RSS

Tak Bisa TanpaMu



Jika esok masih menyapa
biarkan panggilanMu yang pertama kali kudengar

Jika esok kembali hadir
biarkan Kau yang pertama muncul memenuhi benakku

Jika esok masih milikku
biarkan kuhabiskan denganMu

Jika esok masih bisa memilih
biarkan aku tetap memilihMu

Untuk yang Terkasih


Jika ada telaga mahabening yang airnya terus mengalir sepanjang waktu, tetap saja itu takkan mampu menandingi beningnya kasih sayang ibu yang tercurah padaku. Aku anaknya. Putri yang lahir dari rahimnya. Aku telah dikandung dan dilahirkan olehnya dengan susah payah. Kemudian, tumbuh di bawah asuhan cintanya. Jadi, aku tahu betul perjuangan ibu dalam merawatku meski terkadang aku tak menyadari jerih payahnya itu. Bahkan, masih suka lalai dalam membalas jasanya.

Oh, ibu… kau adalah seumpama matahari yang selalu menghangatkan hatiku. Meski jasadmu tak selalu di sampingku, kau hadir lewat doa yang terpanjat. Doa-doamu menjadi pengiring setiap langkahku. Nasihat-nasihatmu menjadi petunjuk arah hidupku.

Jika ada keajaiban dunia yang tercipta dengan penuh perjuangan dan jutaan tetesan keringat, tetap saja itu takkan mampu menandingi tulusnya pengorbanan ayah untukku. Aku anaknya. Putri yang dibesarkan dengan penjagaan cintanya. Meski harus bekerja keras membanting tulang, ayah rela melakukannya. Dinginnya angin pagi coba ditembusnya. Sengatan mentari siang tak dihiraukannya. Ganasnya udara malam siap ditaklukkannya demi kelangsungan hidup kami, anak-anaknya tercinta. Ayah tak pernah mengeluh. Ia tak pernah menampakkan rasa capeknya meski seharian lelah bekerja.

Oh, ayah… kau adalah seumpama rembulan yang menyinari hidupku. Petuah-petuahmu menghilangkan galau hatiku. Bimbingan dan didikanmu menjadikan aku tetap bertahan di antara kejamnya arus kehidupan.

Ibu… Ayah… maafkan aku, anakmu yang tak tahu balas budi ini. Maafkan jika kata-kataku sering menyakitimu. Begitu sering aku mendebatmu. Begitu mudah aku tak mengindahkan nasihatmu. Maafkan jika tingkahku sering mengoyak-ngoyak sukmamu. Sikapku sering membuatmu khawatir. Gerak-gerikku sering membuatmu dihantui rasa cemas dan was-was. Maafkan jika kehadiranku sering mengusik ketenangan jiwamu. Maafkan aku karena belum mampu menjadi permata terindah dalam keluarga. Maafkan aku karena tak bisa membalas jasamu dengan sempurna.

ROBBIGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WARHAMHUMAA KAMAA ROBBAYAANII SHOGHIIROO
 “Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil”
Amin...

Gomapseumnida...


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Ribuan hari yang terlewat telah mendewasakan usiaku dan memudarkan keremajaanku. Kini aku bukan lagi gadis kecil yang berseragam merah putih atau gadis ABG yang berseragam putih biru. Bukan pula remaja putri berseragam putih abu yang sedang belajar menutup aurat. Bukan, aku bukan lagi anak yang sedang mengenyam bangku sekolah. Bahkan, bangku kuliah pun telah kulalui. Sekarang, aku telah menjelma menjadi wanita dewasa (mudah2an aku bisa bersikap lebih dewasa, amin).

Selama rentang waktu tersebut, entah sudah berapa nikmat yang Engkau limpahkan padaku. Sungguh... tak terhingga. Ucapan terima kasihku pun takkan sanggup menebusnya. Tapi, aku tetap ingin berterima kasih pada-Mu.

Terima kasih Engkau telah memberiku keluarga yang utuh dan harmonis.
Terima kasih Ya Rabb, aku terlahir di tengah2 keluarga muslim.
Terima kasih Engkau memberiku kesempatan untuk merasakan nikmat Islam dan iman.
Terima kasih Engkau menganugerahiku orang tua terbaik di dunia.
Terima kasih telah memberiku ibu yang penuh kasih.
Terima kasih telah memberiku ayah yang amat penyayang.
Terima kasih telah menghadirkan adik-adik yang hebat dalam hidupku.
Terima kasih telah mendatangkan guru-guru yang baik untuk mendidikku.
Terima kasih telah memberikan sahabat-sahabat yang baik untuk menemani hari2ku.
Terima kasih Engkau memberiku kesempatan untuk bergabung bersama barisan orang-orang yang memperjuangkan ad-dien-Mu.
Terima kasih Ya Allah, atas semua nikmat yang Engkau curahkan untukku.

Ya Allah, bimbinglah aku agar menjadi hamba-Mu yang pintar bersyukur ketika Engkau beri nikmat
dan hamba yang pandai bersabar ketika Engkau beri ujian.
Ya Rahman, jagalah aku dalam rengkuhan kasih sayang-Mu.
Ya Rahim, tetapkan aku agar selalu berada di jalan-Mu.

Amin...

Bertualang di Curug Cibadak

Jenuh? Bosan? Pikiran suntuk? Kondisi begitu memang kerap datang di tengah rutinitas harian yang monoton. Saatnya manjakan diri Anda dengan refreshing. Yang suka suasana alam, datanglah ke pegunungan, seperti yang telah kami lakukan. Dijamin pikiran Anda akan kembali fresh dan jernih. Panorama gunung akan menyihir mata Anda. Hawa gunung akan menghanyutkan jiwa Anda (Coba tebak, majas apakah ini? :D).

Back to nature sambil bertafakur. Itulah slogan yang kami usung. Niat kami sederhana saja, ingin menikmati keagungan Tuhan. Dengan menyaksikan keindahan alam yang terbentang luas, pasti siapa pun akan terkagum-kagum. Jika ciptaan-Nya begitu indah dan sempurna, apatah lagi Dia Yang Maha Menciptakan.

Baiklah, dengan senang hati saya akan berbagi pengalaman mengunjungi Curug Cibadak kepada Anda. Curug yang terletak di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor ini termasuk salah satu curug yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Ada tiga pilihan arah yang bisa ditempuh:
(1) dari Sukabumi bisa melewati jalan dekat Stasiun Cigombong – Cijambu – Loji – Pasir Jaya;
(2) dari ciawi bisa melewati jalan dekat Pasar Caringin – Maseng – Cibadak – Loji – Pasir Jaya; dan
(3) dari bogor bisa melewati Batutulis – Cipaku – Pamoyanan – Cihideung – Cibadak – Loji – Pasir Jaya.
Tepat di Gang Loji, ada papan nama bertuliskan “Curug Cibadak dan Suaka Elang”. Masuklah melalui gang itu hingga tiba di pos satpam seperti terlihat pada foto.

Wajah-wajah sumringah petualang *siapa yang senyumnya paling manis? :)

Pemandangan Gunung Halimun Salak yang tampak dari pos satpam

Dari sana kami harus berjalan hingga bertemu Pos TNGHS. Sepanjang mata memandang, kehijauan membentang di sepanjang kiri kanan jalan. Benar-benar menyejukkan pandangan. Sayangnya, waktu itu kami lupa membawa meteran, jadi jarak dari pos satpam ke Pos TNGHS tak bisa terhitung, hehe… Tapi, percayalah perjalanan ke sana tak akan terasa jauh kok. Apalagi sambil diselingi ngobrol dengan teman, benar-benar tidak terasa capek. Ketika mulai terasa lelah, kami berhenti sejenak sambil bergaya di depan kamera, hehe... Oya, kalau merasa tak kuat berjalan, Anda bisa mengendarai motor untuk menuju pos tersebut. Meski jalannya cukup lebar, mobil dilarang masuk.

Kondisi jalan menuju pos TNGHS

Hamparan sawah membentang di sepanjang kanan jalan


 
Pasukan pagar betis :D

F4 Bintang Pelajar :D

Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun tak terbendung. Karena tak ada tempat berteduh, kami terus berjalan hingga menuju pos. Air hujan membasahi pakaian kami, tapi kami tak peduli. Kami tetap melangkah dengan pasti, menyusuri setiap inci jalanan yang asri. Kapan lagi coba bisa hujan-hujanan begini? Mumpung tak ada yang melarang :D.

Setelah sampai di Pos TNGHS, kami segera mendaftar dan membayar tiket masuk. Ukuran pos cukup besar, terbagi menjadi tiga bagian: tempat pendaftaran, mushola, dan kamar kecil. Jika ingin mengetahui info tentang Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Anda bisa bertanya kepada penjaga yang bertugas di pos tersebut. Oya, harga tiket masuk cukup murah loh, lebih murah daripada harga semangkok bakso. Lihat harga tiket pada foto berikut.

Cuma dengan Rp2.500,00 per orang, kami bisa melakukan the real adventure ^_^


Usai urusan administrasi, kami melanjutkan perjalanan menuju curug. Tantangan selanjutnya, kami harus melewati jembatan gantung dan hutan pinus.

Jalan menuju jembatan dan hutan pinus

Hijaunya hutan pinus

Meski saat itu masih sedikit gerimis, kami tetap melanjutkan perjalanan


Inilah jembatan gantung. Jembatan ini terbuat dari gabungan kayu dan kawat. Kalo menurut saya, lebih tepat dinamai jembatan goyang. Ketika menginjakkan kaki di jembatan ini, badan saya bergoyang-goyang. Tapi bukan goyang ngebor apalagi goyang ngecor yah :D. Jembatan yang romantis ini maksimal bisa dilalui oleh lima orang dalam sekali menyebrang. Untuk menjaga keseimbangan, kami berjalan agak berjauhan. Berdekatan atau bergandengan pun sebenarnya tak ada masalah, hanya menjaga jarak aman saja :D

Lihat! Gaya Mba Euis udah mirip wartawan belom??? :D

Seperti inilah kami menyeberang. Benar-benar dinikmati dan diresapi. Sungguh, ada sensasi getaran ajaib yang saya rasakan ketika berada di jembatan ini (halah, lebaydotcom :D).

Dua sejoli sekata sehati :D


Empat dara bertampang ceria ^_^

Empat gadis berwajah manis ^_^

Mba festi greenty yang baik hati ^_^

 
Mba linda sedang bergaya ^_^


Setelah melalui jembatan, kami pun tiba di hutan pinus. Di sini teduh. Udaranya sejuk. Hmm… adem ayem tentrem! Basah-basah gimana gitu, hehe… Tempatnya agak mirip-mirip hutan di Film Twilight (menurut saya loh, harap jangan protes :D). Seketika saya membayangkan adegan syuting di sini (nah, ini obsesi menjadi sutradara dan aktris, hehe…). Ah, daripada membayangkan yang tidak-tidak, mendingan berperan sebagai juru foto saja. Cekidot, gambar yang beruntung terjepret oleh kamera saya! :D

Ini senyum tanpa beban, serasa tak punya hutang atau dikejar deadline kerjaan kantor, wkwkwk

Dua gadis di antara pohon-pohon pinus yang menjulang :)

Melangkah sersan (serius tapi santai) :)


Tak lama menelusuri hutan pinus, gerimis berhenti. Sekeliling cerah oleh sinar mentari. Cuaca memang sering berganti-ganti. Pagi hari mentari bersinar hangat, bisa jadi siang hari hujan turun dengan lebat. Sore hari cerah cemerlang, bisa jadi malam hari hujan menyerang. Di sini saya tak menduga perubahan cuaca akan terjadi begitu cepat. Ah, sungguh dahsyat! :D

Cahaya mentari di sela-sela pohon pinus

AB 3 lagi bersandar sejenak di batu besar:D

Hayo, ini lagi main tebak-tebakkan atau berbalas pantun?? :D


Gaya siapa yang paling OK?? :D


Setelah bergaya sejenak di batu besar, perjalanan pun dilanjutkan. Kami terus melangkah tak pantang menyerah. Semangat mendatangi curug tetap menggebu.


Melewati jalan setapak dua tapak tiga tapak :D


Jalan yang harus dilalui makin menaik

 
Tiga wanita penakluk :D

Setelah berjalan menanjak, Alhamdulillah kami menemukan tempat duduk. Tanpa pikir panjang kami pun segera istirahat. Duduk-duduk sambil menikmati bubur kacang ijo dan asinan buah. Mantap! Jarak dari Pos TNGHS ke tempat duduk ini hampir sama dengan jarak dari tempat duduk ini ke curug. Itu berarti masih ada setengah perjalanan lagi yang harus kami tempuh. Dari sini gemuruh air terjun mulai terdengar. Semangat kami pun kembali berkobar.


Kenapa Mba Fes? Gak kebagian duduk yah? Sing Sabar! ^_^

Melanjutkan perjalanan melewati batu-batu dan aneka pohon

Akhirnya perjuangan kami menemukan ujungnya. Tibalah kami di Curug Cibadak. Senang sekali rasanya. Kebahagiaan pun memancar dari wajah kami. Rasa letih berganti dengan rona gembira. Subhanallah…

Curug Cibadak (perhatikan dengan cermat, di atasnya masih ada curug loh..)

Menuruni lereng tebing


Suasana curug, tampak beberapa orang sedang bercengkrama

Curug tampak dari samping kiri

 
Curug tampak dari samping kanan

Berpose ceria dengan gaya tangan berbeda :D

Asyiknya bermain air (dingin dingin dingin :D)

Putri Cilacap sedang duduk di singgasana :D

Ckckck.. Gw suka gaya loh.. :D

Melakukan perjalanan panjang tentu saja melelahkan. Entah berapa kalori yang sudah kami bakar. Rasa lapar pun menyerang. Kemudian, kami berkumpul di saung yang berada tepat di depan curug untuk menikmati makan siang. Ternyata oh ternyata, menyantap makan siang dengan view air terjun sungguh menyenangkan. Menunya komplit dan istimewa pula. Hmm… sedap ajib nikmat! :D

Makan siang pun berlangsung khidmat. Namun, baru setengahnya kami menyantap hidangan, tiba-tiba hujan turun. Awalnya hanya gerimis kecil, tapi makin lama makin deras. Tak memungkinkan bagi kami untuk pergi dari sana. Apalagi dengan kondisi masih makan.

Orang-orang yang berada di sekitar curug pun berlarian ke saung untuk ikut berteduh. Saung yang berukuran kecil menjadi penuh sesak. Ditambah kami, jumlah keseluruhan sekitar 25 orang. Itu terdiri dari tiga rombongan: kami, anak-anak SMP, dan para pemuda.

Makan usai, hujan masih turun. Bahkan, semakin besar hingga debit air terjun di hadapan kami makin membesar pula. Warnanya tak lagi jernih. Sudah kecoklat-coklatan karena tercampur tanah. Lima menit berlalu. Air terjun makin melimpah ruah sampai-sampai kami terkena cipratannya. Semburan air terjun makin dahsyat hingga membasahi baju kami. Di tengah suasana panik bercampur takut, kami berkumpul saling berpegangan. Kami begitu menggigil. Rasa dingin menyerbu, memburu sekujur badan. Suasana seperti itu berlangsung cukup lama. Rasa cemas makin membayangi wajah kami. Pikiran kami berkecamuk, memikirkan berbagai kemungkinan. Kami terus berdoa. “Allah, lindungi kami,” doaku berkali-kali.

Alhamdulillah… hujan pun berhenti. Cuaca mulai kembali cerah. Hanya saja debit air terjun masih deras. Airnya mengalir ke sungai. Sungai pun menjadi deras. Untuk bisa pulang, kami harus melalui sungai itu. Padahal di situ tak ada jembatan. Sekarang tinggal satu masalah yang harus kami pikirkan, yaitu cara bisa melewati sungai dengan aman. Para pemuda bersatu padu mencari cara. Kebetulan di sekitar situ ada pipa yang tak terpakai. Maka, dipakailah pipa tersebut untuk menyeberang.

Antre untuk menyeberang


Beginilah kami melewati sungai. Kedua tangan berpegangan pada pipa agar badan kami tak terbawa arus sungai. Uh, dinginnya air sungai meresap ke pori-pori. Tubuh kami serasa kaku hingga harus melangkah pelan-pelan. Cekidot!

“Pelan-pelan aja Mba Uji!”

“Mau naik lewat mana? Kiri, 2 ribu. Kanan, 3 ribu,” 
kata Mas berkaus abu-abu sambil berkelakar :D


Tantangan melewati sungai sudah kami lewati. Salut deh untuk mas-mas yang telah menemukan ide seperti ini. Terkagum-kagum juga dengan upaya mereka dalam menolong kami menyeberang. Dua jempol dan senyum manis untuk mereka! :D

Sekarang saatnya pulang. Sebelum pulang, kami sempat menyerahkan sekotak pisang goreng yang telah dingin kepada mereka. Lumayanlah untuk mengganjal perut. Pasti mereka kelaparan, hehe… Sebenarnya tak sebanding sih dengan jerih payah mereka. Tapi kami tak bisa berbuat banyak untuk membalas kebaikan mereka. Semoga Allah membalas kebaikan mereka. Amin.

Para penyelamat berpose di depan Pos TNGHS *Siapa yang paling keren? :D

Perjalanan pulang


Lihat, di belakang sana kabut mulai turun!

Langit sore bergumpal awan, sekeliling mulai gelap


Suasana sawah dan kebun teh di sore hari


Berakhirlah petualangan kami. Sungguh, ini adalah sebuah pengalaman yang menakjubkan. The Real Adventure. Pengalaman ini akan kami kenang sepanjang masa untuk diceritakan pada anak cucu kelak :D.

Belajar Merangkai Kata

Rangkailah kata
Tuangkan makna
Ciptakan cerita
Sampaikan pada dunia

Mmm… Kali ini saya akan bercerita (semoga tak membuat matamu ngantuk :D). Dulu, ketika praktik mengajar di SMAN 6, saya diminta guru pamong untuk mengajarkan materi menulis puisi kepada siswa kelas X. Jujur sejujur-jujurnya dari hati yang paling dalam (hehe), itu materi yang menantang bagi saya. Seketika perasaan kurang PD muncul (was-was gitu deh). Alamak, saya tak pandai menulis puisi, macam mana pula mau mengajarkan anak orang? Mana pas ngajar bakalan diawasi guru pamong lagi! (oh, tolonglah ibu!) :D

Jadilah dua hari sebelum mengajar, saya sibuk buk buk melakukan persiapan. Mulai dari membuat silabus, RPP, media ajar yang menarik, sampai melalap (dan merujak :D) buku-buku yang berkaitan dengan puisi. Saya berusaha melakukan persiapan semaksimal mungkin karena ingin KBM berjalan sukses dan berkesan bagi siswa. Paling tidak, saya bisa mengubah imej dalam benak mereka bahwa menulis puisi itu tidak sulit, tapi begitu mudah dan menyenangkan.

Hari mengajar tiba. Tak urung jantung saya deg-degan (ya iyalah… itu tandanya saya masih hidup :D). Tapi sumpeh deh, jantung saya berdegup lebih kencang dan berdebar lebih keras sama seperti ketika ditatap pangeran tampan (hahaha). Biarpun begitu, saya mencoba bersikap tenang dan meyakinkan.

Setelah mengucapkan salam, doa, mendata kehadiran, dan mengondisikan siswa untuk belajar, saya perlihatkan setangkai mawar kepada mereka (harap jangan salah paham dulu sodara-sodara, saya bukan mau melakukan adegan romantis macam di film-film love kok, hehe). Tujuannya untuk merangsang otak mereka. Kemudian, saya minta mereka untuk mengungkapkan kata yang muncul di benaknya ketika melihat bunga itu. Kata-kata yang mereka ucapkan saya tulis di papan tulis, lalu saya rangkai menjadi larik-larik. Akhirnya, menjadi bait-bait. Maka, terciptalah sebuah puisi.


Mawar di tanganku
Betapa indah
Merah merona memesona
Seindah rupamu
Seelok parasmu

Mawar di tanganku
Betapa harum
Mewangi semerbak
Sewangi tubuhmu
Seharum namamu

Mawar di tanganku
Maukah kau terima?
Tanda kagumku pada-Nya
yang menciptakan sosokmu


“Apa yang ibu tulis di papan tulis ini, Anak-anak?” tanya saya basa-basi (haha).
Mereka serempak menjawab, “Puisiiiiiiiiiii…..”
“Betul sekali. Hari ini kita akan belajar menulis puisi,” ujar saya sambil tersenyum manis (hehe), “sekarang kalian lihat kan? menulis puisi itu mudah,” lanjut saya.

Para siswa hanya terbengong-bengong (entah takjub, entah kaget, atau entah mau protes tapi tak mungkin dan tak berani :D). Sementara, guru pamong tersenyum penuh arti (tatapannya seolah mengatakan, “pembukaan yang menarik!” haha PD banget saya ya? :D).

Dua puluh menit berikutnya, saya menjelaskan konsep dasar puisi kepada mereka. Tak ketinggalan, contoh puisi karya penyair terkenal pun saya siapkan. Bahkan, sudah saya tulis di kertas karton berukuran besar dan ditempel di papan tulis. Saya minta salah seorang dari mereka untuk membacakannya di depan kelas.

Tibalah saatnya sesi menulis puisi. Tema yang saya tawarkan bebas. Terserah mereka. Saya biarkan mereka menulis apa pun yang sedang dirasakan, dialami, dihadapi, atau ditemui. Jika mentok di dalam kelas, saya suruh mereka mencari ide di luar kelas. Saya pun menyiapkan gambar-gambar menarik kalau-kalau ada siswa yang tidak punya ide sama sekali.

Waktu terus bergerak tanpa bisa dilawan. Habislah jatah waktu yang saya berikan kepada mereka. Mereka mengumpulkan hasil karyanya. Saya perhatikan sekilas. Hmm… temanya khas ABG, tak jauh-jauh dari love, mulai dari cinta terpendam, cinta bersemi indah, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta segitiga, cinta jarak jauh, cinta dua dunia, putus cinta, cinta terhalang restu, sampai cinta-cintaan alias cinta monkey :D. Ah, ABG ABG! (hehe). Sebagian ada yang menceritakan ibu, sahabatnya, keindahan alam, dan kaum marjinal. Beberapa ada juga yang berkisah tentang impian, harapan, dan cita-cita yang hendak diwujudkannya.

Di antara sekian banyak puisi itu, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah puisi yang ditulis dengan huruf besar-besar. Ketika membaca isinya, saya ingin ngakak. Tapi segera sadar kalau anak-anak sedang memperhatikan. Bukan, saya bukan ingin menertawakan puisinya karena jelek. Sungguh, puisi itu beda dengan puisi-puisi yang lain. Amat kocak dan idenya kreatif (penasaran? baguslah :D).

Waktu yang tersisa amat terbatas. Tak memungkinkan semua anak membacakan puisinya hari itu. Maka, saya hanya menetapkan lima orang dulu yang akan maju. Sebelum mereka, saya duluan yang membaca puisi karya sendiri (teringat pesan dosen ketika perkuliahan bahwa guru harus memberi contoh yang baik, “Celakalah Anda, menyuruh siswa membuat ini itu tapi Anda tak melakukannya,” haha serem, takut kualat saya :D).

Kemudian, saya suruh anak yang menulis puisi kocak tadi untuk maju ke depan (“Aha, kena kamu, Nak!” teriak saya dalam hati, hehe). Anak cowok itu maju dengan langkah gagah. Dia berhasil membaca puisinya dengan baik. Tentu saja, dengan diiringi backing vocal “huuu...” teman-temannya pada bait awal dan suara “grrrrrrrr… gakgakgak” pada bait akhir :D. Setelah itu, saya persilakan dia menunjuk temannya untuk maju. Begitu seterusnya.

Inilah puisi kocak yang saya maksud. Tapi saya tak bisa berjanji akan membuatmu tertawa. Hanya satu hal, jika Anda tidak tertawa, berarti otak Anda sedang bermasalah (haha).

Bersinarlah untukku

Kau hadir dalam setiap mimpi indahku
Kau sinariku dengan cahaya terangmu
Kau hilangkan rasa takut dalam jiwaku
Kau bantu pencarianku yang tertunda

Aku tak tahu sampai kapan kau bertahan
Akan kuingat jasamu selalu
yang menjauhkanku dalam keterpurukan
Aku ‘kan selalu bersamamu

Philips,
Terus terang, terang terus
Sinari duniaku
Terangi malamku

Epilog: KBM hari itu berjalan lancar, aman, tertib, dan terkendali. Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana. Puisi mereka telah saya bukukan dan disimpan di perpustakaan sekolah.

Cinta-Nya, Cintaku, Cintamu


Cinta-Nya cerah cemerlang
Cinta-Nya curahkan cahaya
Cinta-Nya contohkan ceria

Canda, celoteh, cerita… cermin cintakah?
Cemburu, cemas, curiga…  citra cintakah?
Canggung, ceroboh, condong… ciri cintakah?
Cantik, cerdik, cocok… corak cintakah?

Cuaca
Cemara
Camar
Cempaka
Cakupan ciptaan cinta-Nya

Cinta-Nya ciptakan cakrawala cintaku cintamu
Cinta-Nya celah cintaku-cintamu

Cinta-Nya cegah cintaku celaka
Cinta-Nya cegah cintamu cedera

Curahan cinta-Nya coret cela cintaku
Curahan cinta-Nya cabut cacat cintamu

Cukup cinta-Nya
Cemari cintaku cintamu

Capai cinta-Nya
Cita-cita cintaku cintamu

Cuma cinta-Nya
Catatan cerita cintaku cintamu

Cijeruk, Juni 2010

Bila...



Bila bulan bersinar
Begitu bercahaya bumiku

Bila bintang bertaburan
Begitu berkilau bumiku

Bila bianglala berhiaskan
Begitu berwarna bumiku

Bila bunga bermekaran
Begitu beraroma bumiku

Bila bumi berhenti berputar
Bagaimanakah berlindung?
Bagaimanakah bertahan?
Bagaimanakah bernaung?

Bila bahasa berkait bangsa
Bagaimanakah berucap baik benar?

Bila belajar bukan beban
Betapa bergembira batinku

Bila berjuang butuh bantuan
Begitu bagus bagiku bagimu bersatu

Bila berkorban belum berhasil
Begitu baik bagiku bagimu bermuhasabah

Bila bersama bawa bahagia
Begitu berarti bagiku bagimu bersahabat

Bila bagiku bukan bagimu
Bagaimanakah bagiku berharap?


BP Bogor, Juni 2010

Ajari Aku



Arrahman Arrahim Alwadud
Agung asma-Mu alirkan aura abadi

Alam awan air
anugerah-Mu atas alinsan

Allah, ajari aku ayat2-Mu
Agar amukan amarahku aman

Allah, ajari aku aturan agama
Agar amanah-Mu aku alami

Aduhai, ada asa angan2
Ampuni alfaku Algofur
Angkat aku atas annar-Mu
Antarkan aku atas aljannah-Mu

Amin...

Al-Azhar, Juni 2010

Sepenggal Kisah Kita


Awal bertemu…
Ada ragu membelenggu
menghantam dinding kalbu
Satu tanya menyerbu
Bisakah aku jadi pelitamu?

Tak banyak yang kuberikan
Hanya seayat ajaran
Hanya setitik cahaya
Penerang hidupmu senantiasa

Seiring waktu berganti
Keraguan lenyap, mati
Cinta bersemi di hati
Dalam tatap terurai bukti

Kisah kita telah bergulir
Pertemuan kita ‘kan berakhir
Tapi, yakinlah kasih kita takkan sirna
Biarlah rindu menjelma

 
Special to my students
”Semoga impianmu tercapai”

Cinta, Oh! Cinta

 
Cinta adalah suatu topik yang tak terbatas. Itulah kalimat pendek yang saya temukan dari bacaan (maaf sumbernya lupa, hehe…). Setelah sedikit merenung (ah, sok pemikir banget sih :D), saya menyepakati kalimat tersebut. 

Cinta memang sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Obrolan seputar cinta tak akan ada habis-habisnya. Pembahasan tentang cinta selalu laku keras, laris manis bak roti donat Be-Pe (baca: Bintang Pelajar) :D.

Lihatlah! Dari zaman baheula (baca: dulu) sampai abad millennium (baca: sekarang), cinta telah menjadi tema langganan yang diangkat ke layar lebar, layar kaca, dan layar tancap. Semuanya mendongkrak sukses. Film-film menjadi box office. Sinetron dan drama berhasil merajai rating. 

Akhirnya, pasangan Romeo-Juliet, Rose-Jack (Titanic), Rahul-Anjeli (Kuch Kuch Hota Hai), Bella-Edward (Twilight), Han Ji Eun-Lee Young Jae (Full House), Dao Ming Se-Shan Chai (Meteor Garden), sampai pasangan Galih-Ratna (Gita Cinta dari SMA), Cinta-Rangga (AADC), Fahri-Aisha (AAC), dan Fitri-Farel (Cinta Fitri) tersohor ke seantero jagat raya (tapi kayaknya 4 pasangan terakhir cuma terkenal di negeri ini, hihi…).

Tak hanya itu, novel-novel pun, mulai dari novel picisan, novel remaja, sampai novel religi mengusung cinta. Lagu-lagu atau puisi pun tak ketinggalan. Hampir didominasi kisah cinta. Hasilnya, novel-novel diserbu sehingga meraih best seller. Lagu-lagu diburu sehingga meraih top hits. Puisi-puisi digandrungi (nah, kalo ini biasanya dicontek ketika mengungkapkan cinta pada pujaan hati, haha…).

Cinta itu apa? Rasanya sulit untuk mendefinisikannya. Tak mudah untuk memaknainya. Sepertinya cinta bukan untuk diartikan, melainkan untuk dirasakan (wekekekek…).

Orang bilang, ”Cinta adalah anugerah”. Perkataan itu tidak salah. Berbahagialah yang dihidupkan hatinya dengan cinta (ehm…). Cinta memang anugerah dari Tuhan yang bisa menggerakkan segala potensi seseorang untuk berkarya dan memiliki semangat hidup. Cintalah yang membuat hidup lebih hidup. Tak percaya? Buktikan sendiri! ^^
 
Dulu, para sahabat dari kalangan Muhajirin rela meninggalkan tanah air, harta benda, kaum kerabat, bahkan keluarganya sendiri demi memenuhi panggilan Allah dan Rasulnya. Kaum Ansar rela berbagi harta benda dan segala yang mereka miliki dengan kaum Muhajirin. Abu Talhah rela melindungi Rasulullah dari serbuan panah ketika Perang Uhud sehingga tangannya lumpuh. Handzalah berani meninggalkan istri yang baru dinikahinya pada malam pertama demi memenuhi seruan jihad. Seorang ayah rela bekerja keras membanting tulang demi istri dan anaknya. Seorang kakak rela berkorban waktu dan tenaga demi melindungi adiknya. Seorang istri rela melakukan apa pun untuk menyenangkan hati suaminya. Apa alasan mereka melakukan itu? Tentu saja karena cinta. Dahsyat bukan? Itulah hebatnya kekuatan cinta. ^_^

Bagaimana dengan realita yang berkembang di lingkungan masyarakat kita? Saya melihat generasi kita begitu cengeng. Mereka mudah lemah jika berurusan dengan cinta. Banyak tawuran, baik antarsiswa, antarmahasiswa, maupun antarpemuda hanya disebabkan saling berebut cinta. Tak sedikit yang mogok makan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan, sering diberitakan di media massa, ada yang bunuh diri karena broken heart. Banyak juga yang terjerat narkoba gara-gara dikhianati cinta. Yang lebih parah, ada yang rela melepas kesucian dengan alasan demi cinta (hiy…).

Menurut saya, pemahaman mereka tentang cinta amat kerdil. Mereka mengartikan cinta hanya sebatas perasaan yang muncul antarlawan jenis, kemudian dijadikan dalih untuk saling berbagi. Merajut cinta dengan cara yang salah. Tentu saja salah karena tak mengikuti rambu-rambu yang ditetapkan Sang Pemilik Cinta. Akibatnya, sekarang kita jarang menyaksikan remaja yang bahu membahu membangun cinta pada kebenaran, cinta Rasulullah, cinta semata-mata karena Allah.

Ah, andai mereka tahu… seharusnya cinta membawa kebaikan dan kebahagiaan. Harusnya cinta melahirkan epos (baca: energi positif) dalam kehidupan. Seharusnya cinta itu dilandasi karena Allah. Cinta karena Allah tidak akan menggiring pada jurang kemaksiatan. Cinta karena Allah tidak akan membuat seseorang berpikir sempit. Justru akan menjadikan seseorang berpikir lebih jauh ke depan, lebih matang, dan lebih dewasa.

Saya ingin memiliki cinta seperti sahabat Rasul dan orang-orang saleh. Perasaan cinta mereka kepada Penggenggam alam semesta tumbuh dengan subur. Mengakar demikian kuat. Perasaan cintanya itu ditujukan kepada Yang Maha Mencinta yang tak pernah putus cintanya, Yang Kekal cintanya. Dialah Allah Yang Maha Penyayang. Bagaimana dengan Anda? 

Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Wadud… Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mencinta, bimbinglah hatiku agar selalu tertuju pada-Mu. Jangan biarkan kecintaanku pada makhluk-Mu memalingkan aku dari-Mu. Amin…
Copyright 2009 SAHABAT HATI. All rights reserved.
Sponsored by: Website Templates | Premium Wordpress Themes | consumer products. Distributed by: blogger template.
Bloggerized by Miss Dothy