RSS
Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liputan. Tampilkan semua postingan

Senja di Atas Rumahku


Hari ini tak ada KBM sore, jadi kuputuskan pulang dari kantor lebih awal. "Aku harus cepat-cepat sampai rumah. Ada hal penting yang ingin kulakukan di rumah," begitu pikirku saat keluar dari kelas. Maka, setelah semua urusan kantor selesai, bergegas aku keluar kantor. Lalu, menaiki angkutan umum yang membawaku menuju rumah. 

Selama perjalanan, aku tak melakukan apa pun. Hanya mataku yang bekerja. Yah, waktu selama perjalanan kuhabiskan dengan melihat-lihat sekeliling. Jarang-jarang bisa menikmati pemandangan sore. Maka, kuedarkan pandangan ke setiap penjuru kota. 

Tampak orang-orang baru pulang kerja. Sama denganku, mereka pun sepertinya tak sabar ingin segera sampai di rumah masing-masing. Terbukti dari langkah kakinya yang panjang-panjang dan bergerak cepat (cuma nebak, hehe).

Angkot-angkot dipenuhi penumpang. Sebagian lagi betah ngetem di pinggir jalan, membuat arah jalan sedikit terhambat. Kendaran pribadi berlalu lalang. Tumpah ruah di jalan-jalan. 

Toko-toko di sepanjang Jalan Surya Kencana sudah ditutup. Beberapa ada yang masih dibuka. Pedagang kaki lima di pasar tradisional mulai membereskan dagangannya dan bersiap-siap pulang. Pedagang makanan yang mangkal di sepanjang jalan sedang sibuk menggelar dagangannya dan merapikan warung tendanya. Beberapa pengunjung mulai berdatangan ke warung tenda dadakan itu. Pengamen tetap bergeriliya dari satu angkot ke angkot lain tak kenal waktu. Pedagang asongan masih sibuk menawarkan dagangan pada orang-orang yang melintas di depannya.

Beruntung setelah melewati BTM, perjalanan lancar tanpa ada kemacetan yang berarti. Seperti yang kuinginkan, aku sampai rumah sebelum azan magrib berkumandang. Sekeliling masih cukup terang. Cuaca yang cerah menjadikan siang seakan terasa lama. Setelah berganti baju, aku segera menjalankan niatku. Berjalan ke teras belakang lewat pintu samping. Ada yang harus kulakukan di sana. Apakah itu? Menatap langit senja, kawan (hehe). Itulah rutinitas sore kalau aku sedang berada di rumah.

Saat tiba di teras belakang, langsung kutengadahkan kepala ke atas. Langit mulai diwarnai semburat jingga. Sungguh pemandangan yang cantik. Mataku amat takjub melihatnya. Bibir kelu tak tahu hendak berucap apa, hanya berbisik lirih "subhanallah".

 


Ya Rabb... siang-Mu telah berlalu. Kini malam-Mu kembali menjelang. Ampunilah kesalahan dan dosa-dosaku. Berilah keberkahan pada malam yang akan kulalui. Tetapkan hatiku agar selalu tertuju pada-Mu. Istiqomahkan aku di jalan-Mu. Semoga aku menjadi hamba yang senantiasa berserah diri pada-Mu. Amin yaa Rabbal alamin.

Iklan Petualangan di Televisi


Kalau malam-malam susah tidur, saya akan menyalakan televisi. Lalu, tangan saya sibuk memindah-mindahkan channel hanya untuk melihat iklan Nutrilon Royal 3 dan Djarum Super (hehe). Saya sedang tergila-gila dengan kedua iklan tersebut. Rasanya tak bosan-bosan menyaksikannya.

Dari segi segmen, tentu saja saya tidak termasuk sasaran dari iklan itu. Saya bukan balita lagi yang harus mengonsumsi Nutrilon. Saya juga bukan perokok. Jadi, produk yang diiklankan itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa bagi saya. Toh saya tak tergoda sedikit pun atau punya niat apa pun untuk membeli produk itu. 

Itu dari sisi pengaruh produk yang diiklankan terhadap konsumen. Tapi, dari segi konsep iklan yang ditayangkan beda lagi. Jujur, iklan itu sudah memberikan efek besar buat saya. Setelah melihat iklan tersebut, naluri dan jiwa petualangan saya serta merta muncul ke permukaan (hehe). Yah, tayangan iklan tersebut telah menggerakkan hati saya. Bener-bener bikin ngiler deh. Mupeng sangat.

Tak percaya? Coba saja dicek! :D





Kedua iklan tersebut memiliki kesamaan tema, yaitu adventure alias petualangan. Slogan yang diusung pun hampir sama: life is an adventure (Nutrilon Royal 3) dan my great adventure Indonesia: my life, my adventure (Djarum Super). Bener kan? :)

Karena bertema petualangan, tentu saja menampilkan sang model iklan yang sedang bertualang di alam bebas menyusuri tempat-tempat indah. Pemandangan yang disajikan bagus. Gambarnya indah dan menarik. Apalagi, yang disajikan keindahan alam Indonesia, terutama dalam iklan Djarum Super. Di iklan ini ada air terjun, gunung, dan pantai.

Gambar yang disajikan dalam iklan Nutrilon pun tak kalah menarik. Apalagi di situ ada bayi-bayi bule yang lucu sedang berlari-lari di tepi pantai dan duduk-duduk di tepi danau. Hanya saja saya kurang tahu persis lokasi pengambilan gambarnya. Hayo di Indonesia atau bukan? Tapi, sepertinya di Indonesia ya?

Meski tidak menayangkan adegan sang model meminum susu atau menghisap rokok, kedua iklan itu tetap menebarkan pengaruh kepada konsumen setianya untuk tetap berlangganan. Pesan dari iklan itu tetap tersampaikan kepada konsumen (waduh, gaya saya udah kayak kritikus ulung aja ya? sok mengomentari begini... haha...). 

Apa coba pesannya? Yah, namanya juga tayangan iklan, pastilah mendorong konsumen untuk mengonsumsi produk yang diiklankan. Anak-anak pasti menunjuk ibunya dan merengek minta dibelikan susu Nutrilon. Abang-abang atau bapak-bapak pasti segera berhambur keluar untuk membeli rokok Djarum Super (meureun... nggak tahu saya kejadian sebenarnya :D). Yang pasti, paling saya salah satu konsumen yang tidak terpengaruh untuk membelinya... xixixi...

Pokoknya saya betul-betul suka dengan tayangan kedua iklan ini. Jempol 4 deh untuk si pembuat (hehe). Keren! :D

Detik-Detik Menjelang UN


Menghitung hari
Detik demi detik

Dua lirik lagu di atas tampaknya pas untuk menggambarkan hal yang sedang dialami oleh seluruh siswa kelas ujung (6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA) di seluruh tanah air. Yupz, sebentar lagi mereka akan menghadapi Ujian Nasional (UN). UN wajib diikuti oleh semua siswa kelas ujung. Artinya, siswa mana pun tidak bisa menghindarinya. Secara langsung meminta keringanan alias dispensasi untuk tidak ikut serta dalam ujian, tentu saja tidak dibenarkan. Bahkan, terkesan konyol :D. Tindakan tersebut tidak bisa diterima karena menyalahi aturan. Mau tak mau mereka harus mengikutinya. Suka tidak suka mereka harus melaluinya.

UN telah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Apalagi dengan iming-iming dan embel-embel syarat kelulusan. Rata-rata nilai yang didapat harus seginilah. Nilai per mata pelajaran harus seginilah. Benar-benar deh membuat nyali mereka tambah ciut. Meski berkali-kali diingatkan bahwa UN itu sama dengan ujian sekolah biasa, tetap saja rasa khawatir menghantui mereka.

"Sebenarnya, kalian tidak perlu takut menghadapi ujian. Perasaan takut akan muncul jika tidak punya persiapan apa-apa. Kalau kalian telah mempersiapkan diri, ujian akan terasa menyenangkan". Begitu argumen yang saya lontarkan untuk menenangkan hati mereka.

"Ujian memerlukan persiapan yang matang. Kalian dituntut mempersiapkan diri sedini mungkin agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Jangan berharap memperoleh nilai yang memuaskan dengan hanya bersantai-santai saja. Harus ada usaha yang giat untuk mencapainya. Jika ingin berhasil dalam ujian, kalian harus belajar dengan serius dan sungguh-sungguh. Juga harus mempersiapkan segalanya dengan teratur dan terencana," kata saya pada mereka di sela-sela KBM.

Nah, selama hampir satu tahun ajaran ini mereka telah melakukan persiapan itu. Sebagian dari mereka mengikuti bimbingan belajar di BP. Saya termasuk salah satu guru yang diberi kesempatan untuk menemani mereka belajar.

Benar-benar tidak terasa. Rasanya baru kemarin mengawali ajaran baru, eh tiba-tiba sekarang hampir berakhir. Waktu memang melesat dengan cepat. Kini tinggal hitungan hari ujian itu akan tiba. Rasa deg-degan tak urung menghinggapi mereka. Kadang kasihan juga melihat mereka. Seharian harus belajar, pagi di sekolah dan sore di BP. Setiap hari berkutat dengan soal-soal. Wajar jika rasa bosan dan enek kadang mereka rasakan. Saya saja kadang merasa mual ketika mengerjakan soal yang seabreg-abreg :D. Tapi, mau bagaimana lagi. Semuanya harus dihadapi. Mereka tetap harus belajar meski rasa lelah sudah diubun-ubun. Paling-paling saya terus-menerus mengingatkan dan memotivasi mereka.

Sekarang tinggal tersisa beberapa hari lagi menuju UN. Untuk mengingatkan siswa-siswa, BP pun telah memasang display pengingat. Setiap cabang BP telah mengekspresikan ide pembuatan display ini sekreatif mungkin. Nah, gambar di bawah adalah salah satu contoh count down yang beruntung mampir di kamera saya (hehe). Cekidot! :D


Semoga di waktu yang tersisa ini mereka bisa mengoptimalkan diri dalam melakukan persiapan. Semoga kita pun bisa lebih optimal dalam membantu mereka. Semoga kita diberi kesehatan yang prima sehingga bisa menemani mereka belajar sampai saat ujian tiba. Semoga siswa-siswa kita pun lulus UN dengan nilai memuaskan. Amin.

Terjebak Kemacetan


di bawah terik mentari,
di antara serbuan debu-debu,
di tengah lalu lalang kendaraan,
di antara hentakan deru-deru,
di tengah pergerakan arus lalu lintas,
motor kami melaju pasti,
membelah jalanan pajajaran yang asri.

jalanan dipenuhi beragam kendaraan.
sisi kiri, kanan, dan tengah dipenuhi mobil.
motor kami terhimpit,
terjebak arus kemacetan.
terlambat sudah untuk berputar,
tak ada waktu untuk berbelok arah.
kami hanya bisa pasrah,
bergerak merayap ke arah depan,
perlahan mengikuti irama kendaraan lain,
sebelum akhirnya berbelok di tikungan,
tepat di depan ekalokasari.

tiba di arah sebaliknya,
bukan kelegaan yang kami temui.
nafas kami tersedak,
mata kami melotot,
wajah kami menganga,
menyaksikan kendaraan berderet-deret,
penuh dan berhimpitan memenuhi jalan.
tak ada lagi jalan pintas,
kami pun mengantre di belakang.

waktu makin bergerak cepat,
tak kenal kompromi,
tak kenal situasi.
keringat mulai bercucuran,
kepala terasa nyut-nyut,
mata perih berkedip-kedip,
rasa pegal datang menyerang,
tapi apalah daya,
kami tak bisa bergerak,
tertahan kendaraan lain.

iseng mataku melihat ke sekeliling
takjub sudah dengan pemandangan sekitar
samping kiri, samping kanan, 
di depan juga di belakang,
mobil-mobil mewah mengerubungi,
kinclong seperti habis dimandikan,
kami hanya bisa berdecak,
ckckck...

jarum jam terus berputar.
tepat ketika kebosanan kami menemui ujungnya,
mobil di depan bergerak.
serta merta motor kami mengikuti,
meliuk-liuk mencari jalan agak lengang.
akhirnya tiba di sebelah kiri jalan,
melaju lumayan lincah,
tanpa banyak penghalang,
namun harus tetap waspada,
saat motor lain tiba-tiba datang,
memotong dan menyergap perjalanan kami,

tepat di persimpangan,
aku minta diturunkan.
sahabatku melanjutkan perjalanan
setelah berpamitan denganku.
kuiringi kepergiannya dengan lambaian tangan,
juga ucapan terima kasih dan nasihat ringan.

mataku meliuk-liuk,
mencari angkutan menuju desa.
sampai pegal tak juga ekor mataku menangkapnya.
kuputuskan berjalan kaki,
melangkah di sisi kiri trotoar.
sementara kendaraan berjejer padat
di separuh jalan yang searah denganku.
oi, oi, batutulis macet total.

aku terus melangkah perlahan-lahan,
tak kuhiraukan pegal di kaki.
berharap di depan ada angkutan yang kutuju,
namun hingga kakiku melangkah jauh,
tak jua ketemui wujudnya.
rasa haus menjalar,
ketika melewati kios penjual es kelapa,
aku berbelok sebentar,
memesan satu bungkus.
transaksi usai, aku meraih bungkusan itu,
cepat-cepat melanjutkan perjalanan,

tiba di pertigaan, 
kuputuskan untuk menunggu saja
sambil menikmati minuman.
panas menyerang,
menit-menit terbuang percuma,
yang ditunggu tak kunjung tiba.
kusaksikan kendaraan hanya bergerak perlahan,
mungkin jalan itu begitu sempit 
untuk menampung kendaraan bejibun.
penantianku dipertaruhkan,
mustahil akan ada angkutan melintas dalam waktu dekat.
aku memikirkan satu kemungkinan,
angkutan ke arah bogor berbalik arah.
oh, tolonglah aku, Allah...

sejurus kemudian pikiranku menjelma,
angkutan ke bogor berbalik arah,
yes, pekikku gembira!
entahlah... 
sopir itu sepertinya mampu membaca isi pikiranku
tapi mustahil.
aha, bisa jadi dia memikirkan hal sama denganku?
oh, no! 
pasti Allah yang mengirimkan ideku di kepala sopir itu.
ya ya, itu lebih realistis.
tak ada yang mungkin bukan bagi-Nya?
ah, akhirnya aku bisa pulang.

*ceritanya aku sedang melaporkan peristiwa dengan gaya berpuisi.
 begitulah hasilnya... wajar kalau agak aneh... :D

Maling yang Selalu Gagal Maning


Dini hari tadi sekitar pukul 02.00, saat terbangun dari tidur, aku mendengar suara-suara agak ribut bin gaduh. Kentungan dipukul berkali-kali. Kalau mendengar dari gema suaranya sih sepertinya agak jauh dari rumahku. Firasatku mengatakan pasti ada pencurian. Eh ternyata benar, keesokan harinya tetangga menceritakan bahwa Pak Haji M yang tinggal di RT sekian kemalingan domba. Ckckck... hari gini masih ada maling? Plis deh ah! :D

Tetanggaku heboh banget bercerita pada ibu. Aku samar-samar mendengarkan di kamar. Ternyata domba Pak Haji M yang diincar si pencuri tidak berhasil dibawa kabur karena terlanjur ketahuan. Pencurinya kabur begitu mengetahui ada orang yang menangkap aksinya. Namun, sayang semilyar sayang karena domba itu udah disembelih oleh si pencuri. Jumlahnya dua pula. Duh duh, kasian banget ya tuh domba (hehe), eh kasian juga Pak Haji M. Pasti beliau syok banget.

Domba Pak Haji M memang udah beberapa kali jadi incaran pencuri. Dulu pernah mau dicuri juga. Udah dikeluarkan dari kandang dan hendak dituntun, eh keburu ketahuan. Akhirnya, kaburlah tuh maling. Dombanya selamat. Beberapa kali terjadi seperti itu.

Nah, rupanya si pencuri tidak putus asa dan pantang menyerah. Semangatnya untuk mencuri domba amat luar biasa. Setelah gagal beberapa kali, pencuri pun menggunakan taktik lain untuk membawa kabur domba Pak Haji M. Maka, digunakanlah trik menyembelih. Namun, lagi lagi gagal maning. Keburu ketahuan. Entah pencurinya yang bernasib apes terus menerus, entah Pak Haji M yang punya firasat baik, entah domba Pak Haji M yang sulit dikendalikan, pokoknya pencurian itu selalu gagal. Namun, pencurian yang terakhir ini bukan hanya menimbulkan kekecewaan dan kesedihan di hati para pencuri, melainkan juga menyisakan kepedihan dan kekecewaan di hati Pak Haji M.

Bagaimana tidak sedih coba? Domba itu udah dipelihara sejak kecil hingga tumbuh menjadi domba gemuk yang sehat. Kalau dijual bakalan laku ratusan ribu. Tapi, dalam sekejap, cuma semalam, hanya beberapa jam, nyawa domba-domba itu melayang di tangan kotor para pencuri. Kini domba-domba itu pergi untuk selama-lamanya (selamat tinggal domba, hiks...hiks...).

Bayangkan kawan! Rasakanlah kawan! Bagaimana tidak sedih jika sesuatu yang kita pelihara, sesuatu yang kita rawat dengan penuh perjuangan tiba-tiba lenyap. Pasti kita juga akan sedih jika mengalami hal serupa. Kita doakan saja semoga Pak Haji M diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Semoga Allah segera mengganti domba-dombanya yang telah mati dengan domba-domba lain yang lebih baik (amin).

Kawan, itu bukan fenomena baru. Bisa dibilang itu hanya praktik pencurian kelas teri. Fakta lain di lapangan seperti yang sering diberitakan oleh media-media massa lebih mencengangkan lagi. Banyak tindakan kriminal yang terjadi di sekitar kita. Aksi kriminal mengambil barang orang lain makin marak. Saya pun pernah menjadi korbannya. Biasanya aksi itu dilancarkan melalui beberapa tingkatan, mulai dari pencopetan, pencurian, penjambretan, penodongan, penghadangan, perampokan, sampai penjarahan yang berujung hingga pembantaian. Hiy, SEREM abis!

Jika ditelusuri alasan mereka melakukan tindakan itu, motif ekonomilah alasan logisnya. Yup, kemiskinan telah menggelapkan mata hati para pencuri sehingga nekad melakukan aksi kejahatan yang dilarang agama. Mereka menggadaikan keimanannya dan mengambil jalan pintas untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

Ironis memang, negeri kita kaya raya. SDA-nya melimpah ruah. Harusnya dengan SDA yang ada, rakyat Indonesia bisa mengecap kemakmuran. Namun, karena SDA kita dikelola pihak asing dan para kapitalis, akhirnya kekayaan itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Yang kaya makin kaya, sedangkan yang miskin makin miskin.

Ditambah lagi, hukum yang diberlakukan di negeri kita masih timpang. Hukuman yang diterapkan tidak membuat jera para pelaku kriminal. Makanya, aksi kejahatan sulit dibendung, bak jamur di musim penghujan. Jelaslah hukum buatan manusia memang tidak akan membawa kebaikan, tapi mendatangkan kehancuran.

Entahlah, kapan derita yang menimpa rakyat kita akan berakhir. Sudah saatnya kita mencampakkan aturan manusia dan kembali menerapkan aturan-Nya di semua lini kehidupan, termasuk aturan dalam bidang ekonomi. Niscaya keberkahan akan melingkupi negeri kita tercinta dan kemakmuran akan menghampiri rakyat kita.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan kepada kawan-kawan agar selalu hati-hati. WASPADALAH, KAWAN! WASPADALAH... KEJAHATAN ADA DI MANA-MANA! :D

Asyiknya Mengawas Try Out


Tahun ajaran ini aku kembali mengawas TO akbar yang digelar BP. Lagi dan lagi. Ya, selama terjun di BP, aku selalu terlibat menjadi pengawas. Entahlah, aku selalu kena sasaran ditawari. Gawatnya, aku tak tega menolak tawaran itu (hehe). Apa tampangku kelihatan penurut? (haha)

TO akbar termasuk salah satu hajatan rutin BP tiap tahun. Visi utamanya tentu untuk menjual BP ke masyarakat. Sederhananya, sebagai ajang promosi lah biar BP lebih dikenal oleh masyarakat (khususon siswa-siswa dan orang tua siswa). Lepas dari itu, TO juga bisa dijadikan ajang unjuk kemampuan oleh para siswa sebelum mereka menghadapi ujian sesungguhnya. Maka, tak heran peserta yang mengikuti TO tersebut selalu membludak. Alhamdulillah memang. 

Keterlibatanku dalam TO tentu bukan sekadar iseng atau cuma mengisi waktu luang. Sebenarnya lebih enak istirahat di rumah daripada mesti lembur di hari libur. Mana harus berangkat pagi-pagi pula. Tapi, aku punya alasan sendiri yang menggiringku untuk mengiyakan tawaran mengawas. 

Sebagai guru (layak nggak ya aku menyandang predikat ini? perasaan berat banget :D), aku ingin mendampingi para siswa dalam uji kemampuan ini. Paling tidak, aku berharap kehadiranku bisa memberi motivasi moral pada mereka (halah, sok orang penting, haha..). Di sisi lain, karena TO BP diadakan di sekolah-sekolah, aku jadi tak ragu-ragu untuk menerima tawaran mengawas. Aku suka berada di lingkungan sekolah. Paling tidak, mengawas TO sedikit mengobati kerinduanku terhadap sekolah. Sungguh, aku kangen mengajar di sekolah. Sangat rindu malah (hehe).

Sekolah adalah tempat kelima yang kusukai setelah masjid, rumahku, gunung, dan pantai. Berada di sekolah mengingatkanku akan jati diri. Makin memantapkanku mencintai profesi yang kugeluti. Menatap ruang-ruang kelas yang berjajar dan bertingkat, bangku-bangku yang berbaris rapi, ruang guru yang penuh meja, ruang perpustakaan yang penuh buku, atau halaman sekolah yang indah, amat menyenangkan. Seolah-olah ada spirit baru yang meresap ke dalam hati. 

Terbayang dalam pelupuk mataku para siswa antusias belajar di kelas, kemudian saat istirahat ramai-ramai berkunjung ke perpustakaan. Tergambar dalam benakku para guru berkumpul di ruang guru sambil mendiskusikan siswa yang diajarnya dan materi yang akan diajarkannya. Terbayang pula para siswa berlari-lari di halaman sekolah atau sekadar bergerombol di depan kelas saat pelajaran belum dimulai. Sungguh, bayangan yang mengharu biru.

Baiklah, sekarang kita kembali ke masalah TO saja. Maaf tadi agak melantur (hehe). TO akbar yang digelar BP ditujukan untuk semua tingkat, mulai dari SD sampai SMA. Hanya khusus tahun ini, TO SMA urung dilaksanakan. Entah apa alasan jelasnya. Masalah teknis mungkin. Pelaksanaan TO berurutan, selang dua pekan dari TO tingkat SMP ke TO tingkat SD. TO berlangsung dari pukul 08.00 s.d. 11.30. Pelajaran yang diujikan dalam TO sesuai dengan mata pelajaran yang di-UN-kan. Sejauh jangkauan penglihatanku, TO BP mendulang sukses dari tahun ke tahun.

Stop! Jangan bayangkan mengawas itu membosankan (hehe). Memang waktu 3,5 jam yang mesti dilalui lumayan panjang dan lama. Tapi, Ada banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang cuma duduk-duduk manis mengawasi para siswa mengerjakan soal. Duduk doang sih dijamin bakalan terserang bosan akut (hehe). Makanya, aku selalu menerapkan trik-trik pengusir bosan, seperti sms-an dengan teman yang juga sedang mengawas. Nih dia cuplikan sms-nya (smsku dan Giyanti). Harap maklum sodara-sodara... karena kami berdua terobsesi menjadi wartawan dan presenter, jadi sms-nya begini (haha).

Gie --> INFO: hening. semilir angin hembuskan udara dingin bau tanah diguyur hujan gerimis tadi pagi. View dari ruang 12 SMANSA sajikan sisi gereja yang megah. Demikian sekilas info dari Bogor. Ganti!


Ai --> Info diterima. Dengan ini saya laporkan keadaan ruang 1 lantai 1 SMANSA aman dan terkendali. Semua peserta hanyut dengan pikirannya masing-masing, sementara tangan-tangan mungil mereka bergerak-gerak lincah di atas lembar soal. Demikian info dari saya. Nantikan liputan berikutnya!

Tak lupa aku selalu menyiapkan buku dari rumah. Bosan sms-an, aku bisa membaca. Kalau bosan membaca, bisa beralih ke HP untuk listening (music) dan fesbukan. Bosan nulis status atau komen-komenan di fesbuk, aku bisa jalan-jalan di lorong-lorong meja siswa sambil memeriksa pekerjaan mereka. Lelah berjalan-jalan, aku bisa menjalankan hobiku, yaitu memanfaatkan kamera HP (hehehe). Nih dia hasil jepret-jepretnya.

siswa-siswa serius duarius mengerjakan soal (kekekek)


 lucu-lucu deh ekspresi dan gaya mereka ^_^


 
ini tampang serius mereka dari depan, ckckck.. merhatiin apa sih, De? hehe

Akhirnya, waktu 3,5 jam tak terasa lama. Jarum jam merambat pasti, dari angka 08.00 menuju angka 11.30. Maka, berakhirlah TO. Para siswa bubar, pulang ke habitatnya masing-masing (hehe).

Demikian liputan TO akbar dariku. Sampai jumpa di TO akbar tahun depan (kalau ada umur panjang dan aku ditawari lagi mengawas ya... hehe).

Wajah Pasar Lawang Seketeng Sore dan Malam Hari



Dari Terminal Cihideung aku naik angkutan kota 04A jurusan Cihideung-Ramayana. Kala itu keadaan cuaca sangat cerah. Sinar mentari begitu menyengat kulit. Udara pun panas sekali. Aku merasa kepanasan berada dalam angkutan itu. Apalagi aku duduk di pojok bangku sebelah kiri. Keringatku bercucuran. Sambil mengelap keringat dengan tisu aku menghitung jumlah penumpang. Ternyata hanya ada enam orang. “Wah, masih lama dong,” kataku dalam hati. Akan tetapi, tak lama kemudian sopir angkutan itu segera menjalankan mobilnya.
Di bawah terik matahari mobil itu melaju dengan kencang di atas jalan aspal yang licin. Semilir angin menerobos masuk melalui kaca jendela yang terbuka. Hembusannya memberikan aroma kesejukan. Suasana dalam angkutan sangat hening. Masing-masing orang larut dalam pikirannya sendiri. Aku menikmati perjalanan itu. Sepanjang jalan mataku tak henti-hentinya menatap pemandangan alam yang menakjubkan. Keadaan daerah sana masih asri. Sawah dan kebun mudah ditemui di sepanjang jalan. Pohon-pohon rindang tumbuh di sisi kiri dan kanan jalan. Hal itu menambah suasana menjadi teduh.
Dua puluh menit kemudian, angkutan itu memasuki wilayah Kota Bogor. Aku baru menyadari bahwa sejak tadi angkutan itu tidak berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Jumlah penumpang masih tetap sama seperti ketika angkutan itu berangkat dari terminal. Mungkin karena itulah angkutan tersebut bisa secepat itu berada di wilayah Kota Bogor.
Aku masih mengamati keadaan sekeliling. Memasuki Wilayah Kota Bogor cuaca mulai mendung. Arus lalu lintas di jalan raya tersebut berjalan lancar. Namun, ketika angkutan itu memasuki Gang Aut, lalu lintas jalan tersendat. Penumpang mulai turun satu persatu. Akhirnya, yang tersisa hanya dua orang, yaitu aku dan seorang bapak yang berusia kira-kira 50 tahun. Tidak lama kemudian, bapak itu pun turun tepat di dekat Pasar Lawang Seketeng Bogor. Walaupun keadaan jalan macet, aku tidak memutuskan segera turun dari angkutan itu. Hal itu karena kupikir jalan untuk menuju ke tempat penyetopan angkutan berikutnya masih jauh. Jadi, aku tetap duduk dalam angkutan itu.
Angkutan kota itu akan melewati Pasar Lawang Seketeng, tepatnya melalui jalan berbentuk horizontal. Di sekitar jalan berbentuk horizontal aku menyaksikan banyak mobil angkutan berderet panjang. Mobil-mobil itu hanya bergerak secara perlahan. Suasana sangat ramai dan bising. Suara klakson berbunyi nyaring. Pedagang asongan menawarkan dagangannya kepada penumpang yang berada dalam angkutan. Sebagian toko yang ada di sisi kiri dan kanan jalan ada yang sudah tutup dan sebagian lagi ada yang masih buka. Para pedagang kaki lima menggelar dagangannya di depan toko-toko itu.
Aku masih asyik memperhatikan suasana di sana sampai tiba-tiba sopir angkutan itu mengejutkanku.
“Mau kemana, Neng?” tanya sopir.
“Ke terminal bus,” jawabku spontan.
“Mendingan turun aja, jalan ke arah sana, soalnya pasti lama banget. Malahan kadang-kadang sampai satu jam,“ ujar sopir itu sambil mengangkat jari telunjuknya untuk menunjukan arah jalan.
Aku pun turun dari angkutan. Kuserahkan beberapa lembar uang ribuan kepada sopi itu.
“Makasih, Mang,” ucapku sambil tersenyum.
Ketika turun dari angkutan itu cuaca bertambah mendung. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Kuayunkan langkah kaki secepat mungkin. Aku berjalan melewati Pasar Lawang Seketeng. Kususuri setiap sudut pasar itu. Di sana banyak para pedagang kaki lima. Aneka sayuran, buah, bumbu dapur, perabot rumah tangga, dan pakaian jadi dijual di pasar itu. Keadaan pasar tradisional sore itu masih ramai. Para pembeli banyak yang berkunjung ke sana. Ketika sampai di titik pertemuan antara jalan berentuk vertikal dan horizontal, aku memutar gerak tubuh ke arak kanan.
Pada jalan yang berbentuk vertikal itu kusaksikan banyak pedagang mulai mengemas barang dagangannya. Namun, sebagian ada juga yang masih sibuk melayani pembeli. Di tengah-tengah jalan itu ada mobil pengangkut barang yang berhenti. Kuli panggul sibuk menurunkan barang dari mobil. Kemudian, memasukannya ke dalam toko. Karena ada mobil tersebut, perjalananku sedikit terhambat. Terpaksa kuputar badan dan mencari jalan yang lebih lebar. Ketika hampir mau sampai ke ujung jalan, hujan turun. Para pedagang pun sibuk membereskan barang dagangannya.
Aku berlari agak kencang. Lima menit kemudian, aku telah berada di jalan raya. Aku pun segera menyetop mobil angkutan kota yang menuju ke Terminal Bus Baranangsiang.
Tepat menjelang bedug Magrib, pengajian telah selesai. Sebelum pulang, terlebih dahulu aku melaksanakan salat Magrib. Karena hujan masih lebat, aku memutuskan untuk tidak langsung pulang. Aku dan teman-teman asyik berbincang-bincang di teras masjid sambil menunggu hujan reda. Tak terasa waktu mulai merangkak memasuki malam. Ketika kulihat jam tangan, waktu menunjukan pukul 20.00. Setelah hujan agak reda, aku memaksakan untuk pulang. Dengan menumpangi angkutan kota 06 jurusan Ciheuleut-Ramayana aku akhirnya berada di Bogor, tepatnya berada di samping Bogor Plaza. Kemudian, berjalan kaki melewati Pasar Lawang Seketeng. Aku terpaksa mengambil jalan itu karena mobil angkutan yang harus kutumpangi ada di jalan dekat pasar itu.
Suasana Pasar Lawang Seketeng pada malam hari sangat sepi. Semua toko yang berada di sepanjang jalan sudah ditutup. Begitu pun dengan para pedagang kaki lima. Keadaan jalan di sana sangat lengang dan agak gelap. Hanya ada sedikit cahaya lampu yang memancarkan sinarnya ke pasar itu.. berbeda dengan jalan yang berada di depan Bogor Plaza, keadaannya terang benderang. Jalan yang kulalui becek dan kotor. Bau sampah busuk tercium. Baunya menyengat hidung dan menimbulkan rasa mual. Sisa air hujan masih tergenang. Aku terpaksa mengangkat tepi baju bagian bawah untuk menghindari cipratan air.
Aku berjalan sambil mengamati keadaan sekeliling. Tidak banyak orang yang melewati pasar itu. Hanya ada beberapa orang yag lewat. Di depanku ada dua orang bapak-bapak. Sementara, agak jauh ke belakang terlihat dua orang ibu-ibu berjalan pelan sambil menjinjing plastik belanjaan. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.
Sorangan wae, Neng,” ujar seseorang di balik lapak.
Aku berhenti sejenak. Kemudian, menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Sepertinya itu adalah suara seorang laki-laki. Detik berikutnya, aku kembali berjalan. Ketakutan menyergapku. Kemudian, aku mempercepat langkah kaki. Tepat di ujung jalan ada angkutan kota 04A yang lewat. Aku pun segera naik ke mobil itu.

Wajah Pasar Lawang Seketeng Siang Hari



Matahari tepat di atas kepala. Sinarnya sangat menyengat dan menimbulkan pusing. Udara siang itu sangat panas. Tenggorokanku terasa kering. Aku melangkah gontai. Mataku berkeliaran. Sambil berjalan pelan, kuamati keadaan Pasar Lawang Saketeng. Sesekali aku berhenti berjalan memperhatikan gerak-gerik pedagang dan pembeli. Ternyata menyenangkan melihat tingkah laku mereka.
Toko-toko grosir yang ada di kiri dan kanan jalan sudah dibuka. Tampak para pekerja keluar masuk sambil memanggul barang dagangan. Para pedagang kaki lima sudah memajang barang dagangannya di sisi kiri dan kanan jalan. Sepanjang jalan dipenuhi oleh para pedagang. Ada pedagang pakaian, sepatu, sandal, buah, sayuran, dan minuman. Mulut mereka tak henti-hentinya menawarkan dagangan. Banyak orang yang melintas di situ. Ada yang sekadar lewat. Ada juga yang sambil berbelanja. Banyak pula mobil pengangkut barang yang di parkir di tengah jalan. Para pemanggul sibuk menurunkan barang-barang dari mobil tersebut. Kemudian, diangkut ke dalam toko.
Keadaan Pasar Lawang Saketeng siang itu berbeda dengan keadaan pagi hari ketika aku datang ke sana. Sisa air hujan yang tergenang di jalan sudah kering. Sampah-sampah sisa sayuran sedikit berkurang. Jalan yang kulalui tidak lagi becek atau kotor. Hanya aroma bau masih tercium. Para pembeli sayuran yang berbelanja di pasar itu tidak sebanyak di pagi hari. Kalau pagi, selain harganya murah, sayuran yang dijual juga masih segar, sedangkan kalau siang sudah layu dan tinggal sisanya saja.
Aku berjalan di sisi jalan sebelah kanan. Tampak olehku pedagang buah berjajar menggelar dagangannya. Bermacam-macam buah dijual di sana. Ada buah semangka, mangga, blewah, melon, jeruk, apel, anggur, dan alpukat. Mereka berteriak menawarkan dagangannya padaku ketika aku lewat. Setelah melihat-lihat, akhirnya aku tergoda untuk membelinya. Aku memutuskan membeli buah semangka. Sekian ribu uang di tanganku berpindah ke tangan penjual. Sebagai gantinya, aku diberi satu buah semangka. Kemudian, aku melangkah pulang.

Wajah Pasar Lawang Seketeng Pagi Hari


Hari mulai terang. Matahari bersinar. Aku sedang berada di tengah keramaian pasar. Sambil berjalan pelan, aku mengamati keadaan sekitar. Kulirik jam di pergelangan tangan, ternyata jarumnya menunjukkan angka 06.00. itu berarti, cukup lama aku berada di tempat ini sejak matahari terbit. Suasana alam yang tadinya gelap berubah terang. Lampu-lampu di depan toko dan kios-kios dipadamkan.

Aktivitas pagi di Pasar Lawang Seketeng Bogor sedang dimulai. Suasana tampak riuh dan ramai. Banyak orang berlalu lalang. Para pedagang sembako, sayuran, daging, buah-buahan, dan bumbu dapur berkumpul dan berjualan di sana. Mereka tengah tenggelam dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sibuk melayani pembeli. Ada juga yang terus berteriak menawarkan dagangannya. Para pembeli yang kebanyakan ibu-ibu tengah asyik berbelanja. Ada yang sedang berkeliling sambil menjinjing keranjang sayuran. Ada yang sedang memilih-milih sayuran. Ada juga yang sedang tawar-menawar harga dengan penjual. Itulah gambaran umum Pasar Lawang Seketeng pada pagi hari.

Hawa dingin menusuk. Beberapa saat aku kembali merapatkan jaket yang kukenakan, lalu memutuskan berkeliling. Kususuri setiap sudut pasar. Tampak sampah-sampah sisa sayuran berserakan. Sangat mengganggu pandangan. Bau sampah busuk menggelitik hidung. Sisa air hujan kemarin masih tergenang di sebagian jalan. Becek dan kotor. Begitulah keadaan pasar tradisional: bau, becek,kotor, dan kumuh.

Pasar Lawang Seketeng terletak di depan Bogor Plaza, Jalan Surya Kencana. Jika dilihat dari atas gedung Bogor Plaza, bentuk pasar itu seperti huruf T. Ada dua jalan di pasar itu, yaitu jalan memanjang dan mendatar. Arah masuk ke pasar tersebut bisa dari Gang Aut atau Gang Pedati. Biasanya kendaraan yang memuat barang masuk dari arah Gang Pedati, sedangkan mobil angkutan masuk dari arah Gang Aut.

Jalan menuju pasar beraspal dan bisa dilalui kendaraan. Keadaan jalan cukup bagus. Tampaknya baru saja diaspal. Ukurannya cukup lebar. Hanya kalau ada mobil masuk, pejalan kaki akan terhambat. Apalagi jika ada mobil berhenti, pasti terjadi kemacetan. Seperti pagi itu, ketika sedang berkeliling, jalan di depanku terhalang mobil bak terbuka. Akhirnya, aku mengambil jalan ke sebelah kanan. Ketika sampai di titik pertemuan antara jalan mendatar dan memanjang, aku menyaksikan banyak angkutan berderet panjang. Suasana amat bising. Suara klakson nyaring saling bersahutan.

Di sepanjang kiri kanan jalan memanjang dan mendatar terdapat ruko. Beberapa toko yang menempati ruko tersebut masih tutup. Di depan ruko-ruko itulah para pedagang menggelar dagangannya. Aneka sayuran, buah, bumbu dapur, baju, peralatan rumah tangga, dll. dijual di sana.
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy