dan tidak memiliki trotoar sehingga saat berjalan berkali-kali kami diklakson dari belakang. Ah, sungguh risih dan tak nyaman. Lama-lama sepatu dan kaos kaki kami basah. Tapi kami tak memedulikannya. Kami terus berjalan sambil menertawakan keadaan yang menimpa kami tanpa mempedulikan keadaan sekitar. 

"Mendapatkan sesuatu yang diinginkan itu memang perlu pengorbanan, termasuk dalam hal ini," pikirku dalam hati untuk menghibur diri. 

Hingga akhirnya kami tiba di depan tempat jualan lo mie. "Romatis banget ya kita?" ucap temanku sambil tertawa-tawa. Aku mengangguk menyetujuinya. Hmm... dipikir-pikir, berjalan sepayung berdua di bawah guyuran air hujan itu memang amat romantis :D.

Kami langsung memesan dua mangkuk lo mie dan dua botol teh. Tak lama pesanan kami siap. "Oh lo mie itu kayak gini..." ujarku saat melihat lo mie disajikan si pedagang. Sebelum diaduk ternyata mirip bubur karena di atasnya ditaburi kerupuk. Setelah diaduk lebih terlihat mirip sup krim karena memang kuahnya kental. Nah, setelah dicicipi rasanya mirip bakso (hehe). Yupz, lo mie adalah kombinasi mie dan bakso dengan kuah maizena (kalo tak salah) dan taburan kerupuk. Kami pun segera menyantapnya dengan lahap :D. Enak enak enak :D. Dalam sekejap mangkuk yang tadinya penuh itu langsung ludes tak bersisa. "Laper, maruk, apa doyan, neng?" (hehe).

Ajari Kami Bersabar


Melihat kebahagiaan berpasang-pasang insan aku terenyuh.
Mendengar kabar gembira mereka hatiku bersorak.
Menyaksikan rencana baik mereka dalam merenda ikatan suci aku bertepuk tangan.
Sungguh bahagia menonton hari bersejarah sepasang insan-Mu.
Namun, tak urung hatiku ikut bimbang.
Satu tanya menyerbu, muncul dalam benak.
"Kapan aku mengalami hari bahagia itu?"
Aku ingin merasakan kebahagiaan mereka.
Aku ingin mengalami kebahagiaan seperti mereka.
Aku ingin tersenyum di samping seseorang yang akan menjadi pelindungku selama sisa usia.
Aku ingin menjalin ikatan suci itu.
Aku ingin bahagia bersama dirinya.
Dan dia, pernahkah dia memikirkan hal ini?
Tuhan, pernahkah dia memikirkan tentang ini?
Atau dia sama bingungnya denganku?
Akal manusia memang terbatas.
Tak bisa mengira dan menerka.
Tak mungkin menjangkau sesuatu yang hanya menjadi rahasia-Mu.
Hanya memungkinkan bagi kami untuk meminta petunjuk-Mu.
Aku yang di sini dan dia di sana, mudah saja bagi-Mu mempertautkan kami.

Maaf ya Allah, bukan aku mendesak-Mu untuk menyegerakan niat baik kami.
Bukan aku tak sabar ingin menjumpai hari bahagia itu.
Tentu saja aku paham, aku takkan bisa mempercepat sesuatu yang belum Engkau izinkan.
Sebaliknya, aku takkan sanggup menunda-nunda sesuatu yang telah Engkau tetapkan.
Hanya saja kini aku tengah dibakar cemburu.
Cemburu menyaksikan mereka bersatu, sementara aku tetap sendiri dalam penantian.
Ya Allah, rasanya bercampur aduk.
Ada bahagia dan pedih bercampur baur.
Tapi aku tak ingin mengasihani diri.
Aku yakin bila masanya tiba, Engkau akan mempertemukan kami.
Ya Allah... didiklah kami agar menjadi pribadi yang lebih baik hingga kami memang pantas untuk disandingkan.
Ajarilahlah kami agar lebih siap menata hidup dalam ikatan suci-Mu.
Berikan rahmat-Mu pada kami agar kami bisa mengecap kebahagiaan yang Engkau anugerahkan.
Jadikan kami hamba-hamba yang bersabar dan bersyukur dalam menerima ketetapan-Mu.
Genggam hati kami agar tak pernah putus asa sedikit pun dalam menanti keputusan-Mu.
Amin ya rabbal alamin.

Tak Ada yang Perlu Dikhawatirkan


Saat bangun tidur, terngiang-ngiang kata-kata begini dalam benakku, "Tak ada yang perlu dikhawatirkan, tak ada yang perlu dikhawatirkan, tak ada yang perlu dikhawatirkan."

Untuk sejenak saya termangu. Mimpi apa saya semalam? Kenapa tiba-tiba muncul kata-kata begitu? Namun, hingga beberapa menit saya merenung, otak saya tak bisa mengingatnya. Buntu. Malahan, semalam saya tidur nyenyak hingga rasanya tak memimpikan apa pun. Entahlah.

Tapi, kata-kata itu ada benarnya juga. Memang betul, tak ada yang perlu saya khawatirkan. Meski hari-hari ke depan akan berjalan lebih rumit, tak ada yang perlu saya khawatirkan secara berlebihan. Seberat apa pun masalah yang akan saya temui, pasti Allah telah menyiapkan jalan keluarnya. Sesulit apa pun rintangan yang akan saya hadapi, pasti Allah memberi kemudahan di setiap langkah saya. Sedalam apa pun kesedihan yang akan saya tanggung, pasti Allah memberi kebahagiaan sesudahnya. Sepelik apa pun ujian yang akan saya lewati, pasti Allah akan memberi pemecahannya. Saya hanya tinggal melalui semuanya dengan tegar dan sabar. Rencana-Nya adalah yang terbaik. Tak mungkin ada kekeliruan dalam ketetapan-Nya.

Bismillah... berilah aku kekuatan untuk melalui bulan Juli ini ya Rabb.. amin.

Hujan Awal Juni


Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ke bulan Juni.
Bulan Mei yang begitu melelahkan berakhir sudah.
"Good Job, Ai! Seperti keinginanmu, kau berhasil melewatkan Mei dengan baik. KBM-KBM itu berhasil kau tuntaskan, HEBAT!!!" ucapku pada diri sendiri, hehe.
Semoga semua yang kulakukan menjadi catatan baik di hadapan-Mu ya Allah. Amin.

SELAMET DATANG JUNI.
Mari kita merangkai cerita selama sebulan ini ^__^

Rabu ini, satu Juni, aku pulang ke rumah pada petang hari,
dalam kondisi kelelahan teramat sangat *lebay :D*
Hujan mengguyur kotaku seperti hari-hari kemarin.
Deras, amat deras hujan malam ini.
Aku sedang berada dalam angkot saat tetes-tetes air itu berjatuhan.
Angkot masih kosong. 
Aku adalah penumpang kesatu.
Kusandarkan tubuhku yang kelelahan ke sisi jendela di pojok.
"Pindah ke depan aja, Teh biar bisa nyandar kekursi," ujar sopir mengagetkanku.
"Oh, ga apa-apa, di sini aja."

Selanjutnya, aku sibuk dengan pikiran sendiri.
Sebenernya masih terbayang-bayang cerita di serial Dream High sih, hehe.
Jujur, aku tidak puas dengan ending-nya.
Aku berharap si A bakalan bersatu dengan si B, eh ternyata malah dengan si C.
Hahaha... namanya drama, tergantung si penulislah... tapi kenapa hatiku jadi merasa nggak enak ya? ah, sudahlah... bikin sakit hati kalo diinget-inget... :D

Menyaksikan hujan malam ini, apalagi di awal Juni, aku juga teringat dengan sebuah puisi "Hujan Bulan Juni" Sapardi Joko Damono.
Nice deh nih puisi. KEREN!!! :D
Begini bunyinya:


hujan bulan juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Tuhan, Tolonglah...


Ya Allah... aku sedang sedih. 
Sejak kemarin, potongan kenangan tak mengenakkan hilir mudik menyesaki pikiranku. 
Berkelebatan satu demi satu tanpa bisa kucegah. 
Entahlah, kenapa seperti ini. 
Ditambah dengan kondisi fisik yang makin memburuk, hatiku rasanya pilu sekali. 
Uh, berat rasanya melewati hari. 
Oh, Tuhan... bagaimana ini? 
Apa yang harus kulakukan ya Rabb? 
Aku tak ingin terjebak dalam situasi sulit begini. 
Tolong Tuhan, buang semua kesedihanku. 
Gantilah dengan keceriaan.
Tenangkan hatiku yang bergemuruh.
Kuatkan langkahku.
Jangan biarkan aku berputus asa sedikit pun dari rahmat-Mu.
Biarkan aku meyakini janji-Mu.
Hilangkan semua kebimbangan dan kebingungan ini.
Tuhan, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini.

akhirnya aku makan pempek (lagi)


Jika kau ingin tahu apa yang mengganggu pikiranku beberapa minggu terakhir, aku akan memberitahumu. 
Tapi, cukup satu hal saja, tak usah semuanya. 
Salah satu hal tersebut berkaitan dengan makanan. 
Apa itu? Pempek.
Eits, kuharap kau tak menertawakanku.
Agak konyol memang.
Tapi begitulah adanya.
Betul kawan, aku ngebet banget pengen makan pempek. 
Tapi, keinginan itu selalu tertunda. 
Selain karena belum sempet menjelajah tempat penjualan pempek yang enak, aku juga ragu-ragu untuk menyantapnya. 
Pasalnya, kuah pempek itu mengandung cuka. 
Cuka tidak baik untuk perutku.
Perutku agak bermusuhan dengan makanan yang asam-asam.

Hari ini, aku tak kuat lagi membendung keinginan itu (hehe).
Maka, aku sedikit melanggar asupan makananku. 
Malam ini aku menuntaskan mimpiku memakan pempek.
Yah, setelah berminggu-minggu ngidam pempek, akhirnya hari kesampean juga melahapnya.
Jadi aku tidak diganggu hantu pempek lagi (hehe).
Plong rasanya...
Satu beban pikiranku luruh sudah (hehe segitunya yah? :D).
Kini... hanya berharap perutku akan baik-baik saja.
Semoga baik-baik saja.
Jangan sampai terjadi apa-apa Ya Allah.

Ini dia pempek jari tangan yang kusantap.
Hmm... enak enak enak :D

Kangen Liburan


Kabarku saat ini? Emm, gimana aku bisa menceritakannya? Yah, benar. Aku tidak baik-baik saja. Aku hanya berusaha terlihat baik-baik saja. Kondisiku sebenarnya buruk. Amat buruk. Sampe-sampe hari ini aku tak kuat pergi kemana-mana. 

Kalau bukan karena karunia-Nya, tak mungkin aku bisa melewati pekan kemarin. Sangat ajaib aku bisa kembali berjumpa dengan hari Ahad ini.

Tak terasa memang hari Ahad kembali tiba. Sungguh, waktu amat cepat berlalu. Hari amat cepat berganti. Rasanya baru kemarin hari Senin, eh sekarang udah Ahad lagi.

Kau tahu, pekan kemarin aku betul-betul sibuk. Berangkat pagi pulang malam. Cukup banyak kebiasaan yang kulanggar. Sarapan pagi terlewatkan. Paling-paling hanya sempat menyeruput teh manis atau minum susu. Makan siang? Sering telat. Makan malam pun kurang bisa kunikmati. 

Karena fisik terlalu cape dan lelah, tidur juga agak susah. Akhirnya, sering begadang dengan pikiran tak tentu arah. Pernah karena mendapat serangan ngantuk yang begitu hebat, siang-siang aku menyeduh kopi. Olala, sesudahnya perutku mual mules. 

Bener-bener kacau deh. Semuanya serba tidak teratur. Yang lainnya? Belajar bahasa Arab mandeg. Nonton DVD nggak sempet. Belajar masak memasak terhambat. Sulamanku ter-pending dan nggak sempet kepegang lagi. Nonton dan baca berita jarang, hanya sesekali saja. 

Jangan tanya tentang hafalan Quranku, nggak nambah-nambah soalnya. Masih muter di situ-situ. Huwaaa... gimana ini? Waktu untuk meningkatkan kualitas diri tersita sudah. Tampaknya aku harus kembali memanaje waktu.

Kini, aku merasa di ujung lelah. Padahal pekan-pekan ke depan masih akan kembali disibukkan dengan jadwal mengajar. Maka, biarlah hari ini kunikmati dengan istirahat untuk memulihkan kondisi fisikku. Moga-moga esok kembali fit dan siap beraktivitas lagi. 

Ya Allah, beri aku kekuatan dan kesehatan untuk melewati hari-hari ke depan. Semoga bulan ini dapat kulalui dengan baik. 

Sebenarnya ingin sekali pergi berlibur. Sungguh, pada saat-saat seperti ini, aku kangen banget liburan. Tapi apalah daya, dewi fortuna belum berpihak padaku, keadaan belum mengizinkan. Sekarang hanya berusaha sabar menunggu masa liburan tiba.  

Ya Allah, pertemukan aku dengan bulan depan. Begitu banyak agenda liburan yang ingin kulakukan.

Aprilku: bulan banjir KBM, bulan hujan, dan bulan ujian kesabaran


Waktu menunjukkan pukul 18.00 ketika aku keluar dari kelas. Lalu, aku beranjak minta tanda tangan. Setelah merapikan tas, aku ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Iseng, kupandangi wajahku di depan cermin. Ada kelelahan terpampang jelas di sana. Ada keletihan yang menyeruak. Tubuhku juga rasanya lemas. Kepala pusing. Mata ngantuk. Huwaaaa... kelelahan ini rupanya sedang berada di puncak-puncaknya.

Perjalanan pulang kuhabiskan dengan tidur ayam. Mata merem melek menahan kantuk. Sebentar tertidur, sebentar terbuka. Hah, keadaanku benar-benar menyedihkan. Wajahku sudah tidak karuan. Beruntung saat dalam perjalanan kusaksikan hujan turun, rasa lelahku sedikit terobati. Hujan selalu membawa aroma kesejukan yang menenteramkan. Maka, aku selalu menyambutnya dengan sukacita bagai anak kecil yang mendapat mainan baru.

Saat turun dari angkot, iseng saja kurentangkan kedua tangan. Aku tengadahkan wajah ke langit. Berharap butiran-butiran air hujan itu mengusir jauh lelah yang terlukis di wajahku. Hmm... ada sensasi ajaib yang kurasakan. Ah, benar-benar menyenangkan. Suasana malam ini amat romantis. Basah dan berair. Menambah syahdu suasana malam minggu... hehehe...

Aku teringat tanggal. Yee, ini udah di penghujung April. April adalah bulan supersibuk. Begitu banyak KBM yang mesti kutuntaskan (sampai hari ini 78 KBM berhasil kulampaui... ckckck). Begitu banyak soal-soal intensif yang mesti kuisi (dihitung-hitung ternyata ada 4 paket intensif SMA, 4 paket intensif SMP, 4 paket intensif SD, 6 paket soal SNMPTN, 2 paket soal pemantapan... ckckck... sungguh terlalu... soal-soal itu udah sukses membuat kepalaku muter-muter 7 keliling dan berdenyut-denyut). Tolong.. tolong.. :D

Meski lelah, rasanya puas bisa melewatinya. Sungguh luar biasa aku bisa melalui bulan ini tanpa sakit yang mengharuskan istirahat dan tidak bisa ngantor. Yah, dari kemarin-kemarin badan memang sudah terasa remuk redam. Tapi, alhamdulillah masih bisa berjalan dan berdiri. Jadi, bulan ini aku masuk kantor secara utuh alias full, bahkan jatah CH pun sampai tak sempet diambil. Terima kasih ya Allah atas limpahan karunia sehat dari-Mu.

Eits, 78 KBM? Wow, fantastis! ckckck...Itu berarti lumayan banyak KBM progresif yang aku kumpulkan. Ah, jika dirupiahkan lumayan lebih dari cukup untuk membeli buku baru dan mengganti buku-bukuku yang hilang itu. Jika mengingat akan hal itu, senyumku sumringah. Ya ya, tak apa lah merasa cape. Sebentar lagi keletihan itu akan terbayar sudah.

Inikah jawaban dari kalimat yang kuyakini itu bahwa ketika Allah mengambil sesuatu, Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik...??? Rupanya Allah sudah mengganti yang hilang itu dengan memberiku rezeki tambahan yang jika dihitung-hitung berkali-kali lipat dari total harga buku yang hilang. Ya Allah, terima kasih atas limpahan rezeki-Mu.

Rupanya mantra man shabara zhafira (siapa yang bersabar akan beruntung) yang dipegang kuat-kuat oleh Alif (tokoh cerita dalam novel Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna) memang ajaib. Dengan berusaha sabar dan menerima kehilangan buku dengan lapang dada, kini aku mendapat keberuntungan itu. Subhanallah...

Aku, Buku, dan Angkot





Midnight Sun - BSR 1 - BSR 2 - BSR 3 - BSR 4 - BSR 5 - BSR 6 - BSR 7 - BSR 8 - BSR 10 - Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin - Backpacker Surprise - Kidung Kembara - Mencari Belahan Hati - The Journey - Summer in Seoul - Winter in Tokyo - The Gogons - Autumn in Paris - Eliana - Fate - Spring in London - Wisdom of Womens - Bidadari Bumi - Rumah Seribu Malaikat - 9 Summers 10 Autumns - Negeri 5 Menara (masih dibaca) - Ayahku (Bukan) Pembohong (akan dibaca) - Ranah 3 Warna  (akan dibaca) - Padang Bulan (akan dibaca) - Cinta di Dalam Gelas (akan dibaca).

Banyak bener! ckckck... Pantes akhir-akhir ini kepalaku terasa berat. Ternyata terlalu banyak menyerap kosakata. Terlalu banyak kisah yang memenuhi benak. Uh, rasanya hampir meledak! :D

Deretan buku di atas tidak semuanya milikku. Sebagian buku yang kubaca adalah pinjaman dari teman. Sebagian lagi kubeli sendiri dengan uang hasil kerja keras membanting tulang (lebay :D).

Kebiasaan lamaku kambuh, sobat. Tiada hari tanpa novel (wehehe..). Bukan! Bukan karena aku punya banyak waktu luang, apalagi tak ada kerjaan. Kerjaan banyak sebenarnya. Agendaku cukup padat (alah, sok sibuk ya.. :D). Aku menyengaja membacanya.

Buku-buku itu sengaja kubaca untuk menghalau dan mengusir rasa bosan yang hinggap. Meski menyukai dan menikmati aktivitas harianku sekarang, tetap saja rasa bosan kadang muncul di tengah rutinitas harian yang monoton. Ditambah lagi jarak rumahku ke kantor jauh banget. Beuh, bener-bener perjalanan yang melelahkan. Menguras waktu, tenaga, dan kantong (hehe... yang pernah maen ke rumahku, pasti kebayang kan segimana jauhnya? :D).

Nah, untuk mengisi kekosongan waktu dalam perjalanan sehari-hari dari rumah ke kantor dan untuk mengisi sela-sela waktu di tengah rutinitas harian, aku melahap novel-novel itu satu demi satu (nyam nyam ajib :D). Hasilnya, lumayan membantu. Perjalanan panjangku tak terasa lama. Waktuku tidak berlalu sia-sia amat. Keuntungan lain, aku menemukan inspirasi dan motivasi baru untuk menjalani hari-hari. Saat membacanya, kadang aku tersenyum-senyum sendiri, kadang ikut tergelak atau tertawa terpingkal-pingkal, kadang ikut mencucurkan air mata, kadang ikut geram setengah mati, dan kadang ikut deg-degan tak karuan. Membaca kisah-kisah itu membuatku merasa senang. Banyak pelajaran yang bisa kupetik. Mungkin kapan-kapan akan kuulas buku-buku itu satu per satu (semoga terwujud).

Ngobrolin tentang buku sebenarnya membuat hatiku cenut-cenut. Pasalnya, aku tengah kehilangan buku tiga hari lalu. Tidak tanggung-tanggung, langsung tiga biji. Meski berkali-kali mencoba mengikhlaskan, rasanya tetap berat. Kehilangan benar-benar menyakitkan. Walau berkali-kali telah mengalaminya, tetap saja terasa pedih sampai ke ulu hati.

Kenapa bisa hilang? Itu pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut teman-temanku. Yah, rasanya memang agak aneh kalau buku bisa hilang. Tapi itulah kenyataannya. Tiga novelku telah berpindah tangan. Entah ada di tangan siapa sekarang. Novel-novel itu hilang bukan karena dicuri, tapi gara-gara ketinggalan di angkot.

Begini ceritanya, hari itu kedua temanku mengembalikan novel yang mereka pinjam. Yang satu berjudul Twilight dan satu lagi Ayahku (Bukan) Pembohong. Ditambah novel Negeri 5 Menara yang sedang kubaca, akhirnya novel yang harus kubawa pulang berjumlah tiga. Karena tidak muat dimasukkan ke dalam tas, terpaksa novel-novel itu kutenteng di kantong plastik.

Singkat cerita, ketika naik angkot, aku duduk di kursi penumpang sebelah kiri dan novel-novel malang itu kusimpan di kursi. Kebetulan saat itu penumpang sepi. Nah, saat turun dari angkot, aku keluar lenggang kangkung. Benar-benar melupakan novel-novelku. Benar-benar tidak ingat alias tidak ngeh (pas turun memang tidak ada siapa-siapa di angkot, jadi tidak ada yang mengingatkanku). Turun dari angkot, kakiku menuju ATM.

Aku baru sadar tidak membawa tentengan buku saat duduk manis di dalam angkot menuju ke rumahku. Kesadaranku muncul setelah angkot itu bersiap meninggalkan Kota Bogor. Ironisnya, aku benar-benar lupa telah meninggalkan novel-novel itu di mana. Serta merta aku menyetop angkot, lalu turun sembarang di tepi jalan. Setelah menyeberang, aku naik angkot ke arah Bogor.

Saat di angkot itu aku sibuk mengingat-ingat, antara ATM atau angkot 08 Ramayana-Wr. Jambu. Untuk memastikannya, aku kembali ke ATM. Hatiku berharap novel-novel itu tertinggal di sana sehingga kemungkinan besar masih bisa didapatkan kembali. Ternyata di sana tidak ada apa-apa.  Aku pun sempat memastikan dengan bertanya pada satpam yang sedang berjaga. Dia tidak melihatnya.

Berarti novelku ketinggalan diangkot. Angkot itu pasti sudah berjalan ke arah Warung Jambu. Tidak mungkin untuk disusul karena sulit mendeteksi angkot mana yang membawa novelku. Apalagi bila mengingat, begitu banyak angkot 08. Aku sama sekali tidak ingat sudah naik angkot dengan nomor polisi berapa. Bahkan, wajah Pak Sopir pun sama sekali tak muncul di benakku. Itu artinya kemungkinan novelku bisa ditemukan sangat kecil. Seketika ada rasa sedih menerjang. Tubuhku lemas. Aku terpaku seperti orang linglung. Wajahku melongo. Sock berat.

Dengan langkah gontai seperti habis dihajar di ring tinju, aku berjalan ke arah jalan. Lalu, berdiri mematung di pinggir jalan sambil mengamati angkot 08 yang melintas. Kepalaku sibuk melongok ke dalam angkot-angkot itu. Nihil, tak satu pun angkot yang sedang tertangkap membawa novelku. “Kembalikan novelku ya Tuhan,” pintaku berulang-ulang dengan harap-harap cemas. “Ya Allah, selamatkan novelku,” ucapku lirih saat mataku lelah mengamati angkot yang lewat. Akhirnya, kuputuskan pulang saja.

Aku pulang
Tanpa dendam
Kuterima kekalahanku
#SOS

Separuh jiwaku pergi
#Anang

Entah di mana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
#Ari Laso

Beberapa potong lirik lagu di atas memenuhi kepalaku saat melangkah. Hahah.. konyol memang, dalam keadaan sedih masih saja mengingat lirik lagu :D.

Siapa pun yang mengamankan novelku, semoga diberi ilham untuk mengembalikan novel itu ke tanganku (di salah satu novel itu ada nomor HP-ku). Sampai kini, aku masih berharap orang itu akan menghubungi.  “Mungkin dibaca dulu kali. Nanti kalo udah selesai, baru dikembaliin,” begitu hibur teman-temanku. Yah, meski sampai detik ini tak ada kabar yang dinantikan tersebut, aku tetap berharap. Maka, aku akan terus menunggunya selama seminggu ke depan.

Jika pun nanti, novel itu tidak kembali lagi, aku akan berusaha mengikhlaskannya. Insyaallah aku akan membeli novel baru dengan judul yang sama. “Ketika Allah mengambil sesuatu, Dia akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik”. Hanya itu kalimat ampuh yang kuucapkan berulang-ulang untuk menguatkan pertahananku yang selalu jebol jika mengingat kejadian ini.

Dalam kesempatan ini, aku mengetuk hati pembaca supaya ikut berdoa untukku. Semoga aku diberi keikhlasan hati dan limpahan rezeki sehingga bisa secepatnya membeli novel lagi. Amin. Syukron ^__^

Hujan Membawa Berkah


Hari ini super duper dingin :D
Sepanjang hari badanku kedinginan, apalagi pas ngajar di ruang 11. 
Wuih, tambah menggigil. 
Secara tuh ruangan kecil mungil, jadi AC-nya kerasa banget. 
Kata siswa-siswa sih serasa berada di kutub selatan. 
Padahal mah kita nggak pernah datang ke kutub :D
Mungkin karena kutub itu terkenal dengan hawanya yang dingin, jadi ketika mendapati suasana dingin, langsung teringat kutub :D

Hari ini hujan sempurna membungkus kota kami 
(sungguh tak salah kalau Bogor dijuluki Kota Hujan). 
Hujanlah yang menjadikan hawa sekitar makin dingin. 
Hujan hari ini turun beruntun. 
Sehari tiga kali. 
Udah mirip minum obat aja kan? :D
Eh, mirip jadwal makan juga :D
Pagi-pagi setelah aku selesai sarapan, tiba-tiba hujan turun tak bisa dibendung. 
Deras banget. 
Untung pas mau berangkat, agak reda. 
Terus, siang sehabis menyantap makan siang, hujan kembali turun. 
Tidak terlalu deras, namun cukup membuat jalan-jalan basah. 
Nah, sore hari sekitar pukul 17.00, hujan turun lagi.
Suasana sore yang biasa ceria akhirnya berubah gelap.

Saat pulang dari kantor, kulihat sisa-sisa air hujan masih tertinggal di jalanan. 
Hujan yang deras telah berubah menjadi gerimis. 
Sebenarnya, asyik sekali untuk hujan-hujanan (hehe). 
Tapi, karena harus melindungi tas, mau tak mau aku tetap memasang payung. 
Sepanjang jalan kulihat basah. 
Udara terasa lebih sejuk. 
Kaca-kaca mobil berembun.
Pohon dan rumput basah semua.
Membuat suasana jadi gimana gitu... bisa dibilang romantis sih (hehe).
Yang pasti, berjalan di bawah gerimis itu menyenangkan :D

Meski suhu udara menjadi lebih dingin, aku tetap suka kalau hujan turun. 
I like rain ^__^
Kala hujan, suasana alam terasa menentramkan.
Semua polusi dan debu-debu seakan hilang bersama aliran air hujan.
Lagipula, memandang titik air hujan yang berjatuhan itu menyenangkan, kawan.
Aku suka menjulurkan tangan hingga tetes-tetes air hujan menimpa telapak tangan. 
Rasanya ajaib :D

Hujan itu rahmat dari Allah untuk makhluk-Nya.
Hujan adalah berkah bagi penghuni bumi.
Hujan selalu membawa berkah bagi siapa saja yang menyadarinya.
Dengan air hujan, tumbuh-tumbuhan bisa hidup.
Hewan-hewan bisa mendapatkan air minum.
Tengoklah Pak Tani di sawah! Wajahnya gembira jika hujan tiba.
Air hujan itu akan mengairi sawahnya yang kekeringan.
Lihatlah para bocah di pinggir jalan! Langkahnya gesit menyambut penumpang yang turun dari angkutan.
Yupz, hujan membawa rezeki sendiri buat mereka.
Karena hujan, mereka memiliki tambahan penghasilan.
Jadi, betul kan kawan? Hujan itu membawa berkah.
Sepakat??? :D

Mengapa Aku Mudah Menangis?


 
Jujur, aku mudah menangis (biarin ah dicap cengeng juga... :P). Entahlah, hatiku gampang terharu. Ketika membaca, aku suka larut dalam cerita. Imajinasiku akan bekerja dan benakku dipenuhi gambaran kejadian seperti yang tertera dalam cerita. Maka, aku pun merasa seolah-olah sedang mengalami kejadian itu. Jika membaca cerita yang menyentuh hati, air mataku akan menitik. Apalagi jika cerita itu makin menyedihkan, biasanya aku menangis sesenggukan (pertahananku benar-benar jebol... :D). 

Saat menonton pun, mataku sering juga dipenuhi air mata. Itu kalau kisah yang kutonton mengharukan. Lagi-lagi aku mudah terbawa emosi. Bahkan, saat menyaksikan adegan memilukan dalam kehidupan nyata pun, mataku suka berkaca-kaca. Aku suka tidak tahan melihat penderitaan orang lain. Apalagi jika aku sendiri atau orang-orang tersayang yang mengalami kejadian memilukan itu, pastilah aku menangis juga. Oh, Tuhan... aku benar-benar putri menangis (lebay.com :D).

Teman-teman kadang heran jika melihat mataku merah dan bengkak. Tentu secara spontan mereka akan bertanya, "Kenapa?". Aku hanya bisa tersenyum sambil pura-pura mencari alasan atau menjawab dengan asal, "Kelilipan debu." (hehe). Maaf deh, terpaksa kurespon begitu karena aku malu untuk menceritakan yang sebenarnya (hehe).

Sebenarnya, aku berusaha untuk tidak menangis, tapi membendung air mata itu susah ternyata. Tiba-tiba saja menetes dan mengalir menuruni pipi. Hmm... kadang setelah membaca atau menonton, kepalaku sering pusing. Mungkin akibat menangis tadi. Tapi, anehnya aku tidak kapok membaca cerita-cerita sedih atau menonton kisah-kisah duka. Malahan, aku memiliki pendapat konyol, "Cerita yang bagus adalah cerita yang berhasil memancing air mataku keluar," (hehe).

Penasaran deh, apakah sahabat juga begitu? Menangis diam-diam saat membaca atau menonton cerita mengharukan dan menyedihkan? Wajar saja kan kalau akhirnya aku menangis? (hehe... minta dukungan nih ceritanya :D).

Kalau lagi sadar (hehe), kadang aku menertawakan aksi menangis yang kulakukan. Ah, rasanya konyol. Terkesan kekanak-kanakan. Pasti akhirnya aku menjitak kepalaku sendiri karena gemas (hehe). Timbul pula pertanyaan dalam hati, "Apa aku telah bertindak berlebihan? Apa air mataku terbuang sia-sia?". Ah, biarlah... itung-itung membersihkan mata dari debu-debu (hehe).
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy