Pada cuti hari ke-2, Selasa, 28 Juni 2011, saya dan ketiga teman kerja berkunjung ke Dunia Fantasi (Dufan). Kami berangkat dari Bogor pukul 08.15 dengan menumpang kereta ekonomi AC. Saat berangkat dari stasiun Bogor, keadaan kereta cukup sepi hingga kami bisa duduk dengan santai.
Namun, lama kelamaan, dari stasiun satu ke stasiun lain penumpang makin berdatangan hingga membuat kereta penuh sesak. Kami tak bisa lagi duduk dengan nyaman karena banyak orang berdiri di depan kami. Untung, kami berada di gerbong khusus perempuan. Kalau mesti campur baur dengan para lelaki, wah pasti tak leluasa.
Sekitar pukul 10 lewat kami tiba di Stasiun Kota. Dari sana, kami menumpang metromini jurusan Dufan. Tak kama kemudian, sampailah kami di depan gerbang Dufan. Di pintu masuk pertama ternyata kami harus membayar tiket seharga Rp15.000,00. Nah, sampai di pintu masuk Dufan, kami harus membeli tiket lagi seharga Rp150.000,00. Meski hari kerja, kami harus membayar tiket weekend karena selama rentang tanggal 18 Juni - 31 Juli diberlakukan harga tiket weekend.
Wuih, baru sampai pintu masuk aja udah ramai, apalagi nanti di dalam. Saya sudah membayangkan pasti nanti antrean menuju wahana penuh. "Hmm... biarlah, kita jalani saja, kawan. Kita punya waktu seharian untuk berada di tempat ini. Pokoknya kita harus main sampai puas," gumam saya lebih ditujukan pada diri sendiri :D. Maka, masuklah kami ke Dufan dengan perasaan senang :D.
Setelah menyerahkan kartu, tangan kami dicap.
Sambil berjalan menuju wahana-wahana yang ada di sana, kami sudah sepakat akan memprioritaskan mencoba wahana yang memacu adrenalin terlebih dahulu alias wahana ekstrem :D. Nah, sebagai pemanasan, kami singgah ke rumah ajaib dan rumah kaca. Meski dari luar terlihat datar, ternyata di dalam kondisi lantai di rumah ajaib sangat miring. Kami harus berjalan sempoyongan dalam gelap. "Seperti inikah kalau ada gempa atau tsunami?" ucap kami lirih. Lega rasanya ketika kami berhasil keluar dari sana.
Nah, ini pintu masuk ke rumah ajaib.
Kemudian, kami masuk ke rumah kaca. Huwaa... ternyata sama-sama memusingkan. Di dalam rumah kaca banyak jalan berkelok-kelok. Beberapa kali kami malah menemui jalan buntu. Namun, setelah mencoba lagi dan mengikuti rombongan lain, akhirnya kami menemukan pintu keluar.



"Alhamdulillah... masih hidup," seru kami setelah turun dari tornado. Yupz, tornado adalah wahana ekstrem yang kami naiki untuk pertama kalinya. Dulu kami masih merasa ciut, tapi hari itu kami memberanikan diri. Hmm... naik tornado betul-betul menguras emosi dan tenaga :D.
Jika orang lain berteriak untuk mengekspresikan rasa takut dan kagetnya, saya hanya bisa diam membisu. Mulut saya terkunci rapat dan mata tertutup. Mungkin karena terlalu gugup :D. Saya merasakan badan saya melayang-layang, naik turun, dan telungkup tengkurap berkali-kali. Nah, setelah turun, badan lemas. Rasanya seperti habis dibanting-banting, kepala pening, perut mual, tapi kami merasa puas. Setidaknya rasa penasaran kami terbayar sudah :D.
Lepas dari sana, kami menuju bianglala. Antrean cukup panjang. Banyak keluarga yang berbondong-bondong untuk menaiki wahana ini. Kami harus menunggu sekitar setengah jam untuk bisa duduk di bangku bianglala. Naik bianglala tidak setegang naik tornado, cukup menyenangkan malah. Suasananya santai. Kami bisa menikmati pemandangan sekitar Dufan dari atas. Semilir angin sepoi-sepoi hampir-hampir meninabobokan kami :D.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12. Kami pun makan siang. Berhubung kepala masih pusing, kami memutuskan menyantap bakso di cafe Planet Bakso. Saat kondisi seperti itu, makanan pedas berkuah rasanya amat nikmat :D.


Setelah salat zuhur, kami menuju wahana perang bintang. Antrean cukup panjang. Setelah menunggu sekitar setengah jam lebih, kami pun masuk. Suasana di dalam gelap, rasanya mirip di ruang angkasa (padahal saya belum pernah ke ruang angkasa :D). Kami menaiki semacam mobil sambil menembak-nembak. Wuah, tangan saya pegal dan kram :D.
Selanjutnya kami menuju arung jeram. Wuih, antreannya panjang banget. Kami pun mengurungkan niat dan lebih memilih langsung menuju halilintar. Ternyata di sini antreannya juga panjang. "Kurang lengkap rasanya datang ke Dufan kalo nggak naik halilintar," begitu ucapan yang saya dengar dari orang-orang. Dengan melihat animo pengunjung yang begitu besar terbukti sudah bahwa halilintar memang termasuk wahana favorit . Meski harus berdiri berdesak-desakkan, kami pun sabar mengantre. Kurang lebih dua jam akhirnya kami berhasil duduk di kursi halilintar. Hush, roda halilintar berjalan gesit dan cepat melintasi rel yang lurus, menanjak, menurun, melengkung, dan tegak. Meski tidak terlalu menakutkan jika dibandingkan dengan naik tornado, saya tetap tidak berani membuka mata. Hanya sekitar dua menit kami duduk di kursi halilintar, tak sebanding dengan waktu yang dihabiskan untuk menunggu antrean.

Saat turun dari halilintar, waktu sudah menunjukkan pukul 3 lebih. Kami istirahat sebentar di bawah pohon sebelum melaksanakan salat ashar. Lepas ashar, kami kembali mengantre. Kali ini kami memilih wahana journey to the center of the earth. Hmm... ternyata di sini pun sama dengan antrean di wahana halilintar, panjang dan lama. Waktu berputar dengan pasti, sementara kami masih berdiri dalam antrean. Kaki kami pegal-pegal karena terlalu lama berdiri, tapi kami tetap bertahan dalam antrean. Wahana ini di-setting mirip bioskop, bedanya kursi yang disediakan agak tinggi dan dilengkapi sabuk pengaman karena ketika nanti kursi akan bergerak-gerak mengikuti alur film. Yupz, di wahana ini kami akan menonton film 3D. Ketika menyaksikan film yang diputar, kami ikut terlibat dalam cerita film. Akhirnya setelah sekitar dua jam berdiri, kami pun berhasil duduk di atas kursi "ajaib" tersebut. Beberapa saat kemudian, film diputar dan kami langsung larut dalam cerita. "Hwaaa.... hwaaaa.... hwaaaa...," teriakan penonton menggema ke seluruh sudut gedung dan menggantung di langit-langit bioskop. Benar-benar mengasyikkan ternyata. Filmnya seru dan mendebarkan. Dari awal film diputar sampai ending, mata saya tetap terbuka :D. Sayangnya durasi yang disediakan hanya sepuluh menit, singkat banget. "Pengen lagi. Ikut lagi yuk!" bisik saya pada seorang teman. "Kalo mau, ngumpet dulu di sana, baru ntar kita duduk lagi," ujarnya. Kami tertawa bareng. "Eh, nggak usah ah, kasian yang lain," kata saya akhirnya sambil melepas sabuk.
Sampai di pintu keluar, hari sudah gelap. Lampu taman menyala di berbagai sudut. Orang-orang masih berlalu lalang. Ada juga yang masih bertahan dalam antrean. Kami langsung menuju wahana hysteria dan kicir-kicir. Sejak awal kami memang telah meniatkan hati untuk menaikinya. Beruntung, wahana hysteria sedang sepi. Kami bisa menaikinya tanpa harus lama mengantre. Duduklah kami di kursi hysteria dengan perasaan agak takut. Tak lupa kami saling menguatkan diri. Perlahan hysteria bergerak. Hush... saat sedang ngobrol, tiba-tiba kursi kami digerakkan ke atas dengan kecepatan dahsyat, kemudian diturunkan dengan cepat pula. Begitu terus beberapa kali melawan gerak gravitasi. Saya kembali gugup hingga mengunci mulut dan menutup mata. Saya merasakan badan saya seperti melayang-layang, ditarik dan dihempaskan ke bawah. Rasanya seperti ditendang ke angkasa luas :D. Tangan saya pun gemetar. Hati sungguh berdesir :D. Setelah turun, rasanya plong :D.
Selanjutnya, kami menuju wahana kicir-kicir. Kebetulan, di sini pun sepi. Kami bisa langsung duduk tanpa antre. Meski badan masih sedikit gemetar, saya tidak kapok untuk uji adrenalin lagi :D. Huwaa... kicir-kicir ternyata lebih menyeramkan dibanding tornado. Badan kami tak hanya dijungkirbalikkan ke atas dan ke bawah, tetapi juga diputar-putar hampir 360 derajat. Saat diputar, kepala miring ke kiri dan ke kanan. Dahsyat banget deh putarannya. Leher terasa sakit. Tentu saja, saya kembali menutup mata :D. Tapi sekali-sekali saya bisa berteriak mengekspresikan rasa takut dan kaget saat kursi kicir-kicir bergerak-gerak dengan kecepatan penuh. Setelah turun, saya bisa menghembuskan nafas lega. "Selamet.... selamet... alhamdulillah," gumam saya pelan sambil menepuk dada.
Untuk melemaskan otot-otot yang tegang dan membuat badan rileks, kami naik masuk ke gedung istana boneka. Di sana kami naik perahu sambil melihat-lihat aneka boneka warna-warni yang unik dan lucu dari berbagai negara. Hmm... bener-bener menyenangkan. Apalagi diiringi musik pula, suasana santai sungguh terasa.
Keluar dari sana, kami memutuskan untuk pulang. Saat berjalan ke depan kami melewati wahana kora-kora. Kebetulan di sana sepi pengunjung, berbeda dengan siang tadi yang penuh antrean. Jadi kami tertarik untuk naik. Namun, saat bersiap melewati pagar pembatas, penjaga di sana mengatakan bahwa sementara wahana ditutup karena sebentar lagi akan diadakan pesta kembang api. Dia pun menyuruh kami untuk menyaksikan pesta tersebut. Akhirnya kami menuju ke tempat yang ditunjuknya. Ternyata di sana sudah banyak orang berkumpul. Benar saja tak lama kemudian, pesta kembang api dimulai. Suasana begitu semarak. Orang-orang mendongak ke atas. Di atas sana tersaji pemandangan yang indah. Langit yang gelap gulita menjadi penuh cahaya. Beberapa saat saya tertegun. Pada menit-menit terakhir sebelum pesta kembang api berakhir, saya baru terpikir untuk merekamnya. Sangat terlambat memang, tapi daripada tidak sama sekali bukan? hehe...
Setelah pesta kembang api berakhir, kami memutuskan pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Saat menuju pintu keluar kami berpapasan dengan badut-badut lucu. Kami pun tergoda untuk berfoto bersama :D. Puas foto-foto, kami pun pulang. "Mari pulang... marilah pulang... marilah pulang bersama-sama... :D."


Hari yang amat melelahkan, menegangkan, dan mendebarkan telah berhasil kami lalui. Kami bersyukur bisa mengalami hal-hal baru di sini. Bersyukur pula memiliki tubuh yang sehat dan kuat hingga bisa mencoba wahana paling ekstrem sekali pun. Thank You Allah... ^_^
Berdasarkan wahana yang kami naiki, berikut urutan wahana paling ekstrem menurut sudut pandang saya :D.
1) kicir-kicir
2) tornado
3) hysteria
4) halilintar
5) journey to the center of the earth
6) bianglala
7) rumah kaca
8) rumah miring
9) perang bintang
10) istana boneka