RSS

SUAMI-SUAMI PENYAYANG



Beberapa hari lalu ketika berselancar di internet, aku menemukan berbagai kisah menarik. Aku sebut menarik karena ceritanya begitu menyentuh hati. Hikmah yang dikandungnya luar biasa. Ada haru yang menyeruak tatkala membacanya. Bahkan, mataku sampai berkaca-kaca. Akhirnya, air mata mengalir tak tertahankan (cengeng banget ya? :D).

Baiklah, aku sudah tak sabar ingin membagi kisah itu. Begini cerita singkatnya.

#KISAH 1#
Sang suami (sebut saja A) pulang ke rumah dalam keadaan letih setelah seharian bekerja. Tentu saja, A membayangkan akan menerima sambutan menyenangkan dari istrinya ketika kembali ke rumah. Namun, bayangannya tak seindah kenyataan. Boro-boro senyum manis apalagi sapaan hangat, A malah menerima omelan dan keluhan istrinya yang nyerocos tiada henti. A hanya diam, lalu perlahan mendekati istrinya. Dipeluknya tubuh sang istri dengan lembut. Ajaib! Seketika istrinya berhenti mengomel. Pelan-pelan bibir sang istri menyunggingkan senyum malu-malu.

*Uhum... so sweet... :D*

#KISAH 2#
Seorang istri (sebut saja R) merasa kesal dengan sikap suaminya yang kurang memperhatikan dirinya dan anaknya. Sang suami (sebut saja A) terlalu sibuk bergelut dengan pekerjaan. Puncak kekesalan R ditunjukkan dengan sikap marah-marah terhadap A. Malahan, R menyambut A sepulang kerja dengan amarah, bahkan tak lagi menyuguhkan secangkir teh. A hanya diam, lalu pergi ke dapur untuk menyeduh teh atau kopi hangat sendiri. 

Sampai suatu hari, R menerima kenyataan pahit. A meninggal dunia di kantor karena terkena serangan jantung, tepat setelah R menelepon dan memaki-makinya. R benar-benar tidak mengetahui bahwa A mempunyai penyakit jantung karena suaminya tidak pernah bercerita.

Setelah suaminya meninggal, R merasakan penyesalan yang begitu mendalam. Terlebih-lebih R menerima fakta yang mencengangkan dari rekan kerja A. Rekan kerja A menceritakan beberapa kebaikan yang ditunjukkan suaminya, bahkan menyebutnya sebagai suami yang penyayang terhadap keluarga. Dari rekan A pula R mengetahui bahwa A sengaja merahasiakan penyakitnya sebab tidak ingin R menyayanginya karena iba. A pun memilih berobat di klinik yang murah karena tidak ingin menghabiskan uang tabungan yang dikhususkan untuk masa depan anaknya.

Secara tak sengaja R menemukan catatan kecil A yang terselip dalam tumpukan dokumen pekerjaannya. Lewat catatan itu R mengetahui bahwa A sengaja bekerja keras membangun perusahaan agar kelak bisa diwariskan pada anaknya. Rupanya A sudah menduga bahwa hidupnya tidak akan lama lagi sehingga ia menyiapkan segalanya dengan matang.

*hiks… hiks… yang ini sedih banget… :’(*

#KISAH 3#
Seorang gadis (sebut saja N) menikah dengan laki-laki biasa. N termasuk wanita cantik, pintar, mapan, dan kaya. Sementara, suaminya (sebut saja R) hanyalah laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat biasa. Pernikahan mereka tak sepenuhnya mendapat restu dari orang tua N. Hanya karena N memaksa saja, akhirnya keluarga N mengizinkannya.

N tidak salah menjatuhkan pilihan. Keyakinannya bahwa R sanggup membahagiakannya terbukti. Cinta laki-laki biasa itu amat besar padanya. Bahkan, N merasa tidak akan ada yang bisa mencintainya sebesar cinta suaminya. Orang-orang memang sibuk bisik-bisik di belakangnya, memperbincangkan ia dan suaminya, tapi N membiarkannya.

Tahun demi tahun berlalu. Kehidupan rumah tangga N makin harmonis. N dan R sudah dikarunia dua orang anak. Mereka sudah memiliki rumah besar. Karier N makin gemilang. Pekerjaan R pun makin cemerlang. Mereka hidup bahagia meski orang-orang masih tetap menyangsikannya, berbisik-bisik di belakangnya.

Hingga tahun kesepuluh pernikahannya, saat melahirkan anak ketiga, sebuah musibah menyapa mereka. Bayi yang dikandung N tidak mau keluar, padahal telah lewat dua minggu dari jadwal yang seharusnya. Maka, dilakukanlah operasi karena ternyata bayinya terlilit tali pusar.

Operasi berjalan lancar. Namun, terjadi pendarahan hebat. Bayi mereka selamat dan sehat. Sementara, N mengalami koma. Selama berhari-hari, R tetap menjaga N. R tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk menengok anak-anaknya di rumah.

Keluarga N hampir putus asa, tapi R terus berjuang tanpa lelah. R berusaha membuat N agar segera siuman. Secara rutin R mengaji di dekat N sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang R juga membawa buku favorit N dan membacakannya pelan di telinga N. R pun tak bosan-bosan mengajak N berbicara, membisikan kata-kata cinta di telinga N. Pada hari ke-37 doa R terjawab. N siuman dan wajah penat R yang pertama ditangkap matanya.

Akibat koma, tubuh N lumpuh. Tapi, kenyataan itu tak membuat suaminya berpaling. Cinta R terhadap N tak berkurang sedikit pun. R tetap merawat dan menjaga N dengan baik, memandikan, menyuapi, mendandani, dan mengajaknya jalan-jalan. Alangkah beruntungnya N. Suaminya memang laki-laki biasa, tapi cintanya sangat luar biasa.

*Hmm… jadi ngiri… :D*

Tiga kisah di atas termasuk true story. Selagi menulis note ini aku baru sadar,  kisah yang kubaca ini seputar suami-istri. Ketiganya mengungkap sosok suami yang penyayang. Hmm… ini bukan kebetulan semata, mungkin lewat kisah yang kubaca ini Allah ingin menegurku agar lebih serius memikirkan seorang suami (hehe).

Setidaknya, kisah ini telah memberiku sebuah pelajaran berharga. Sekarang aku ingin mengajukan permohonan pada-Nya... ^__^

Ya Allah… andai kelak Kau izinkan aku menjadi seorang istri, jadikanlah aku istri yang salihah, istri yang baik, istri yang mencintai suami semata-mata karena-Mu, istri yang taat pada suami (tentu saja selama ketaatan itu tidak melenceng dari ketaatan kepada-Mu).

Ya Rabbi… andai kelak Kau izinkan aku mempunyai suami, berilah aku seorang suami yang saleh, suami yang baik, suami yang mencintaiku karena-Mu, suami yang bisa menyayangi dengan tulus, suami yang bisa menuntunku ke jalan-Mu, suami yang bisa mengajakku ke surga-Mu.
Amin yaa rabbal alamin.

Sarapan Pagi Itu Penting, Kawan


Setelah dua pekan lebih melewatkan sarapan, tadi pagi aku bisa kembali menyantap makan pagi dengan lahap. Alhamdulillah... selera makanku berangsur-angsur membaik. Lidahku kembali bisa merasakan berbagai rasa. Dua pekan kemarin sempat sedih karena selera makanku amat buruk. Makan jadinya kurang teratur. Lidah seakan kelu dan sulit mendeteksi rasa. Perut seolah menolak makanan. Mulut malas mengunyah. Tapi, masa sulit itu sudah berlalu. Kini aku bisa makan apa pun dengan nikmat. Ehm... senang rasanya... ^__^

Kawan, bagaimana denganmu? Apa kamu juga suka sarapan pagi sebelum beraktivitas? Harus itu! Sarapan pagi itu sangat penting bagi tubuh kita. Sarapan pagi merupakan salah satu cara untuk memberikan energi yang dibutuhkan oleh tubuh agar bisa beraktivitas seharian. Maka, jangan pernah lewatkan menyantap sarapan. 

Sebenarnya, selain memberi energi pada tubuh, sarapan juga memiliki manfaat lain yang tak kalah pentingnya. Nah, yuk kita cermati beberapa manfaat sarapan pagi.

Dari hasil penelitian disebutkan bahwa mengonsumsi sarapan sehat akan melengkapi diet, bergizi tinggi, vitamin dan mineral. Manfaat lainnya adalah:
1. meningkatkan kekuatan dan ketahanan stamina saat beraktivitas;
2. menurunkan kadar kolesterol;
3. meningkatkan konsentrasi dan kemampuan menyelesaikan masalah serta    koordinasi yang lebih baik antar panca indera;
4. dapat mengontrol berat badan; dan
5. mengurangi fatigue dan mengantuk saat memulai aktivitas.
(http://doktermerry.blogspot.com/2008/03/manfaat-sarapan-pagi.html)

Nih, ada penjelasan yang lebih lengkap.

a. Memberi kekuatan metabolisme setelah sepanjang malam
Sarapan dipertimbangkan sebagai waktu makan yang penting karena mengganti waktu malam yang tak terisi makanan serta menambah kebutuhan gula Anda. Gula adalah sumber energi yang diserap dari karbohidrat yang Anda makan. Di pagi hari, setelah Anda tak mengkonsumsi makanan selama 12 jam, zat gula dalam tubuh Anda turun ketingkat yang paling rendah. Saat ini terjadi, tubuh Anda menggantinya dengan melepas zat gula yang telah ditimbun di lapisan otot dan liver, yang disebut glycogen.

b. Berguna untuk penurunan berat badan
Selama tidur 12 jam tubuh Anda puasa sepanjang malam,dan di pagi hari Anda berada dalam tahap pertama merasa lapar. Melewatkan sarapan membuat tubuh Anda tetap ‘dalam kelaparan’, sedangkan mengkonsumsi makanan yang bagus akan memberi peningkatan metabolisme. Jika Anda dalam upaya mengurangi berat badan, hal terakhir yang Anda ingin lakukan adalah tingkat metabolisme rendah. Sarapan makanan sehat akan meningkatkan kemampuan pembakaran lemak dalam tubuh Anda. Lebih jauh, sarapan dapat meningkatkan tingkat energi Anda sebagaimana metabolisme sepanjang hari.

c. Menambah esensial nutrisi dan tingkat keseluruhan energi
Sarapan menyediakan proporsi signifikan asupan total nutrisi untuk sepanjang hari, dan menawarkan kesempatan untuk mengkonsumsi makanan yang penuh nutrisi seperti zat besi, vitamin dan serat. Esensial vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya hanya dapat diperoleh dari makanan.

d. Memberi otak Anda bahan bakar untuk meningkatkan konsentrasi
Sarapan memperbaiki kemampuan Anda berpikir dan menjaga Anda tetap berada dalam penampilan mental terbaik. Sarapan menyediakan bahan bakar bagi otak Anda untuk meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah dan ingatan.

e. Menghindari makan tak terkontrol
Sarapan dengan baik akan menjaga Anda dari rasa lapar berlebih  sehingga dapat mencegah Anda makan berlebihan di siang harinya. Makanan yang dikonsumsi saat sarapan mampu menahan lemak dan kalori tinggi dari makanan sepanjang hari. Saat Anda meninggalkan sarapan, Anda akan cenderung mengalihkan rasa lapar dengan ngemil sepajang pagi hingga menjelang makan siang. Hal ini akan mendorong Anda mencari pelarian lain pada kopi, atau minuman yang mampu meningkatkan energi.
(http://setengahbaya.info/manfaat-sarapan-pagi-bagi-kesehatan-tubuh.htm)

Jelaslah, sarapan pagi itu amat penting, kawan. Manfaat yang kita dapat ketika rutin sarapan pagi adalah:
- membantu untuk mencukupi zat gizi.
- dapat memelihara ketahanan tubuh, agar kita dapat beraktifitas atau belajar atau bekerja dengan baik.
- membantu memusatkan pikiran untuk belajar dan memudahkan penyerapan pelajaran.

Ingat ingat, jangan melewatkan sarapan! :D 
Ada beberapa akibat loh jika kita tidak rutin makan pagi, yaitu:
- jika untuk anak sekolah akan malas dan tidak dapat berpikir dengan baik.
- badan akan terasa lemah, hal itu disebabkan kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk tenaga.
- untuk orang dewasa, performance kerja akan menurun.
- tidak dapat melakukan aktivitas atau kegiatan atau pekerjaan di pagi hari dengan baik.
(http://www.f-buzz.com/2008/12/13/pentingnya-sarapan-atau-makan-pagi/)

Setelah kita mengetahui pentingnya sarapan atau makan pagi, ayo kita biasakan! Jika belum membiasakannya, mulailah sekarang juga, mulailah dari diri kita dan keluarga, dan mulailah dengan menyantap makanan sehat dan bergizi tinggi (nyontek 3 M-nya Aa Gym :D).

Oke, selamat mencoba. Kapan-kapan ajaklah saya sarapan bareng. Saya siap ditraktir... hehehe...

Waw, Ternyata Menulis Terapi Mujarab Pengusir Sakit


Kemarin kepalaku terasa berat. Nyut-nyut. Serasa ditimpa palu sekian ton. Sakitnya tak tertahankan. Gigi ngilu. Snut-snut. Tenggorokan sakit serasa ditusuk-tusuk duri tajam. Badan rasanya lemas. Lengkaplah penderitaanku hari itu. Berdiri sempoyongan. Duduk tak kuat. Tiduran pun tak nyaman. Malah membuat kepala tambah pening. Dari pagi sampai siang aku tergolek lemah di tempat tidur. Benar-benar tepar. Posisi tubuh sudah tak karuan. Sebentar miring kiri, sebentar miring kanan, sebentar telentang, sebentar telungkup. Selang waktu selama itu aku hanya berguling-guling.

Sebelum bedug zuhur, akhirnya kupaksakan bangun pelan-pelan. Lalu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku mandi sepuasnya. Berharap kesegaran mendatangi tubuhku. Hmm... setelah mandi lumayan ada tenaga untuk berdiri. Kondisiku berangsur-angsur membaik meski kepala masih terasa cenat-cenut. Alhamdulillah juga masih bisa shalat dengan berdiri.

Usai shalat, aku baru ingat dari pagi belum makan apa pun. Bahkan, setetes air pun belum melewati tenggorokan. Pantas saja perutku dangdutan eh keroncongan. Ah, rupanya cacing-cacing sedang menagih makanan. Sebenarnya malas banget untuk makan. Mulut rasanya pahit. Tak ada selera. Namun, aku ingat, aku tidak boleh menzalimi diri sendiri. Tubuh juga memerlukan makanan agar bisa menghasilkan energi. Maka, aku menuju meja makan untuk menyantap makan siang. Waduh, susah banget untuk menelan makanan. Mesti pelan-pelan, baru bisa masuk. Jadi, aku menghabiskan waktu lumayan panjang hanya untuk menghabiskan makan siang. "Sabar... sabar...," ucapku menenangkan diri.

Huwaaa... ketika kulihat jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua. Padahal hari ini seharusnya aku mengikuti ziyadah pukul satu di kampus pakuan. Apalah daya, aku tak sanggup berangkat. Badanku masih lemah untuk menempuh perjalanan jauh. Maka, kuputuskan istirahat sambil membaca buku.

Owh, aku baru sadar, harusnya tadi pagi aku juga pergi ke sawah. Yah, gagal sudah rencanaku untuk melihat-lihat sawah yang hijau membentang dan aliran air sungai yang bening. Tapi tak apa-apa lah. Mudah-mudahan lain kali terlaksana.

Lama-lama baca buku terasa pegal juga. Aku perlu bergerak agar bisa mengeluarkan keringat. Akhirnya, kucoba menyetrika baju untuk kerja selama seminggu ke depan. Tak lama, azan ashar tiba.

Setelah menunaikan shalat ashar, kuputuskan untuk membuka laptop. Aku harus menulis sesuatu. Biasanya menulis akan mengalihkan pikiranku. Aku berharap rasa sakit ini akan teralihkan.

Akhirnya, memang terbukti kawan. Ternyata dengan menulis aku bisa melupakan rasa sakitku. AJAIB! Saat menekan-nekan tuts keyboard, aku benar-benar lupa dengan kondisiku. Pikiranku fokus untuk merangkai kata agar enak dibaca. Aku tidak ingat dengan rasa sakit yang menimpa.

Yah, aku sudah membuktikannya. Menulis ternyata bisa menjadi terapi mujarab untuk mengusir rasa sakit. Alhamdulillah. Sampai tak terasa waktu azan maghrib pun tiba. Aku menghentikan sejenak pekerjaanku. Beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian shalat di kamar.

Setelah shalat kuputuskan untuk makan malam dulu. Barulah kemudian aku kembali melanjutkan tulisanku hingga rampung. Tak lama selesailah tulisan berjudul "Pedihnya Kehilangan" yang kuposting kemarin. Entahlah, mungkin gara-gara sedang sakit, tulisan itu benar-benar penuh dengan kepedihan. Ah, semoga tidak membuat yang membaca meneteskan air mata (hehe).

Pedihnya Kehilangan


KEHILANGAN...
Sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Amat memilukan.
Benar-benar tidak mengenakkan.
Sungguh menyayat hati.
Pedihnya bukan kepalang. 
Tak seorang pun akan merasa senang jika kehilangan sesuatu yang disukainya atau seseorang yang dicintainya.
Maka, siapa pun akan menjaga segala miliknya agar tidak hilang dari genggaman.
Bila perlu ia akan mengerahkan segala kekuatannya agar semua miliknya tetap utuh.
Namun, sekeraas apa pun usaha seseorang, jika Allah sudah menghendaki hal itu hilang, tak ada yang bisa menahannya.

Kawan, pernahkah merasa kehilangan?
Seperti apa perasaanmu?
Saya pernah mengalaminya.
Saya pernah kehilangan orang yang saya kasihi dan hormati untuk selamanya (kakek, guru, saudara, dan kawan saya).
Saya juga sering kehilangan suatu benda yang saya senangi dan sukai.
Saya pun lumayan sering kehilangan selera makan. 
Rasanya sedih sekali.
Hati sakit bagai diiris-iris sembilu. 
Dunia seakan gelap dan runtuh.
Terasa separuh jiwa seolah pergi dan terbang (lagu Anang banget :D).
Air mata meleleh tak bisa dibendung.
Berhari-hari saya diliputi perasaan hampa yang menyiksa.
Ingatan saya selalu tertuju pada hal yang telah hilang.
Berlebihan banget ya? :D

Begitulah... kehilangan sungguh menyedihkan.
Benar-benar kenyataan yang pahit.
Tapi, jika mau merenung, sebenarnya kita bisa mengambil hikmah dari sebuah kejadian KEHILANGAN.

Saya menyimpulkan bahwa KEHILANGAN bisa memberi beberapa pelajaran berharga pada kita.
  • Hakikatnya semua yang kita miliki di dunia ini hanya pemberian. Kita terlahir ke dunia tanpa membawa apa pun. Harta benda yang kita miliki dan seseorang yang kita cintai hanyalah titipan dari Allah. Jika Allah berkehendak mengambilnya kembali, kita tak bisa berbuat apa-apa. Hal itu sebenarnya harus lebih meyakinkan kita bahwa Allah Mahakuasa. Kita hanyalah hamba lemah yang tidak berdaya dan tidak punya apa-apa.
  • Bisa jadi kita telah teledor dan kurang menjaga hal yang kita miliki itu hingga akhirnya terlepas begitu mudah dari genggaman. Mungkin di situ Allah ingin memberi pelajaran pada kita agar ke depannya kita lebih waspada dan hati-hati.
  • Saya meyakini kalimat ini "Ketika Allah mengambil suatu hal dari kita, pasti Allah akan menggantinya dengan suatu hal yang jauh lebih baik". Ya, memang terbukti begitu. Ingat, tidak selamanya kita hidup dalam kepedihan gara-gara kehilangan. Akan ada kebahagiaan setelah penderitaan. Akan ada kemudahan dibalik kesulitan. Akhirnya kita diajari untuk ikhlas, sabar, dan yakin dengan janji-Nya. 

Sebagai analogi, mari mengingat tugas tukang parkir. 
Tukang parkir diamanahi untuk menjaga kendaraan milik orang lain. 
Ketika kendaraan itu satu per satu datang, ia akan merasa senang. 
Makin banyak kendaraan yang datang, hatinya akan makin membuncah bahagia. 
Hal itu karena uang yang akan dia terima tambah besar. 
Saat kendaraan itu satu per satu hilang dari area parkir karena diambil kembali oleh pemiliknya, dengan tersenyum ia akan menyerahkannya dan merelakan pergi. 
Tak ada kesedihan sedikit pun yang bergelayut dalam hatinya.
Tak ada kepedihan segurat pun yang menghiasi wajahnya.
Kenapa begitu? 
Karena tukang parkir itu paham betul bahwa kendaraan itu bukan miliknya. 
Ia hanya ditugasi menjaganya. 
Jadi, ia tidak bisa menahannya.
Ia pun tidak berhak marah apalagi uring-uringan saat kendaraan itu kembali diambil alih.

Nah, tak ada salahnya bukan jika kita belajar pada sikap tukang parkir itu?
Kita juga harus berusaha ikhlas jika ditimpa kehilangan. 
Kita harus berusaha merelakan yang telah hilang. 
Memang tidak mudah, tapi harus senantiasa diusahakan. 
Dengan begitu semoga kita tidak lepas kendali ketika mengalami kehilangan.

Saya pernah membaca kalimat seperti ini
"Kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar dalam hidup adalah apa yang hilang dalam hati sanubari sementara jiwa kita masih hidup". 
Itu perkataan seorang tokoh, tapi entahlah siapa orangnya (saya lupa mengingat namanya, hehe).  

Hmm... Kawan, pahamkah maksud kalimat itu?
Mari sama-sama kita pikirkan...
Saya tunggu hasil analisis kawan-kawan... ^_^

Menurut saya, hal yang paling harus kita takutkan adalah bukan bagaimana jika harta benda kita hilang atau bagaimana jika orang yang kita cintai hilang. Namun, itu bukan berarti akhirnya kita malah menyia-nyiakan dan tidak menjaganya.
Kita tetap harus menjaga sebaik mungkin titipan-Nya karena kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak.

Kita harus merasa lebih takut jika iman dan Islam kita hilang.
Kita harus merasa lebih takut jika rasa syukur kita hilang.
Kita harus merasa lebih takut jika rasa kasih sayang kita hilang.
Kita harus merasa lebih takut jika rasa peduli dan empati kita hilang.

Karena itu, mari kita jaga keimanan dan keyakinan kita.
Kita mohon pada Allah agar diberi keteguhan iman.
Kita mohon pada Allah agar dijauhkan dari sikap ingkar nikmat.
Kita mohon pada Allah agar menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Kita mohon pada Allah agar menjadi insan yang peduli.
Kita mohon pada Allah agar menjadi orang yang penyayang.

Kabulkan permohonan kami ya Allah... amin.

Masih Sebuah Misteri



sampai detik ini masih sebuah rahasia
teka-teki yang belum terungkap
misteri yang sulit dideteksi
hanya dugaan dan prasangka yang kerap mengemuka

aku masih di sini
terperangkap dalam semesta
menantimu mengulurkan tangan
menunggumu dalam harap

kucoba mengejar bayangmu
namun langkahku beku
kakiku kehilangan arah
tak ada petunjuk
tak ada tanda
aku hanya tertegun
tanpa kata
tanpa bicara
terdiam dalam dilema
terdampar oleh asa

kucoba mencari tanya
menebak dirimu dalam bayangan
namun otakku buntu
lidahku kelu

seribu puisi dapat kucipta
tapi bukan tentangmu
karena sosokmu penuh maya
tak bisa kuurai dengan kata
tak bisa kucerna dalam frasa
tak bisa kusemat dalam larik
tak bisa kulukis dalam bait
tak mudah kuberi makna

bilakah waktunya tiba?
saat asa menjelma nyata
saat harap di depan mata
saat tanya menemukan jawab
saat rahasia menemukan muara
saat misteri berujung pasti

aku masih di sini
menanti masa akan tiba
menunggu mimpiku usai
aku tetap di sini
mengharap bahagia ada


bp pj (ruang 10), 16 maret 2011

Lelaki-Lelaki Pejuang

Azan subuh telah lama berkumandang. Kokok ayam sudah lama menghilang. Jam weker telah lama berdendang. Mentari mulai memancarkan sinarnya yang terang. Suasana alam yang gelap pun berubah menjadi benderang. Semua itu pertanda bahwa lonceng pagi kembali berdentang.

Tampak nun di kejauhan sana para lelaki memenuhi jalanan yang lengang setelah berpamitan pada keluarga tersayang. Dengan senyum mengembang, mereka berjalan dengan langkah panjang-panjang.

Bukan! Mereka bukan hendak berdemo untuk menentang kebijakan pemerintah yang sungsang atau mengkritik hukum di negeri ini yang berlubang. Bukan pula hendak mengadukan nasibnya yang malang atau kehidupannya yang serba kurang. Juga bukan hendak menebar genderang perang atau menghadang kendaraan yang sedang melaju kencang.

Mereka, para lelaki itu, hendak bekerja keras membanting tulang. Mereka hendak menunaikan kewajiban mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, dan sandang. Ya, mereka hendak bekerja mencari uang.

Demi menghidupi istri, anak, dan ibu tersayang, demi menyiapkan masa depan gemilang, demi menyongsong hari esok penuh cemerlang, mereka rela berjuang. Tak dihiraukannya udara pagi yang dingin menerjang. Dibuangnya rasa malas yang menyerang.

Mereka terus melangkah dengan semangat menjulang. Ada yang mengendarai mobil model zaman sekarang. Ada yang mengendarai motor hasil ngutang (hehe). Ada juga yang mengandalkan angkutan usang (hehe). Maka, seketika jalan-jalan dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang. Angkot, minibus, bus, atau kereta dipenuhi penumpang.

Begitulah fenomena yang kusaksikan dengan mata telanjang jika aku berangkat pagi-pagi dari rumah (huwaaa… kehabisan kata-kata berakhir ang. Yang muncul dalam benakku malah udang, kentang, kerang, pisang, rendang, wedang, kekekek… ini sih bikin lapar datang… :D). Coba perhatikan sekitar, pasti kawan-kawan pun akan melihat pemandangan begitu. Bisa jadi kawan-kawan bagian dari para lelaki itu (hehe).

Dulu, sewaktu aku masih berstatus pelajar, hal itu termasuk pemandangan rutin harian. Saat berangkat ke sekolah atau ke kampus, aku sering berada di antara mereka. Bahkan, tak jarang saat di angkot, aku sering menjadi gadis paling cantik karena penumpang lain lelaki semua (hehe). Pernah juga menjadi penghuni kereta selama seminggu saat harus pergi ke Jakarta, lagi-lagi kutemui pemandangan begitu. Para lelaki berdesak-desakan. Saat naik bus menuju kampus, tak pelak kulihat pula para lelaki bergelantungan.

Mereka bekerja seharian, dari pagi hingga petang. Menjelang malam, baru bisa pulang. Jika kembali ke rumah sore hari, aku pun sering berbarengan dengan mereka. Terpampang keletihan pada wajah mereka. Terlihat kelelahan pada tubuh mereka. Namun, senyum mereka tetap mengembang. Kurasa itu senyum bahagia karena mereka bisa kembali berkumpul dengan keluarga tersayang.

Jujur, melihat mereka timbul rasa kagum dalam hatiku. Aku salut dengan keteguhan para lelaki itu. Salut dengan kerja keras mereka. Melihat mereka, pasti aku teringat ayah. “Bukankah ayah juga bagian dari para lelaki itu?” tanyaku pada diri sendiri. Saat itu aku bertekad, aku akan berusaha menjadi putri yang bisa ayah banggakan. Takkan kusia-siakan kerja keras ayah. Akan kubayar tetes keringat ayah dengan prestasi yang baik di sekolah. Karena itulah, akhirnya dulu aku punya alasan lain untuk selalu rajin belajar. Memang, meski sekeras apa pun berusaha, sampai kini tetap saja aku takkan bisa menebus kebaikan ayah. Maka, aku hanya bisa mendoakannya, semoga Allah membalas kebaikan ayah (amin).

Urusan mencari nafkah memang telah dibebankan di pundak lelaki. Bagi suami, mencari nafkah hukumnya wajib. Setiap pengorbanan suami mencari nafkah di luar rumah untuk diberikan kepada istri dan anak-anaknya, maka di sisi Allah seluruh jerih payahnya dihitung sebagai sedekah. Tetes keringatnya juga dihitung sebagai sedekah. Jadi, nafkah yang ia berikan kepada keluarga tidaklah bernilai sia-sia di hadapan Allah. Namun, tentu nafkah itu barulah bernilai sedekah bila dibarengi dengan niat karena Allah dan pekerjaan yang dijalaninya halal. Begitu yang kudengar dari ceramah ustad-ustad.

Untuk para suami, para ayah, para lelaki, tetaplah bersemangat mencari nafkah. Semoga Allah selalu melancarkan usahamu, memudahkan pekerjaanmu, menganugerahimu rejeki yang melimpah, dan menyehatkan ragamu (amin). 

Untuk para istri, para ibu, para anak, yuk hargai kerja keras mereka! Jangan sia-siakan usaha tulus mereka. Mari berusaha menyenangkan ayah! Jika ayahmu telah tiada (maaf bukan bermaksud membuka lukamu), kirimi ia sejuta doa. Yang udah bersuami, ayo berusaha menyenangkan suami! ^__^

persembahan spesial untuk ayah. 
Appa, saranghae... 
I love u, Dad... 
Abi, ana uhibbuka fillah...
Ayah, aku mencintamu...

Tuhan tolonglah... sampaikan
sejuta sayangku untuknya
Kuterus berjanji
Takkan khianati pintanya

 Ayah dengarlah... betapa sesungguhnya
'Ku mencintaimu
Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu
(gita gutawa feat ada band)

Akan Seperti Apa Pertemuan Kita?



membayangkan pertemuan kita nanti,
akan seperti apakah?
akankah seindah menatap pelangi?
akankah sesejuk menatap butiran hujan?
akankah seriang menatap rembulan?
akankah sedamai mendengar kumandang azan?
akankah seelok menatap aneka bunga?
akankah sebahagia menatap hamparan langit biru?
akankah pertemuan kita penuh kesan?

seperti apa reaksiku?
seperti apa reaksimu?
kata apa yang harus kuucapkan?
kalimat apa yang harus kuutarakan?
harapan apa yang harus kusampaikan?
permintaan apa yang harus kuajukan?
apa yang harus kutanyakan?
bisakah aku menjawab tanyamu?

sungguh, sulit bagiku membayangkannya.
tak mudah menebaknya.
pikiranku buntu menggambarkannya.
hatiku cemas mengingatnya.

biarlah, semua berjalan apa adanya.
tak perlu kurisaukan lagi.
akan kupasrahkan pada-Nya.
biarlah Allah yang membimbingku.
biarlah semua berjalan sesuai kehendak-Nya.
biarlah kuasa-Nya yang bekerja.
pertemuan kita pasti bagian dari rencana-Nya.
Maka, aku tak perlu gelisah lagi...
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy