RSS
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Bisikan dari Hati


Aku menyukainya," bisik gadis itu pada bintang gemintang. Saat itu ia tengah duduk-duduk santai di teras rumahnya sambil asyik menikmati hamparan langit yang berkelip-kelip penuh cahaya.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya sang bintang penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya sang bintang penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap sang bintang akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa sang bintang.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada rembulan. Saat itu ia tengah menatap langit kelam yang hanya diterangi cahaya bulan.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya rembulan penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya rembulan penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap rembulan akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa rembulan.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada air hujan. Saat itu ia tengah menatap butir-butir air hujan yang berjatuhan menimpa tanah pekarangan rumahnya.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya hujan penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya hujan penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap hujan akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa hujan.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada pelangi. Saat itu ia tengah menatap lengkungan pelangi yang muncul sore-sore sesaat setelah hujan.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya pelangi penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya pelangi penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap pelangi akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa pelangi.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada bunga-bunga yang cantik nan elok. Saat itu ia tengah berkeliling di taman bunga sambil bersenandung kecil.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya bunga-bunga penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya bunga-bunga penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap bunga-bunga akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa bunga-bunga.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada langit biru yang terhampar luas. Saat itu ia sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kantor. Wajahnya menengadah untuk beberapa lama.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya langit penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya langit penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap langit akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa langit.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada awan putih yang berarak. Saat itu ia sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kantor. Matanya lurus menatap awan hingga tak berkedip untuk beberapa saat.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya awan penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya awan penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap awan akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa awan.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada mentari pagi. Saat itu ia tengah menikmati udara pagi di teras rumahnya sambil menatap kemilau warna keemasan yang muncul di ufuk timur.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya mentari penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya mentari penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap mentari akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa mentari.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada senja yang menjingga. Saat itu ia tengah menikmati matahari tenggelam di depan rumahnya.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya senja penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya senja penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap senja akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa senja.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada gunung yang menjulang tinggi. Saat itu kakinya tengah melangkah ringan menaiki jalan menuju gunung.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya gunung penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya gunung penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap gunung akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa gunung.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada hamparan kebun teh yang tertata rapi. Saat itu iaberjalan-jalan di sekitar kebun teh.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya kebun teh penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya kebun teh penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap kebun teh akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa kebun teh.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada ilalang. Saat itu ia sedang duduk-duduk santai sambil menyantap makan siang di antara ilalang yang menjulang.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya ilalang penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya ilalang penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap ilalang akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa ilalang.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada rerumputan yang bergoyang-goyang. Saat itu ia tengah berjalan menikmati udara segar pegunungan.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya rumput penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya rumput penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap rumput akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa rumput.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada jajaran pohon-pohon tinggi. Saat itu ia sedang berjalan menikmati pemandangan alam pegunungan.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya pohon penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya pohon penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," ucap pohon akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa pohon.

"Aku menyukainya," bisik gadis itu pada kamarnya yang hening. Saat itu ia sedang berbaring di tempat tidur sambil mendengarkan alunan nasyid dari HP-nya.
"Seperti kau menyukaiku?" tanya kamar penasaran.
"Lebih dari itu," jawab gadis itu sambil tersenyum manis.
"Kau yakin dia akan membahagiakanmu?" tanya kamar penuh selidik.
"Aku sangat yakin," jawab gadis itu mantap.
"Tapi dia sering membuatmu menangis. Kulihat kau suka meneteskan air mata kala membaca pesan singkatnya di HP-mu?" cecar kamar.
"Aku menangis karena terharu membaca kata-katanya. Aku bisa merasakan kesungguhan dan ketulusannya," jawab gadis itu lirih.
"Kadang kau juga menangis saat ia meneleponmu?" tanya kamar ingin tahu.
"Itu karena lagi-lagi aku terharu atas perhatiannya," jawab gadis itu sambil menunduk.
"Kau bener-bener bahagia jika bersamanya?" tanya kamar tiada henti.
"Ya, aku bahagia. Dia membuatku nyaman," jawab gadis itu sambil mengangkat wajah manisnya.
"Iya sih, aku juga melihatnya di wajahmu. Dia telah berhasil melukis senyuman indah di wajahmu," ujar kamar.
"Kuharap kalian bersatu selamanya," lanjut kamar akhirnya.
Maka, semesta raya pun mengaminkan doa kamar.

Perlahan gadis itu pun menengadahkan wajahnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat. Kedua tangannya diangkat setinggi dada. Bibirnya berbisik lirih mengucapkan seuntai doa dengan penuh perasaan, "Aku menyukainya, ya Rabb... Tolong izinkan kami bersatu selamanya. Amin."

Dialog Dua Sisi Hati


"Lihat, udah jam 21.45!" ujar sisi hatiku.
"Iya tahu," jawab sisi hatiku yang lain.
"Nah, kalo tahu, kenapa nggak tidur?"
"Iya, ntar jam sepuluh mau tidur kok."
"Sekarang aja, ayo!"
"Iya, ntar."
"Sekarang aja. Besok kan harus berangkat pagi-pagi."
"Iya."
"Itu juga, tv dinyalain tapi nggak ditonton."
"Biarin, kan biar ada suara-suara, jadi nggak terlalu sepi."
 "Makanya cepetan habisin minumannya."
"Iya. Nih mau kuminum."
"Ayo, sekarang tidur!"
"Iya."
"Iya iya, tapi kenapa masih duduk aja?"
"Bentaaaaaaaaaaar lagi. Belum ngantuk."
"Belum ngantuk gimana, tuh mata udah 5 watt gitu?"
"Iya bentar."
....
"Udahlah, mendingan tidur daripada melamun."
 "Eh, ..."
"Ayolah, hentikan pikiranmu. Jangan berpikir berlebihan."
"Tapi.... Tapi...."
"Stop! Tak perlu merisaukan hal yang belum terjadi, apalagi hanya akan membuatmu sedih begitu."
"Hmm..."
"Loh, kok malah nangis?"
"...."
"Udahlah, jangan sedih. Tak ada yang perlu ditangisi."
"Tapi aku takut tidak sanggup menjalaninya."
"Tak perlu takut. Semuanya akan baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Pasti. Pasrahkan semua pada-Nya."
"Gimana jika aku bener-bener nggak sanggup."
"Mintalah kekuatan pada-Nya."
"Hmm, baiklah."
"Nah, gitu dong. Tidurlah, pejamkan matamu. Buang semua kecemasan-kecemasan yang tak perlu."
...

"Kok udah bangun lagi. Lihat baru jam 01.40."
"Ga tau nih, tiba-tiba aja bangun."
"Tidur lagi aja, ntar bangun lagi jam 03.30."
"Iya, akan kucoba."
...

"Loh, kok malah bengong."
"Eh..."
"Kenapa nangis lagi?"
"...."
"Jangan terlalu bersedih untuk sesuatu yang belum terjadi."
"Tapi aku tak bisa menghentikan air mataku."
"Makanya jangan dibayangkan sedih. Yakinlah, kau bisa melewatinya. Kan hanya sementara."
"Tapi itu terlalu lama."
"Ah, ntar juga nggak akan kerasa kalo udah dijalani."
"Begitukah?"
"Ingatlah, setiap pilihan ada risikonya. Kau sudah memutuskan pilihanmu, maka terimalah risikonya."
"Tapi ini terlalu berat."
"Itu hanya perkiraanmu. Kau belum coba menjalaninya."
"Kayaknya nasibku amat malang ya?"
"Ah, tidak! Kau terlalu berlebihan. Malah kau amat beruntung karena dikaruniai anugerah ini."
"Iya sih."
"Jangan bersedih lagi. Tersenyumlah. Bersyukurlah atas limpahan nikmat-Nya. Bersabarlah atas semua ujian-Nya. Ikhlaskanlah. Tatap hari esok dengan penuh percaya diri."
"Hmm, okelah."
"Sekarang saatnya bermunajat pada-Nya. Bersimpuhlah di hadap-Nya. Mintalah petunjuk terbaik-Nya."
"Sip, oke oke."

Sebentuk Senyum Untukmu


Gadis itu sedang bergembira. Sejak tadi ia senyum-senyum sendiri. Diraihnya diary yang tersimpan di rak buku, kemudian ia menuliskan sesuatu. Masih dengan tersenyum-senyum, ia memenuhi lembar putih itu dengan tulisan tangannya yang rapi dan indah. Wajahnya nampak serius. Pikirannya benar-benar larut dan hanyut dengan dunianya sendiri. Begini kira-kira isi tulisannya.
 
Untukmu
yang jauh di ujung sana di belahan bumi-Nya...


Asalamualaikum,

Apa kabarmu hari ini? Kuharap di sana kau baik-baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin. Aku pun alhamdulillah baik. Hmm... sebenarnya aku sedang berusaha merasa baik. Entahlah, ada berbagai rasa berdesakan dalam hati. Ada berbagai pikiran berkecamuk dalam benak. Biasalah, aku memang terlalu perasa dan pemikir. Hal sepele pun kadang dipikirkan. Jadi, tak perlu kau cemaskan ("Yee... siapa juga yang merasa cemas?" mungkin itu tanggapanmu, heee...).

Sebenarnya tidak ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Aku hanya ingin sedikit bercerita. Tahukah kau, semalam suaramu hadir dalam mimpiku? Hanya suara. Wajahmu tak terlihat jelas. Ah, pasti kau tak tahu :D. Uhuk uhuk... kedengerannya lebay banget ya? (hehe). Begitulah.... Suaramu seolah terdengar nyata di telingaku sampai-sampai saat terbangun aku terbengong-bengong sendiri.

"Aku rindu senyummu," begitu ucapmu sungguh-sungguh. Hmm... aku terus berpikir. Merenung dan menimbang-nimbang. Mencoba menafsirkan maksudnya. Tuh kan, aku selalu begitu. Memikirkan yang tidak penting, padahal itu cuma mimpi. Tapi, gara-gara itulah aku jadi sedikit memikirkanmu :D. Padahal, aku berusaha mati-matian untuk tidak mengingatmu. Bukan apa-apa. Aku hanya tak ingin menduakan atau membuat-Nya cemburu :). Lagian, bukankah belum sepantasnya aku memikirkanmu? Belum halal bukan? :)

Tahukah kau, hal konyol apa yang kulakukan begitu bangun dari tempat tidur? Pasti kau juga tak tahu :D. Aku mendekati cermin dan menggerakkan bibir. Ya, aku tersenyum. Tersenyum manis pada diri sendiri sambil memandangi wajah kusutku di cermin. Hah, konyol banget kan? :D.

Kemudian, aku mengangguk-anggukkan kepala. Ya, aku harus selalu tersenyum. Serumit apa pun masalah yang kuhadapi, sepahit apa pun kenyataan yang kualami, segetir apa pun nasib yang kujalani, aku tak boleh lupa untuk tersenyum. Setidaknya senyuman akan meringankan beban yang kupikul. Bukankah dengan senyuman suasana yang kaku bisa berubah cair? Bukankah dengan senyuman pula kedua orang tak saling kenal bisa akrab? Ketika tersenyum, siapa pun akan terlihat menarik. Betul? Maka, aku berjanji pada diri sendiri, aku akan berusaha tersenyum dalam menerima apa pun ketentuan-Nya.

Harus kautahu, aku selalu menunggumu. Aku berharap kau secepatnya menjemputku dan mengajakku ke taman yang dirindui semua insan. Semoga Allah segera mempertemukan kita dalam ikatan suci nan indah. Semoga Allah menyatukan hati kita dengan cinta-Nya. Amin.

Dalam pengharapan ini kukirim sebentuk senyum untukmu. Baik-baiklah kau di ujung sana. Temui aku secepatnya dengan cara yang diridhai-Nya. Oke? :)

Kutulis dengan senyum ^_^
Wasalamualaikum.

Setelah selesai menulis, ia bingung sendiri. "Harus aku kirim kemana surat ini? Tak ada alamat penerima, gimana pula ini?" tanyanya lirih ditujukan kepada dirinya sendiri. Tapi, segera diusir rasa bingung yang menggantung di sudut hatinya. "Ah... aku simpen aja dulu. Kalo ketemu dia, nanti akan kuberikan."

kisah Payung yang bagai kekasih tak dianggap



"Uh, aku bosen dikurung di kamar ini mulu. Bosen bosen!" gerutu Payung Biru tak henti-henti sejak tadi.
"Aku juga bosen tau! Kamu mending sekali-sekali suka diajak Tuan Putri. Aku mana pernah. Dari dulu cuma digantung terus di balik pintu." balas Topi Biru tak kalah berisik.
"Iya, kadang-kadang memang aku suka diajak pergi oleh Tuan Putri, tapi jarang digunakan. Cuma disimpen manis di dalam tas."
"Itu masih mending, sewaktu-waktu kamu masih bisa melindunginya jika hujan tiba-tiba turun."
"Nah, itulah anehnya. Kalo aku ikut, biasanya jarang hujan. Kalopun hujan, Tuan Putri lebih memilih hujan-hujanan dibanding memakaiku untuk melindungi tubuhnya."
"Oh gitu."
"Aku juga heran dengan Tuan Putri, kenapa dia seneng banget kalo hujan turun. Wajah lelahnya pasti langsung berbinar menyaksikan butiran-butiran air hujan."
"Dia memang suka melihat hujan. Semua yang ada di sini udah tau tentang hal itu."
"Iya sih."

Beberapa Jaket yang melihat mereka hanya menatap prihatin. Mereka tak tahu harus berkata apa. Mereka ingin menghibur, tapi takut malah membuat amarah Topi Biru dan Payung Biru makin meluap. 

Memang, dibandingkan keduanya, Jaket-jaket itu lebih beruntung. Setiap hari mereka diajak menemani Tuan Putri secara bergantian. Setiap saat Jaket itu bisa melindungi dan menjaga Tuan Putri dari hawa dingin yang menusuk-nusuk tulang atau guyuran hujan yang berjatuhan. Jaket itu juga bisa memberi kehangatan dan kenyamanan yang menenangkan. Berbeda dengan Payung Biru dan Topi Biru yang hanya dikurung di dalam kamar, mereka tak bisa melindungi dan menjaga Tuan Putri setiap saat.

"Tapi Tuan Putri sayang banget kok pada kalian," ujar Jaket Biru takut-takut.
"Iya, Tuan Putri sangat sayang pada kita. Dia menyayangi apa-apa yang dimilikinya," tambah Jaket Merah Marun lirih.
"Iya aku tau, Tuan Putri sangat sayang padaku karena dia tetap merawatku dengan baik. Tapi kan, aku ingin sekali melindunginya. Kalo kayak begini terus, aku bagaikan kekasih yang tak dianggap," timpal Payung Biru.
"Ah, kamu bisa aja. Itu nyontek dari judul lagu ya, hehe...." komentar Jaket Cokelat sambil tertawa riang.
"Udah jangan sedih lagi. Pokoknya siapa pun dari kita harus berusaha sebisa mungkin menjaga dan melindungi Tuan Putri. Oke oke?" kata Jaket Biru.
"Oke...." jawab mereka serentak.

Terima Kasih Allah


Malam mulai merayap makin larut. Tapi, gadis itu belum juga tidur. Matanya menatap lekat langit-langit kamar. Cahaya lampu kamar yang temaram menyamarkan wajah gundahnya. Sejurus kemudian, ia menumpahkan keluh kesahnya pada Sang Kekasih Sejati. 

"Ya Allah... rasanya hatiku seakan mau meledak saat menerima fakta ini. Jantungku berdegup lebih cepat. Darah seakan berhenti mengalir. Ini benar-benar di luar dugaanku. Oh... tiba-tiba mataku memanas. Rasanya ingin menangis. Menangis karena haru. 

Bukan, bukan karena aku tidak menerima kenyataan yang Kau suguhkan padaku. Tapi justru aku terpana dengan kenyataan yang membahagiakan ini. Hatiku diliputi kegembiraan luar biasa. Ada sebongkah bahagia meresap ke dalam jiwa. Mengalir lembut memenuhi rongga.

Sungguh aku tidak mengira sama sekali. Ternyata Engkau menjawab keinginanku. Ternyata Engkau mengabulkan permohonan kecilku. Aku makin yakin dengan kuasa-Mu. Begitu mudah bagi-Mu menetapkan sesuatu.

Sebagai hamba aku selalu menuntut-Mu agar memenuhi apa-apa yang kuinginkan. Padahal, apa yang kuminta belum tentu sesuai dengan yang kuperlukan. Aku memang tak tahu diri.

Tapi ya Allah... saat ini Engkau mengizinkan aku mendapat apa yang kuinginkan. Engkau mengizinkan aku mengecap kebahagiaan yang melimpah ruah. Engkau mengizinkan hatiku berdamai dengan kenyataan. Terima kasih ya Allah... terima kasih atas kebahagiaan ini.

Aku makin tertegun-tegun menapaki tahap demi tahap. Aku merasa heran dengan diriku sendiri. Seolah-olah ada keberanian yang menyeruak keluar. Tidak ada keraguan lagi. Hatiku merasa mantap dan ya Allah... Engkau pun pasti tahu, aku merasakan kenyamanan yang menenangkan. Seketika aku tidak ragu lagi untuk menjalani hari esok.

Namun, aku masih tidak mempercayai kenyataan ini. Benarkan ini? Benarkah aku akan mendapatkan hal ini? Lalu hatiku diliputi rasa takut. Mungkin bisa dibilang ketakutan yang berlebihan. Aku sangat takut jika nanti menemui akhir yang tidak mengenakkan. Jujur kukatakan pada-Mu... aku takut akan kecewa. Entahlah mungkin aku terlalu berpikir yang tidak-tidak.

Kini, kupasrahkan semuanya pada-Mu. Apa pun yang terjadi nanti semoga aku siap menghadapinya. Aku yakin apa pun keputusan-Mu pasti itu yang terbaik untukku. Aku akan berusaha menanamkan hal itu pada diriku.

Ya Allah...
buanglah keragu-raguan dan ketakutan yang tidak berdasar ini.
Hilangkan rasa cemas yang tidak beralasan ini.
Mantapkan hatiku untuk menjalaninya.
Kuatkan hatiku dalam menerima apa pun ketentuan-Mu.
Jadikan rasa sabar sebagai pengiring langkah-langkahku menuju akhir yang masih belum pasti.
Biarkan aku merasa ikhlas menerima takdir-Mu.
Amin yaa Rabbal alamin..."

Setelah mengadukan isi hatinya panjang lebar, ia pun merasakan ketenangan. Selesai membaca doa menjelang tidur, matanya kembali dipejamkan. Beberapa menit kemudian, gadis itu terlelap dibuai mimpi.

Hujan Turun Lagi


Horeeeeee, hujan turun! *jingkrak-jingkrak kegirangan :D

Hujan turun lagi.
Rindu melihatnya terbayar sudah.
Setelah sekian hari dilanda kemarau,
Setelah sekian waktu ditimpa panas,
Hujan kembali mengguyur bumi sore ini.
Membasuh dahaga seisi alam raya.
Mengalirkan kesejukan bagi penduduk semesta.

Dengarlah, senandung alam!
Lihatlah, suasana alam!
Debu-debu mengalir pergi.
Pepohonan bergoyang lincah.
Rerumputan menari-nari.
Tanah dan pagar menggigil basah.
Jalan-jalan tersenyum penuh arti.
Genting rumah bernyanyi riang.
Semua bersukacita.
Gembira menyambut air hujan.

Terima kasih, Allah.
Hujan-Mu rezeki berharga bagi bumi.
Hujan-Mu rahmat bagi semesta.

rindu hujan


Udah seminggu lebih hujan belum turun lagi. 
Seingatku, terakhir aku hujan-hujanan adalah Jumat sore pekan lalu. 
Itu 2 hari menjelang libur kerja. 
Sebenarnya sekarang tak terlalu berpengaruh sih karena hujan nggak hujan daerahku tetap adem ayem. 
Tapi tadi saat aku kembali menyambangi Kota Bogor, wuih rasanya gersang. 
Panas menyengat kulit. 
Debu-debu menempel di jalanan.
Beterbangan tertiup angin yang berhembus.
Pohon-pohon meranggas kekeringan.
Rumput-rumput layu tak bertenaga. 
Udara kotor. 
Tanah pun merekah terbelah-belah. 

Seandainya mereka bisa bicara, pasti semuanya akan berteriak, 
"Aku rindu hujan." (hehe). 
Namun, semua membisu. 
Hanya angin yang berdesir lembut seolah-olah ingin menghibur rasa gerah mereka.

Seandainya mereka bisa menyanyi, pasti bakalan mendendangkan larik-larik ini: 
oh, hujan..
datanglah, turunkanlah airmu
katakan bahwa kau menyayangi diriku
datanglah, bawalah kesejukan
agar kau dapat membuatku segar 

aku di sini duduk manis menantimu
aku pun ingin membuat kau tak menyesal
bahwa kau telah bersembunyi dari diriku
yang akan terus membuat kau berarti

datanglah nyatakan janji setia
datanglah bawalah dahagaku pergi
bersama dengan gelora rinduku padamu
(plesetan lirik lagu "Gelora Asmara" Derby Romero.. xixixi)

Di sisi lain, alat penjemur di rumahku malah tertawa sumringah.
Pasalnya setiap sore ia tidak lagi membawa beban pakaian.
Tampaknya ia sedang bersahabat baik dengan sang mentari.
Lihat saja, ia sukses mengeringkan baju-baju basah yang dibebankan padanya setiap pagi.
Semalaman ia tinggal istirahat dengan nyaman.
Berbeda dengan tanah, pohon, rumput, jalan, dan pagar yang sedang malang karena merindukan hujan.

#Ah, hidup memang ibarat sebuah roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang senang, kadang sedih. Kadang suka, kadang duka. Kadang susah, kadang bahagia. Kitalah yang harus pandai menghadapinya. Tak terpuruk di kala duka. Tak lupa diri di kala suka. Aih, nyambung nggak sih kalo kesimpulan dari tulisan di atas begini? Haha au ah elap... wekekekek..#

menikmati purnama


Untuk kesekian kalinya wajahnya kembali menengadah. 
Dipandanginya rembulan yang bersinar di langit. 
Matanya tak berkedip, seakan ingin menyerap sinar rembulan itu. 
Lampu taman yang temaram menyamarkan wajah lelahnya. 
Untuk beberapa saat tubuhnya tak bergeming. 
Tak dihiraukan dinginnya angin yang menusuk-nusuk tulang. 
Lalu, dipalingkan wajahnya pada siluet gunung yang menjulang di kejauhan sana. 
“Purnama di atas puncak gunung, kapankah bisa kunikmati?” bisiknya pada angin. 
Wusss, angin berhembus kencang seolah-olah memberinya semangat bahwa harapan itu mungkin saja terwujud. 
Rumput-rumput pun bergoyang seakan-akan ingin menghibur hatinya. 
Lagi lagi wajahnya kembali menengadah. 
Memandang rembulan dengan takjub. 
Bibirnya lirih berucap, "Subhanallah... sungguh sempurna ciptaanMu, Tuhan."

mencintai dan belajar mencintai


Ini adalah hari bahagianya. Sebentar lagi, beberapa jam lagi, gadis itu akan melangsungkan pernikahan. Ia akan menikah dengan lelaki yang dicintainya. Baginya, ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya, hari yang bertabur kebahagiaan. Sejak tadi, ia tertawa riang. Wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan. Sinar matanya berkilat-kilat penuh kegembiraan. Wajahnya yang cantik makin sempurna dengan senyuman menawan.

Kebahagiaan itu seketika lenyap. Senyumnya memudar kala berita duka itu mampir di telinganya. Rombongan pengantin pria mendapat kecelakaan di tengah perjalanan. Kabar terburuknya, calon suaminya meninggal di lokasi kejadian. Kabar itu bagai kilat menyambar-menyambar telinganya. Dunianya runtuh seketika, seakan-akan berhenti berputar. Ia hanya tertegun, tak percaya dengan kenyataan yang terjadi. Sementara ayahnya, mendadak pingsan begitu mendengar kabar tersebut. Ayahnya memang memiliki penyakit jantung.

Ayahnya segera dilarikan ke rumah sakit. Tak lama, ayahnya kembali siuman. Namun kondisinya sangat buruk. Saat itulah ayahnya menyampaikan wasiat terakhir. Apa yang diinginkan sang ayah sungguh tak terduga. Ayahnya meminta agar ia menikah dengan murid lelaki kesayangannya. Kebetulan saat itu murid sang ayah memang hadir di hari pernikahannya dan ikut serta ke rumah sakit. Demi ayahnya, ia pun menyanggupinya meski dengan berat hati. Beberapa saat kemudian, ayahnya menghadap Tuhan.

Lelaki itu – murid kesayangan sang ayah – bisa dibilang telah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Bagi si lelaki, ia adalah gadis pertama yang berhasil menarik perhatiannya. Maka, dilangsungkanlah pernikahan seperti yang diminta sang ayah. Akhirnya, ia dibawa pulang ke rumah sang suami.

Pernikahan yang tak direncanakan itu tentu saja membuat keduanya merasa canggung dan kikuk. Apalagi, mereka baru saling mengenal. Di rumah itu, ia dan sang suami tidur dalam kamar terpisah. Interaksi mereka hanya ala kadarnya. Ternyata suaminya cukup pengertian dan memberi keleluasaan padanya untuk menyendiri. Sang suami pun tak memaksanya untuk melakukan apa pun termasuk mengerjakan pekerjaan rumah. Malahan sang suami mengurus dirinya sendiri. Sementara, ia masih dirundung duka. Wajahnya murung tak bersemangat. Senyumnya lenyap entah kemana. Ia hanya mengurung diri di kamar.

Pada hari berikutnya, ia mulai menyadari tingkahnya yang kurang baik. Ia mendatangi suaminya dan meminta maaf. Ia mengaku tidak seharusnya kemarahannya pada takdir ditumpahkan pada suaminya. Ia berjanji akan menjadi istri yang baik, namun tidak bisa berjanji akan mencintai sang suami. Baginya cinta yang ia miliki telah hilang. Ia tidak yakin bisa mencintai siapa pun lagi. Sang suami memakluminya. Malahan ia membohongi hatinya dengan mengatakan bahwa dirinya pun tidak mencintai istrinya.

Janji yang ia ucapkan pada sang suami berhasil ditepatinya. Ia selalu berusaha mengurus keperluan suami dengan sebaik-baiknya. Sang suami pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Meski tidak ada ucapan cinta di antara mereka, mereka tetap memberi perhatian satu sama lain. Bahkan, sang suami selalu berusaha menyenangkan sang istri. Ketika ia mengutarakan akan menggeluti kembali hobinya, sang suami mendukungnya secara penuh. Suaminya berharap ia kembali ceria dan bahagia jika melakukan sesuatu yang disukainya. Benar saja, perlahan-lahan gairah hidup sang istri berangsur-angsur membaik. Wajahnya kembali dipenuhi senyum.

Singkat cerita, setelah sekian lama hidup bersama, akhirnya mereka saling mengutarakan cinta. Ia menyadari bahwa suaminya adalah lelaki terbaik yang diberikan Tuhan untuknya. Sejak itu ia bertekad akan selalu mencintai suaminya. Mereka pun hidup bersama layaknya pasangan suami istri normal lainnya.

Hmm.. happy ending deh. Itu adalah sinopsis film India Sodara-Sodara, tapi judulnya lupa (hehe). Kebetulan saat itu saya susah tidur, eh pas milih-milih channel TV menemukan film ini, akhirnya nonton. Sungguh ini film yang mengharukan. Ceritanya begitu menyentuh.

Ah, saya jadi teringat ucapan kawan saya saat ngobrol santai sambil makan siang. Dia bilang begini, “Pria itu biasanya mencintai, sedangkan wanita belajar mencintai. Meski awalnya si wanita tidak memiliki rasa cinta, ketika mendapat curahan cinta dari seorang pria, hatinya akan luluh dan lama-lama ia akan mencintai pria itu. Tapi si pria tidak akan mudah mencintai wanita lain saat hatinya telah tertambat pada seorang wanita. Sang pria hanya akan memikirkan wanita yang dicintainya dan berusaha mendapatkannya”.

Setelah dipikir-pikir rasanya tidak salah apa yang diutarakan kawan saya itu. Pastilah kawan saya bukan asal bilang, bisa jadi ia telah mengalaminya sendiri atau melihat orang-orang di sekitarnya yang memiliki pengalaman seperti itu. Kalo saya sih jujur aja belum terlalu pengalaman dengan cinta-mencintai (hehe). Bagaimana dengan Anda? ^_^

aku kehilangan senyum


"Senyum dong, ai!" pinta salah satu kawanku.
Lantas kawan-kawan kerjaku yang sedang makan melihat ke arahku. Kami berlima sedang menyantap bakso malang siang itu.
"Kayaknya lagi ada yang dipikirin ya?" lanjut kawanku.
Aku memaksakan senyum. Mungkin lebih terlihat hanya menyeringai. Dalam hati aku bergumam, "Hah, senyum? Apa wajahku kelihatan demikian kusut di mata mereka?"
Aku memang hanya diam saja. Lebih banyak mendengarkan celotehan mereka tanpa ikut komentar.
"Jujur kawan, aku sedang malas tersenyum. Tuhan, apa tampangku demikian menyedihkan? Apa yang harus kulakukan Rabb?" jeritku dalam hati.
Aku hanya merasa sock. Semua yang terjadi menimpaku dalam dua hari belakangan benar-benar kurang menyenangkan. Bisa dibilang tidak mengenakkan. Apa yang kuhadapi dan kutemui (mulai di rumah, di jalan, di kantor, di kelas, dan di tempat mana pun yang kudatangi) benar-benar menguras energi kesabaranku, yang pada akhirnya membuat wajahku kehilangan senyum. Entahlah kenapa begitu? Apa aku terlalu sensitif? Padahal ini bukan waktunya PMS.
"Tuhan, maafkan aku jika sikapku ini seolah-olah kurang menerima atas apa yang terjadi. Kuakui aku belum bisa bersikap tegar dan sabar. Mungkin malah lebih telihat kekanak-kanakkan. Ternyata aku memang belum bisa mengikhlaskan hati dalam menerima semua ketetapan-Mu."
"Tuhan, sesungguhnya aku lelah. Benar-benar lelah dengan keadaan ini. Bagaimana mengembalikan keceriaanku? Sedih sekali rasanya. Apa yang harus kuperbuat? Rasanya ingin kembali berada di tengah-tengah sahabatku. Mengukir cerita, canda, dan canda. Sungguh, aku merindukan mereka ya Allah."
"Tolong aku, Tuhan. Keluarkan aku dari situasi buruk ini. Beri aku hati yang iklas. Beri aku pikiran yang terbuka. Jangan biarkan aku terus-menerus dalam belenggu negatif ini. Bantu aku untuk bangun dari keadaan ini."
"Maafkan aku, kawan-kawan. Maaf bila membuat kalian cemas melihat sikapku. Sungguh, maafkan aku. Terima kasih karena kalian telah mencoba menghiburku. Terima kasih."

Pertanyaan yang Sama


Suatu petang di dalam angkot. Jalanan macet. Mobil-mobil berderet, mengular panjang ke belakang. Suara klakson nyaring bersahut-sahutan di udara. Membuat kepalaku bertambah nyut-nyut. Hatiku masih panas akibat masalah di kantor. Tiba-tiba seorang laki-laki bertanya.
"Pulang kuliah?" tanyanya dengan mimik serius.
Seketika aku ingin tertawa melihat tampangnya, tapi kutahan. "Nggak," jawabku datar.
"Kerja?" tanyanya penasaran.
"Waduh, nih orang niat banget," gumamku dalam hati. Dia masih menunggu jawaban.
"Abis ngajar." jawabku pendek.
"Oh, kirain masih kuliah. Wah, berarti ibu guru dong," selorohnya.
Aku hanya menyeringai.
"Ngajar di mana, Bu?" lanjutnya. Uhuk, rasanya terdengar aneh di telingaku.
"Pajajaran."
"Ngajar siswa apa? SMA?"
"Ya," ucapku sambil ngangguk. "Bukan cuma SMA. SD dan SMP juga," lanjutku hanya dalam hati.
"Udah lama?"
"3 tahun."
"Ow. Kok pulangnya malam? Rapat dulu?"
"Ada jadwal ngajar sore. Kan saya ngajar di tempat les, bukan di sekolah. Paginya murid-murid belajar di sekolah, trus siang sampe sore belajar di tempat les," jelasku panjang lebar dengan suara seramah mungkin.
"Oh," ujarnya manggut-manggut sok paham. "Ngajarnya tiap hari?"
"Ya."
"Tiap hari pulangnya jam segini?"
"Kadang-kadang. Kalo nggak ada ngajar sore, jam 4 udah pulang."
"Berangkat dari rumah jam berapa?"
"Kadang jam 7, kadang jam 9."
"Oh. Berarti jadwalnya nggak tetap ya?"
Ckckck... Waduh, nih orang pengen tahu aja deh. Aku mulai menggerutu meski hanya dalam hati. Mati-matian aku berusaha menyembunyikan kekesalan dan ketidaknyamanan.
Hening. Dia tidak berusaha bertanya lagi. Aku sibuk menerawang. Memikirkan masalah kantor.
“Rumahnya di mana?” tanyanya memutus lamunanku.
Aku melongo. “Oh, Tuhan… tolonglah. Bebaskan aku dari situasi tak nyaman ini. Nih orang aneh-aneh aja, nggak tau apa aku lagi pusing,” gerutuku masih dalam hati. Sungguh, ini benar-benar menyiksa. Tapi, aku tak bisa mengelak. Hanya menjerit dalam hati.  Mana perjalanan menuju rumah masih jauh.
“Bojong Kopi,” jawabku sambil berharap ini pertanyaan terakhir.
“Bojong Kopi… Bojong Kopi…,” ulangnya seperti sedang mengingat-ingat. “Oh, yang masuk lewat gang deket masjid ya?”
“Ya,” jawabku. Heran deh kenapa nih orang tahu.
“Saya juga sering lewat sana.”
“Oh,” aku ngangguk-ngangguk sok mempercayainya.
“Kenal dengan …. “ ia menyebutkan sebuah nama.
“Hmm… nggak.”
Lengang. Dia berhenti bertanya. Aku kembali asyik melamun.
“Udah nikah belum?” tanyanya kemudian.
What? Oh, Tuhan. Hmm… pasti begini. Sudah kuduga, ujung-ujungnya pasti begini. Sudah beberapa kali pertanyaan seperti ini terlontar. Tentu saja, aku paham arah pertanyaan mereka. Sangat paham. Tapi, aku pura-pura cuek. Menanggapinya dengan biasa.
“Kelihatannya gimana, udah atau belum?” ujarku balik nanya, padahal berusaha mengelak dari pertanyaannya.
“Belum ya?”
Aku hanya menyeringai datar.
“Tapi pasti udah punya calon,” ucapnya sok tahu.
Lagi-lagi aku hanya menyeringai. Cukup sudah aku dibuatnya kesal bukan kepalang. Lalu, aku menyibukkan diri dengan memainkan HP. Berharap dia tak berani bertanya macam-macam lagi. Beruntung angkot sudah hampir mendekati terminal. Yup, sebentar lagi aku turun dan bebas dari tempat yang kaku ini.

Yang Hilang Telah Kembali


"Horeeeeeeeeee, buku-bukuku udah kembali!” pekik gadis itu. Belum lama teriakannya hilang ditelan waktu, ia kembali berseru-seru.
“Yes, yes, yes, akhirnya....” pekiknya lagi dengan jemari tangan mengepal sambil dinaikturunkan di samping dada.
“Senangnya hatiku. Turun resah gelisahku. Oh, bukuuu...," lanjutnya sambil bernyanyi (ngikut jingle iklan IN*AN* di tv :D).

Begitulah respon yang ditampakkan oleh gadis tinggi semampai itu. Ia berjingkrak-jingkrak riang sambil memasang senyum paling manis ketika kiriman paket buku yang telah ditunggu-tunggu berada dalam tangannya. Siapa pun yang melihat aksinya, pasti akan menyangkanya gila karena sejak tadi ia berbicara sambil senyum-senyum sendiri. Tapi, gadis berkerudung merah muda itu seakan tak peduli dengan keadaan sekitar. Ia terlalu bergembira hingga lupa akan penilaian orang-orang sekitar yang melihatnya. Saat ada rekan kerja yang mendekat ke arahnya, serta merta ia memamerkan buku-buku itu. Ia ingin mengabarkan pada orang-orang betapa gembira suasana hatinya saat itu. Hal itu terlihat sekali dari sorot matanya yang berbinar-binar bagai bintang timur.

Gadis itu tengah bahagia karena bisa kembali mendapatkan buku-buku favoritnya. Dulu, ia pernah kehilangan beberapa buku. Memang, buku-buku yang hilang itu tak kembali lagi. Tapi, ia mendapatkan gantinya. Judul sama, tapi wujudnya lebih bagus karena baru. Tentu saja, ia pun mendapatkan buku yang lebih banyak. Semuanya berjumlah delapan buah, padahal bukunya yang hilang hanya tiga buah. Ia berhasil membuktikan apa yang diyakininya bahwa ketika ia kehilangan sesuatu, suatu saat ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari Allah. Loh, bukannya ia mendapatkan buku-buku itu dengan membelinya alias tidak gratis? Tentu saja, ia memperoleh buku-buku itu dengan membayarnya memakai rupiah. Tapi, siapa yang memberinya uang? Siapa yang melimpahkan rezeki padanya? Allah bukan? Karena rezekinya yang cukup berlimpahlah, ia bisa menyisihkan uang untuk membeli buku-buku itu. Jadi, tentu saja ada campur tangan Allah atas semua itu.


“Selamet datang buku,” ujarnya pada 5 cm, 9 Matahari, Norman Edwin, Hafalan Salat Delisa, dan Bidadari-Bidadari Surga.
“Selamet datang kembali buku,” ucapnya pada Negeri 5 Menara, Twilight, dan Ayahku (Bukan) Pembohong. Sejurus kemudian, ia berdoa dengan khusyuk.
“Semoga ada hikmah yang bisa kupetik darimu. Semoga kau membuat hari-hariku menyenangkan,” harapnya dengan lirih.

Sebelum dibaca, buku-buku itu disampulnya dengan rapi. Setelah selesai urusan sampul menyampul, disimpannya buku-buku itu di rak. Sambil menyusun buku-buku itu, mulutnya bergumam pelan hampir tak terdengar.

“Selamet bergabung dengan teman-temanmu, wahai buku. Semoga betah tinggal di sini. Hmm.. kayaknya kau akan sering berada di luar sana karena ada begitu banyak orang yang menanti untuk membacamu. Mulai besok aku akan membacamu satu persatu. Jadi, kau harus bersabar menunggu giliran. Berdiamlah dengan manis di sini. Berjanjilah, kau harus awet dan tahan rusak.”
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy